Sampai Allah Mempertemukan

Diah kurniawati Ade Tenu Kurnia
Chapter #3

Bab 3. Cowok Menyebalkan

“Dir.”

Dira yang sedang memasukkan beberapa dokumen ke dalam map tidak menoleh.

“Apa?”

“Berkas yang kemarin sudah dikirim?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Belum selesai.”

“Bukannya kemarin kamu bilang tinggal tanda tangan?”

“Iya.”

“Terus?”

“Orangnya belum tanda tangan.”

“Siapa?”

Dira akhirnya menoleh.

“Orang.”

“Ya iyalah orang.”

“Terus mau apa?”

“Namanya siapa?”

“Kenapa kamu kepo?”

“Biar aku tahu siapa yang bikin pekerjaan kamu tertunda.”

Dira kembali memasukkan kertas terakhir ke dalam map.

“Divisi sebelah.”

Sahabatnya langsung mengangkat alis.

“Oh.”

Dira menghentikan gerakannya.

“Oh kenapa?”

“Yang itu?”

“Yang mana?”

“Yang kalau ketemu kamu selalu ribut?”

Dira mendengus.

“Dia memang menyebalkan.”

“Berarti benar.”

“Benar apa?”

“Kamu bakal ribut lagi hari ini.”

Dira memasang wajah tidak percaya.

“Memangnya aku anak kecil?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Kalau sama dia, kalian berdua kayak anak kecil.”

Dira mengambil map.

“Sudah. Aku pergi.”

“Jangan lupa lampirannya.”

“Iya.”

“Yang warna biru.”

“Iya.”

“Bukan yang merah.”

Dira berhenti di depan meja sahabatnya.

“Aku tahu.”

“Cuma mengingatkan.”

“Kamu pikir aku pelupa?”

Sahabatnya tersenyum.

“Dua hari lalu kamu salah kirim dokumen.”

“Itu bukan salahku.”

“Terus?”

“Printer-nya yang salah.”

“Printer bisa salah kirim?”

Dira menatapnya.

“Bisa.”

“Logikanya?”

“Jangan banyak tanya.”

Sahabatnya tertawa.

Dira menggeleng sambil membawa map itu keluar.

Divisi sebelah tidak terlalu ramai.

Beberapa orang sibuk di depan komputer. Ada yang sedang berdiskusi, ada pula yang mondar-mandir membawa berkas.

Dira langsung menuju meja yang sudah sangat dikenalnya.

Kosong.

Ia melihat ke sekeliling.

“Ke mana sih orangnya?”

“Cari saya?”

Suara itu terdengar dari belakang.

Dira berbalik.

Cowok itu berdiri sambil membawa beberapa lembar kertas.

“Eh.”

“Kenapa?”

“Berkas.”

Ia mengulurkan map.

Cowok itu mengambilnya.

“Yang kemarin?”

“Iya.”

“Sudah lengkap?”

“Sudah.”

Ia membuka map tersebut.

Membolak-balik beberapa lembar.

Dira memperhatikan dengan tidak sabar.

“Kenapa?”

“Kurang satu.”

Dira langsung menghela napas.

“Apalagi?”

“Lampiran.”

“Ada.”

“Nggak ada.”

“Ada.”

Cowok itu mengangkat satu alis.

“Coba lihat.”

Dira mengambil map dari tangannya.

Ia membukanya.

Satu lembar.

Dua lembar.

Tiga lembar.

Ia terdiam.

Memang tidak ada.

Cowok itu menahan senyum.

Dira langsung menatapnya.

“Jangan senyum.”

“Saya nggak senyum.”

“Itu senyum.”

“Memang muka saya begini.”

Dira mendengus.

“Sebentar.”

Ia berbalik hendak pergi.

“Dira.”

Langkahnya berhenti.

“Apaan?”

“Lampirannya nanti kirim lewat email saja.”

Dira menoleh.

“Bisa?”

“Bisa.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?”

“Kan kamu belum tanya.”

Dira memutar mata.

“Nyebelin.”

Cowok itu tertawa kecil.

“Terima kasih.”

“Bukan pujian.”

“Saya tahu.”

Dira pergi sambil menggerutu.

Sepuluh menit kemudian, Dira kembali.

Lampiran sudah berada di tangannya.

Ia meletakkannya di meja cowok itu.

“Nih.”

Cowok itu mengambilnya.

“Sudah?”

“Sudah.”

“Yakin?”

Dira menatapnya tajam.

“Kalau kamu tanya sekali lagi, aku ambil lagi.”

Lihat selengkapnya