Samudra Harapan

diandiara1806
Chapter #2

BAB 2: Pertemuan di Pusaran Badai

Air laut dingin menusuk tulang, menyeret Kael lebih dalam ke perut gua yang gelap. Dia berjuang melawan arus, tangannya meraih-raih. Samar-samar, di tengah bayangan dan suara gemuruh air, dia melihat Luna. Wanita Suku Laut itu tersangkut di antara celah karang, kepalanya terkulai. Dengan sekuat tenaga, Kael berenang ke arahnya, cengkramannya kuat saat ia berhasil menarik lengan Luna. Tubuh Luna terasa lemas, tak bereaksi. Kael mencari-cari tempat yang lebih tinggi, lebih kering di dalam gua yang mulai terendam. Akhirnya, ia menemukan sebuah gundukan batu yang sedikit menjorok, terhindar dari sapuan ombak. Dia menarik Luna ke sana, merebahkannya dengan hati-hati. Napasnya terengah-engah, paru-parunya seperti terbakar.

"Hei! Bangun!" Kael menepuk-nepuk pipi Luna, sedikit panik. Dia memeriksa denyut nadi. Lemah, tapi ada. Dia mengamati wajah Luna yang pucat, bibirnya membiru. "Lo denger gue, kan? Jangan mati dulu, anjir!"

Luna mengerang pelan, matanya berkedip, mencoba fokus. Tatapannya kosong sesaat, lalu perlahan menyadari keberadaan Kael. Seketika, rasa takut memenuhi matanya. Dia mencoba merangkak mundur, menjauh dari Kael.

"Tenang! Gue nggak bakal apa-apain lo!" Kael mengangkat tangannya, mencoba menenangkan. "Kita sama-sama kejebak di sini! Badainya gila!"

"Lo... lo Suku Pulau," bisik Luna, suaranya parau, penuh curiga. Dia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah.

"Iya, gue Suku Pulau! Terus kenapa?!" Kael mendengus. "Lo pikir gue mau ngapain lo di sini, hah? Mau ngajak gelut sekarang?! Udah mau mampus gini, masih aja mikir musuhan!"

Luna terbatuk lagi, air asin keluar dari mulutnya. "Kami... kami nyari... perlindungan."

"Ya gue tau! Semua orang juga nyari perlindungan!" Kael balas menyahut, sedikit kesal. "Ini bukan waktunya buat beda-bedain suku, Nona. Lo butuh pertolongan, gue nggak mungkin ngebiarin lo mati di depan mata gue begitu aja!"

"Tapi... Guntur..." Luna menatap Kael dengan tatapan yang mulai lebih jelas.

"Guntur udah gue bilangin buat nggak ngegoblokin diri," Kael berdecak. "Dia masih mikir ini kesempatan buat nyerang, padahal di luar sana udah kayak kiamat! Lo denger suara ombaknya kan? Mau keluar gimana caranya?!"

Luna mendengarkan. Suara gemuruh di luar gua memang mengerikan, seperti raungan monster laut yang marah. Air terus naik, membanjiri bagian bawah gua. Ia melirik Kael yang kini duduk bersandar di dinding karang, mengamati sekeliling.

"Gue... gue nggak ngerti kenapa lo nolongin gue," kata Luna pelan, tatapannya menyiratkan kebingungan sekaligus sedikit rasa terima kasih yang disembunyikan.

Kael meliriknya. "Emang harus ada alesan gitu buat nolongin orang sekarat? Mau lo Suku Laut, Suku Darat, Suku Langit kek, kalo udah nyawa yang dipertarohin, ya udah beda cerita," jawabnya, nadanya datar. "Lagian, lo satu-satunya yang masih idup di sini selain gue. Kalo lo mati, nanti gue ngomong sama siapa?"

Luna terdiam, menyerap perkataan Kael. Ada kejujuran dalam nada suaranya yang kasar. "Temen-temen gue... Naya... Raka..."

"Gue nggak tau," Kael menggelengkan kepala, wajahnya serius. "Pas gue nyemplung, cuma lo yang gue liat. Puing-puing perahu lo berserakan di mana-mana. Badainya bener-bener nggak kira-kira."

Lihat selengkapnya