PROLOG
PADA SUATU KETIKA.
Namanya Sutarno Plato. Bukan nama samaran yang dipinjam dari novel murah, bukan pula nama panggung untuk mencuri perhatian di panggung sandiwara. Itu nama asli yang tertera di atas KTP lusuh—dokumen usang yang lebih sering tersimpan di dalam dompet kosong daripada berisi lembar rupiah.
Ayahnya, Pak Tarjo, dulu hanya seorang petugas perpustakaan di Fakultas Ilmu Budaya. Seorang lelaki sederhana yang hari-harinya dihabiskan untuk merapikan deretan rak buku filsafat. Namun, perlahan-lahan, rasa penasaran merontokkan rutinitas. Di sela-sela jam kerja, jemputannya mulai meraih satu buku, membuka halaman-halamannya, lalu tersesat dalam buku berikutnya. Dari Socrates sampai Sartre, dari Plato hingga Nietzsche. Semuanya dilahap tanpa jeda, meski ijazah formalnya tidak pernah lebih tinggi dari bangku sekolah menengah atas. Perpustakaan itu, pada akhirnya, diam-diam menjelma menjadi universitas pribadinya.
Maka, ketika anak pertamanya lahir di tengah kepulan bau obat antiseptik rumah sakit, Pak Tarjo sedang menggenggam buku The Republic karya Plato.
Seorang bidan melangkah keluar dari ruang bersalin dengan senyum lelah. "Pak... anaknya laki-laki."
Tanpa terburu-buru, Pak Tarjo menutup buku di tangannya, seolah baru saja menemukan konklusi atas sebuah premis panjang yang lama mengendap di kepalanya. "Kalau begitu," katanya mantap, "namanya Sutarno Plato."
Istrinya langsung mengernyit, cemas. "Mas, nanti dikira orang bule."
Pak Tarjo hanya tersenyum samar, membiarkan matanya menatap bayi merah yang menggeliat lemah di dalam gendongan. "Kita mungkin tidak punya warisan tanah atau harta untuk ditinggalkan," bisiknya pelan, "tetapi kita masih punya hak untuk mewariskan harapan."
Perdebatan kecil itu akhirnya mereda dalam sebuah titik kompromi. Anaknya tetap diberi nama Sutarno, agar lidah tetangga tidak keseleo melafalkannya, sementara Plato disematkan di belakang—bukan demi gaya atau agar terlihat paling pintar di kampung, melainkan sebagai doa yang dirawat diam-diam oleh seorang ayah.
Maka lahirlah Sutarno Plato. Sutarno karena darah Jawa yang mengalir di nadinya; Plato karena cakrawala yang ingin ditanamkan di kepalanya.
Sekarang, lelaki yang akrab disapa Pakde Plato oleh warga sekitar itu telah menginjak usia empat puluh tiga tahun. Hari-hari penjangnya dihabiskan sebagai buruh di Percetakan Pustaka Jaya—sebuah tempat usaha renta yang dulu dikenal garang menerbitkan buku-buku pemikiran bermutu, namun kini harus berdamai dengan kenyataan untuk sekadar bertahan hidup dengan mencetak karcis parkir, brosur warung sate, nota kontan, hingga kupon undian jalan sehat.
Sebuah ironi yang terasa begitu puitis. Ayahnya menghabiskan hidup di antara timbunan naskah dan jilid-jilid tebal para pemikir dunia. Sementara ia menghabiskan usianya di depan mesin cetak yang meludah ribuan karcis parkir setiap jamnya.
Padahal, Sutarno Plato bukan tanpa riwayat. Ia pernah mencicipi bangku kuliah di jurusan filsafat, barangkali sebagai bentuk takzim yang berlebihan pada nama yang dipikulnya sejak lahir. Namun, nasib punya alurnya sendiri. Kuliahnya harus kandas di semester empat ketika sang ayah wafat. Biaya hidup dan mimpi-mimpi akademik ikut terkubur bersama jenazah yang diantar ke liang lahat. Statusnya berubah menjadi mahasiswa putus kuliah, dan ijazah SMA tetap menjadi satu-satunya lembar kertas berbingkai yang ia miliki.