Samudra Harapan

diandiara1806
Chapter #3

BAB 3: Kedalaman yang Memanggil

Kegelapan pekat langsung menyelimuti mereka berdua, total dan mutlak, seolah seluruh dunia di luar telah lenyap ditelan kehampaan. Suara ombak yang sebelumnya memekakkan telinga kini terdengar seperti raungan teredam dari kejauhan, terhalang bongkahan batu raksasa yang menutupi akses keluar. Udara lembab, dingin, dan berbau amis batu karang menusuk Indra penciuman. Kael, masih dalam posisi melindungi Luna, merasa jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan brutal.

"Anjir!" Kael berseru, suaranya menggaung hampa di ruang sempit. Ia meraba-raba dinding karang, mencari apapun yang bisa dilihat, tapi tak ada. "Bener-bener gelap gulita ini! Nggak ada celah sama sekali?"

Luna terdiam di sampingnya, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tapi juga karena syok. "Nggak... nggak ada. Bongkahan batu itu nutup semua. Kakek gue pernah bilang, kalo udah ketutup kayak gini... butuh mukjizat buat buka lagi."

"Mukjizat apaan? Gue lebih butuh senter, kali!" Kael mendengus frustrasi, tangannya terus meraba di sekitarnya, mencari sesuatu yang bisa digunakan. "Lo punya api atau obor gitu? Atau korek?"

"Suku Laut nggak biasa pake api di dalam perahu, Kael. Terlalu bahaya," Luna menjawab, suaranya sedikit bergetar. "Paling cuma lentera kecil, tapi udah pasti hanyut." Ia meraba tas kulitnya, mencari-cari. "Cuma ada herba-herba ini sama... ini." Sebuah benda keras, kecil, dan pipih menyentuh tangan Kael.

"Apaan nih?" Kael bertanya, mencoba merasakan bentuknya dalam kegelapan.

"Cangkang kerang khusus. Kakek bilang, ini bisa mancing bioluminescence dari plankton di air laut. Kalo digesek, kadang bisa nyala redup," Luna menjelaskan, nada suaranya sedikit mengandung harapan.

Kael segera mengambil cangkang itu, menggesekkannya berulang kali ke dinding karang. Beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tak ada apa-apa. Lalu, samar-samar, sebuah titik cahaya kehijauan muncul di ujung cangkang, berpendar redup, nyaris tak terlihat. Cukup untuk melihat siluet samar wajah Luna yang pucat di sampingnya, dan bentuk-bentuk karang yang aneh di sekeliling mereka.

"Wow! Gila! Bisa beneran nyala!" Kael sedikit terperangah. "Tapi, cahayanya segini doang? Buat liat jalan keluar sih mustahil."

"Setidaknya kita nggak bener-bener buta, Kael," Luna membalas, sedikit lega. "Kakek bilang, cahaya ini juga bisa buat nangkal roh-roh penunggu gua yang kadang usil."

"Roh-roh penunggu? Sekarang lo mau nakut-nakutin gue pake cerita hantu?" Kael menyahut, meskipun dalam hati, ia merasakan bulu kuduknya meremang. Sialan, ini bener-bener horor. Ia menyandarkan cangkang kerang itu di celah karang agar cahayanya sedikit menyebar. "Oke, sekarang kita udah nggak bener-bener gelap. Terus gimana? Lo bilang ada jalan rahasia?"

"Iya, di sana," Luna menunjuk ke arah celah yang tadi ia tunjukkan, yang kini hampir tidak terlihat dalam remang-remang cahaya kerang. "Tapi airnya harus surut total. Dan kondisi badai kayak gini... bisa berhari-hari airnya baru surut."

Kael melihat ke arah celah itu. Terlalu kecil, terlalu tinggi, dan air laut sudah menggenangi dasar gua. "Berhari-hari?! Kita mau makan apaan di sini? Minum?" Ia mulai panik lagi. "Lo tadi bawa perbekalan apa aja? Cuma herba doang?"

"Gue... gue nggak bawa apa-apa selain tas ini. Kami kan cuma niat cari ikan, bukan buat kabur berhari-hari," Luna menjawab, menunduk lesu. "Air tawar kita juga udah habis dari tadi."

Kael menghela napas kasar, meninju dinding karang pelan, kepalanya bersandar. "Sialan! Kenapa harus gini sih?!"

"Mungkin ini udah takdir," Luna bergumam, "Takdir buat kita berdua kejebak bareng."

"Takdir apaan? Takdir suruh mati kelaparan di sini?" Kael mendongak, menatapnya. "Lo nggak takut?"

Lihat selengkapnya