"Anjir! Kita mau dibawa ke mana ini?!" Kael teriak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru air, "Gelap banget, Lun! Lo bisa liat apa-apa?!"
Luna, meskipun panik, tetap mencoba fokus. "Nggak! Sama sekali nggak keliatan! Pegangan, Kael! Jangan sampe lepas!" Ia merasakan tubuh mereka berputar, airnya dingin minta ampun, menusuk sampai ke tulang. Ada tekanan aneh di telinga, seolah mereka sedang menyelam sangat dalam.
"Arusnya kenceng banget! Kayak mau ngehancurin badan gue!" Kael batuk, air asin masuk ke mulutnya. Tangan mereka masih saling menggenggam kuat. "Ini lorong apaan sih?! Kok bisa ada di dalem gua?!"
"Gue juga nggak ngerti! Kakek nggak pernah cerita ada lorong kayak gini!" Luna membalas, berusaha mempertahankan kesadaran. Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya. "Kael! Cangkang kerang itu! Coba gesek lagi! Mungkin cahayanya bisa nembus air!"
Kael buru-buru merogoh saku, mencari cangkang kerang yang tadi. Sulit sekali dalam kondisi terombang-ambing seperti ini. Tangannya gemetar saat berhasil meraihnya. Dengan satu tangan menggenggam Luna, tangan lainnya ia gesekkan cangkang itu ke dinding lorong karang, sekuat tenaga. Detik-detik berlalu dalam ketegangan.
Tiba-tiba, percikan cahaya kehijauan kembali muncul, redup tapi cukup untuk menerangi sekeliling mereka. Kael melihat lorong itu. Bukan sembarang lorong. Dindingnya dihiasi ukiran kuno yang aneh, seolah terbuat dari batu yang berbeda, dengan simbol-simbol yang familiar dari yang Luna tunjukkan sebelumnya. Mereka meluncur dengan kecepatan gila, melewati pilar-pilar batu yang seolah sengaja dipahat.
"Gila! Ini ukiran apaan lagi?!" Kael terkesiap. "Ini beneran buatan orang?"
"Ini... ini pasti lorong rahasia yang kakek maksud!" Luna berteriak, matanya membelalak. "Ukiran ini... ini simbol pelindung! Simbol Hati Laut yang kotor! Ini jalan menuju... sesuatu yang disembunyikan!"
Arus mulai melambat, perlahan-lahan. Tekanan di telinga berkurang. Kael dan Luna merasakan tubuh mereka terdorong ke atas, ke permukaan air yang tenang. Dengan napas terengah-engah, mereka berhasil menyembulkan kepala, menghirup udara yang terasa lembab dan berat.
Mereka berada di sebuah danau bawah tanah yang sangat luas. Di atas mereka, langit-langit gua menjulang tinggi, dihiasi kristal-kristal yang memancarkan cahaya biru redup, membuat pemandangan di sekitar mereka tampak sureal. Airnya jernih, tenang, tapi terasa dingin menusuk.
"Anjir... ini apaan lagi sih?!" Kael mendongak, melihat kristal-kristal itu. "Ini... ini tempat apa, Luna?"
"Gue nggak tau, Kael," Luna berbisik, matanya tak lepas dari ukiran-ukiran kuno di dinding danau, beberapa di antaranya tenggelam di bawah permukaan air. "Tapi ini... ini bukan cuma gua biasa. Ini kayak... kuil!"
Mereka berenang ke tepi danau, ke arah bebatuan yang lebih datar. Kael membantu Luna naik, tubuhnya masih menggigil. Mereka saling berpegangan, menatap sekeliling. Udara di sini terasa lebih bersih, tapi ada aroma aneh, seperti bau tanah basah bercampur mineral.
"Ini tempat apa sih? Kok bisa ada di bawah tanah gini?" Kael menyeka wajahnya. "Gila, gue kira udah mau mampus di lorong tadi."
Luna terdiam, menunjuk ke dinding danau. "Lihat ukiran itu, Kael. Lebih jelas di sini. Ini bukan cuma simbol pelindung. Ini... kayak cerita."
Mereka mendekat, cahayakerang dari tangan Kael menerangi ukiran kuno di dinding. Gambar-gambar itu menceritakan kisah. Ada Suku Laut dan Suku Pulau yang hidup berdampingan, lalu gambar bencana, laut yang menghitam, manusia yang sakit, dan kemudian... gambar seorang tokoh misterius yang memegang sesuatu seperti kristal, mengarahkan ke arah laut.