Samudra Harapan

diandiara1806
Chapter #1

BAB 1 Jerat Garis Batas

Angin timur berdesir liar, mengibas dedaunan pandan laut di tebing karang. Kael, pemuda Suku Pulau dengan otot kekar dan tatapan tajam, mengernyitkan dahi. Sudah tiga hari, warna laut di batas horizon sana makin gelap, bukan biru jernih seperti biasanya. Di sisinya, Jiro, prajurit setara yang lebih tua tiga tahun, menyikutnya.

"Ngelamun mulu lo, El. Mikirin apaan?" tanya Jiro, suaranya serak ditelan deru angin.

Kael menggeleng, matanya tak lepas dari ombak yang kini terlihat lebih tinggi, membentur karang di bawah mereka dengan desiran aneh. "Liat deh, Bang. Lautnya kok beda, ya? Gelombang hari ini... aneh."

Jiro menyipitkan mata, mengikuti arah pandang Kael. "Beda apanya? Udah biasa kali. Musim utara 'kan emang gini, kadang ombaknya ngamuk. Lo aja baru jaga di sini lagi, jadi kaget." Jiro tertawa kecil, meludahkan sisa kunyahan sirih ke tanah. "Paling juga bentar lagi anak-anak Suku Laut pada nongol, nyari kesempatan buat nyolong ikan lagi. Kalo udah gitu, baru dah tuh ombaknya jadi musuh."

Kael mendesah. "Bukan itu maksud gue, Bang. Ini bukan ombak biasa. Ada yang... lain." Dia menunjuk ke arah gumpalan awan hitam pekat yang mulai terlihat di kejauhan, membayangi langit. "Lihat awan itu. Gede banget. Belum pernah gue liat awan segelap itu."

"Halah, lebay lo!" sahut Diki, prajurit bertubuh gempal yang baru saja bergabung dengan mereka, membawa dua tombak di bahunya. "Mungkin itu tandanya bakal ada ikan gede nyangkut jaring kita nanti. Eh, serius nih, Kael, lo masih aja mikirin yang aneh-aneh. Mikirin cewek kek, apa kek. Jangan mikirin laut mulu, nanti jadi mermaid lo!" Diki terkekeh, disusul Jiro.

"Bukan masalah cewek, Bang," Kael mendengus. "Ini serius. Udah beberapa kali gue patroli, ikan di perairan kita makin dikit. Rumput laut juga pada kering. Bokap bilang, sumur di dekat hutan bakau juga airnya mulai asin. Kalo ini badai beneran, bisa gawat."

Jiro menyilangkan tangan di dada. "Gawat gimana? Kita ini Suku Pulau, Kael. Udah biasa sama badai. Kakek moyang kita udah ngajarin cara bertahan. Yang gawat itu kalo Suku Laut pada berani nyerang terumbu karang kita lagi. Baru itu namanya bahaya!"

"Makanya, Bang, mungkin ini bukan masalah Suku Laut atau Suku Pulau lagi," Kael mencoba menjelaskan, suaranya sedikit lebih rendah. "Kalo alamnya sendiri yang rusak, kita semua kena imbasnya."

"Wih, dengerin tuh si Kael, udah kayak tetua aja omongannya!" Diki menyahut, tapi kali ini nada suaranya sedikit lebih tegang. "Bener juga sih, gue juga ngerasa akhir-akhir ini cuaca makin random. Kadang panasnya nyengat banget, kadang hujan anginnya bikin genteng terbang."

Tiba-tiba, suara gemuruh dari laut makin memekakkan telinga. Awan hitam yang tadi terlihat jauh kini bergerak cepat, menelan sebagian langit dengan kegelapan yang menakutkan. Angin berubah menjadi deru badai, menggoyangkan pohon-pohon kelapa hingga hampir tumbang.

"Anjir! Itu apaan?!" teriak Jiro, matanya membelalak. "Badai! Badainya kok cepet banget sampenya!"

Ombak yang tadinya hanya "aneh" kini menjelma menjadi dinding air raksasa, menghantam tebing dengan kekuatan dahsyat, percikan airnya melambung tinggi hingga ke tempat mereka berdiri. Tanah bergetar.

"Kita harus balik ke desa! Kasih tau semua orang!" perintah Kael, tanpa menunggu komando dari Jiro yang biasanya lebih senior. Nalurinya berteriak bahaya. Ini bukan badai biasa. Ini jauh lebih buruk.

"Tapi... patroli kita belum selesai, El!" Jiro panik, melihat ombak yang makin menggila.

"Persetan sama patroli! Ini badai mau nelen pulau, Bang!" Kael sudah berlari duluan, mencari jalan turun dari tebing. Diki dan Jiro saling pandang, lalu buru-buru menyusul, wajah mereka pucat pasi.

*

Di tengah lautan yang mengamuk, perahu kayu kecil milik Luna terombang-ambing seperti daun. Luna, dengan rambut panjang terurai dan tatapan tenang meski dilingkupi bahaya, memegang kemudi dengan erat. Kapal kecil itu, "Penjelajah Asa", adalah satu-satunya harapan bagi delapan orang Suku Laut yang bersamanya. Mereka baru saja selesai berburu ikan di perairan yang makin hari makin menjauh dari pemukiman mereka.

"Luna! Kita harus ke mana?! Anginnya ngeri banget!" teriak Naya, wanita paruh baya dengan kulit kecoklatan, suaranya nyaris hilang ditelan badai. Ia memeluk erat anaknya yang ketakutan.

"Kita nggak bisa balik ke pesisir sekarang, Naya! Gelombang di sana jauh lebih tinggi!" Luna menjawab, suaranya tetap tegas. Ia berusaha mencari celah di antara ombak raksasa yang datang bertubi-tubi. "Kita harus cari perlindungan!"

"Perlindungan di mana?! Di laut begini?!" sahut Raka, pria muda Suku Laut yang sedang mengikat erat jaring-jaring mereka. "Pohon bakau di perbatasan pulau juga pasti udah pada rubuh ini!"

"Ada gua karang tersembunyi di dekat perbatasan utara! Gua itu pernah kakek ceritain, tempat perlindungan terbaik kalo ada badai kayak gini!" Luna membalas, matanya sibuk membaca arah ombak dan angin. "Tapi kita harus cepet, sebelum gua itu ketutup air!"

Lihat selengkapnya