1 -- ANDAI TESLA SEORANG PENEMU, SIAPA YANG MENGHILANGKAN?
Pagi itu dimulai dengan cara yang sial.
Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sepuluh, tapi lantai semen dingin di teras rumah Pakde Plato sudah berhasil mencengkeram jempol kakinya tanpa perlawanan. Dia meraba-raba lantai dengan kaki kanannya, mencari-cari pasangan hidup setianya: sandal jepit biru pudar dengan ketebalan tumit yang sudah menipis sebelah.
Kosong.
Pakde Plato berdiri di depan teras rumahnya, jam lima pagi, menatap lantai semen yang retak-retak dengan wajah bingung. Kakinya telanjang. Dingin. Di lantai, seharusnya ada sandal jepitnya—sandal jepit biru pudar yang sudah menemaninya lima tahun. Sandal yang sol kanannya bolong, tapi masih enak dipakai. Sandal yang pas di kaki, yang sudah mengikuti kontur telapak kakinya.
Sekarang: hilang.
Pakde Plato membuka mata setengah mengantuk, lalu menengok ke bawah. Sandal jepitnya raib. Yang tersisa di undakan pintu cuma remah-remah debu dan kenangan.
Sial, batinnya sambil mengusap muka. Sialan benar. Sandal limaan belas ribu diembat juga. Mau dikoleksi buat apa sama Mas Joko? Emang dia mau bikin galeri seni sandal curian?
Tanpa alas kaki, dia melangkah keluar pagar dengan sebelah kaki berjinjit. Di rumah seberang, Mas Joko—tetangga berkaos polo ketat merek ternama yang baru saja turun dari mobil matic-nya—tampak berdiri di samping pagar dengan sepatu kulit mengkilap yang harganya setara dengan biaya hidup Pakde Plato selama sebulan.
"Cari apa, Tarno? Pagi-pagi udah nyeker aja. Kurang olahraga?" sapa Joko dengan nada sok akrab yang bikin gerah.
Pakde Plato mendengus, menatap sepatu kulit Joko lalu menatap kakinya yang berdebu. "Cari keadilan, Jok. Sandal jepit gue semalam hilang. Kalau lu lihat ada maling khilaf nyolong sandal jepit dekil, tolong balikin. Itu aset negara."
Joko tertawa ngakak, menepuk-nepuk perutnya yang buncit. "Ah, Tarno, Tarno! Sandal jepit ilang aja diributin. Beli lagi lah! Datang ke warung Madura, keluarin sepuluh ribu, selesai."
Selesai, batin Pakde Plato getir. Bagi lu sepuluh ribu itu cuma uang kembalian parkir. Bagi gue, itu anggaran bensin motor buat tiga hari.
Tapi alih-alih mendebat, dia cuma tersenyum tipis, menerima kenyataan bahwa dunia memang terbagi menjadi dua: orang yang bisa mengganti apa saja dengan uang, dan orang yang harus meratapi setiap barang yang hilang karena harganya terikat dengan keringat.
Tinggal sandal sebelah kiri. Yatim piatu. Kesepian.
Pakde Plato jongkok, memeriksa lantai. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda-tanda. Sandal sebelah kanan menguap begitu saja, seperti ditelan bumi.
"Siapa yang ngambil sandal gue?" gumamnya pelan, sambil mengangkat sandal sebelah kiri. Dia putar-putar sandal itu di tangan, menatapnya seperti detektif yang menatap barang bukti.
Pagi masih gelap. Langit berwarna ungu tua. Jalanan sepi. Hanya terdengar suara ayam berkokok dari rumah Pak RT. Pakde Plato duduk di kursi kayu tua di teras, sandal jepit yatim piatu di pangkuannya.
"Andai Tesla seorang penemu," katanya pada diri sendiri, "pertanyaannya: siapa yang menghilangkan?"
Dia terdiam sebentar. Lalu senyum.
"Oke, itu nggak filosofis. Itu cuma joke murahan."
Tapi otaknya sudah jalan. Dia ambil buku kecil dan pulpen dari kantong kaos oblongnya—kaos lusuh dengan tulisan "SABUN EKONOMI - Bersih Hemat Berkualitas"—lalu mulai menulis di bawah cahaya lampu teras yang redup:
"Sandal jepit yang hilang. Pertanyaan: apakah ini pencurian, ataukah sandal itu memilih untuk pergi?"
Dia coret dengan garis tebal.
"Terlalu absurd."
Nulis lagi:
"Kalau sandal jepit bisa bicara, apakah dia akan bilang: 'Aku diculik' atau 'Aku kabur karena tidak tahan dengan bau kakimu'?
Coret lagi, lebih keras.
"Kelewat absurd. Dan menyinggung diri sendiri."
Akhirnya dia tulis:
"Kehilangan sandal jepit: refleksi tentang kepemilikan dan kekosongan dalam hidup modern."
"Nah, ini baru filosofis," katanya sambil mengangguk puas.
Pukul setengah enam pagi, Kang Parmin lewat dengan sepeda onthel tuanya. Dia berhenti di depan rumah Pakde Plato, heran melihat tetangganya duduk di teras dengan kaki telanjang.
"Pagi, Tarno. Kok belum ke percetakan? Biasanya lu udah berangkat jam segini."
Pakde Plato mengangkat sandal sebelah kiri. "Sandal gue hilang sebelah, Kang. Yang kanan."
Kang Parmin turun dari sepeda, mendekat. Matanya menyipit, curiga. "Cuma hilang sebelah? Aneh."
"Makanya gue bingung. Kalau maling, kenapa nggak diambil dua-duanya sekalian? Ngapain cuma ambil sebelah?"
"Ya udah, pake yang lain aja."
"Gue cuma punya dua pasang, Kang. Satu buat kerja, satu buat santai. Yang buat santai ini yang ilang. Yang buat kerja udah sobek talinya, gue tambal pake kawat."
Kang Parmin menatap Pakde Plato dengan tatapan yang susah diartikan—antara kasihan dan heran. "Lu nggak mau beli baru?"
"Nanti aja kalau gajian. Sekarang masih tanggal dua puluh tiga. Gaji masih seminggu lagi."
"Lah, kenapa nggak pake sandal kerja aja? Kan sama aja."
Pakde Plato menatap Kang Parmin dengan serius, seperti guru yang akan menyampaikan pelajaran penting. "Kang, ada prinsip dalam hidup: sandal kerja ya buat kerja. Sandal santai ya buat santai. Kalau dicampur, artinya hidup kita nggak ada batasnya. Work-life balance rusak. Kerja terus, nggak ada waktu santai. Burnout, Kang."
Kang Parmin terdiam sebentar, mencerna. Lalu geleng-geleng kepala. "Lu mikir berat banget sih buat masalah sandal doang."
"Masalah kecil kalau dipikirkan secara filosofis bisa jadi besar, Kang. Ini bukan soal sandal. Ini soal... eksistensi. Identitas. Kepemilikan. Kekosongan."
Kang Parmin menghela napas panjang. "Udah sono, lapor Pak RT aja. Mungkin ada maling sandal."
"Maling sandal bolong? Serius?"
"Ya mungkin dia butuh."
Pakde Plato terdiam, matanya berbinar. "Hmm. Menarik. Berarti ini bukan pencurian, tapi redistribusi kebutuhan. Robin Hood versi sandal jepit."
Kang Parmin sudah menyerah. "Apaan sih lu. Gue mau buka warung dulu. Nanti sore lu mampir ya. Gue traktir kopi."
"Serius? Makasih, Kang!"
Kang Parmin naik sepeda, mengayuh perlahan. Sebelum belok, dia teriak: "Tarno! Lu tau nggak, kemarin Pak RT juga kehilangan ayam!"
Pakde Plato berdiri. "Ayam apa?"
"Ayam bangkok kesayangannya! Yang buat kontes! Mahal tuh! Pak RT marah-marah! Mau lapor polisi!"
"Serius?!"
"Iya! Nanti sore Pak RT mau minta tolong lu! Katanya lu paling jago mikir!"
Kang Parmin menghilang di tikungan. Pakde Plato berdiri di teras dengan sandal sebelah kiri di tangan.
"Sandal hilang. Ayam hilang," gumamnya. "Kebetulan? Atau ada pola?"
Dia menatap sandal itu lagi. "Atau... jangan-jangan ini konspirasi besar?"
Dia ketawa sendiri. "Nggak mungkin lah. Siapa yang bikin konspirasi soal sandal jepit dan ayam?"
Tapi perasaan tidak enak mulai menghinggapi.
-
Pagi itu, Pakde Plato terpaksa berangkat kerja dengan sandal kerja yang talinya sudah ditambal kawat. Setiap langkah, kawat itu menyentuh kulitnya. Tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi.
Di percetakan "Pustaka Jaya", suasana pagi seperti biasa. Mesin cetak berdengung monoton. Bau tinta menyengat. Pak Hendra—bos yang perutnya buncit dan selalu berkeringat—berdiri di depan pintu dengan wajah cemberut.
"Tarno! Telat lima menit!"
Pakde Plato melirik jam dinding. "Maaf, Pak. Motor mogok."
"Kemarin juga alasannya motor mogok! Tarno, waktu adalah uang! Lu telat lima menit, berarti perusahaan rugi produktivitas lima menit!"
Pakde Plato ingin bilang: *"Pak, kalau waktu adalah uang, berarti makin lama kita hidup, makin kaya dong? Kenapa Pak Hendra masih kerja kalau udah kaya waktu?"* Tapi dia tahan. Bukan waktunya debat filosofis dengan bos.
"Maaf, Pak. Nggak akan terulang lagi."
"Udah sono kerja. Gue potong gaji lu sepuluh ribu rupiah."
Pakde Plato masuk ke ruang produksi dengan perasaan campur aduk. Lima ribu rupiah itu bisa buat beli nasi uduk Bu Yayuk satu kali. Tapi sudahlah.
Joko—teman sekerjanya, bukan Mas Joko yang kaya itu—sedang menyiapkan mesin cetak untuk order hari ini: karcis parkir untuk mall baru.
"Tarno, lu kenapa pake sandal kampret gitu?" tanya Joko sambil nunjuk sandal dengan kawat tambal.
"Sandal gue yang bagus hilang."
"Hilang gimana?"
"Hilang sebelah. Yang kanan."
Joko mengerutkan kening. "Aneh. Gue kemarin denger Bu Yayuk juga kehilangan sandal. Juga sebelah."
Pakde Plato berhenti di tengah jalan menuju mesin cetak. "Serius?"
"Iya. Dia cerita pagi tadi pas gue beli sarapan. Sandal jepitnya yang pink. Hilang sebelah kanan juga."
"Kanan juga?"
"Iya. Aneh kan?"
Pikiran Pakde Plato mulai berputar cepat. Sandal hilang sebelah. Bukan dua-duanya. Sebelah kanan. Bukan kiri. Bu Yayuk. Dirinya sendiri. Mungkin ada lagi.
"Jok, lu kenal warga lain yang kehilangan sandal jepit belakangan ini?"
Joko mikir. "Hmm... Pak Maman kayaknya juga bilang sandalnya hilang. Gue lupa sebelah mana. Tapi dia bilang aneh, cuma hilang satu."
"Kapan?"
"Minggu lalu kayaknya."
Pakde Plato duduk di depan mesin cetak, tapi pikirannya tidak fokus. Ada pola. Sandal jepit hilang. Sebelah kanan. Beberapa warga. Ini bukan kebetulan.
"Tarno! Konsentrasi dong!" teriak Pak Hendra dari kejauhan.
"Iya, Pak!"
Tapi sepanjang hari itu, Pakde Plato terus memikirkan sandal-sandal yang hilang. Dan ayam Pak RT.
-
Sore hari, Pakde Plato langsung ke rumah Pak RT setelah pulang kerja. Rumah Pak RT di ujung gang, rumah sederhana dengan pagar kayu dan kandang ayam di samping.
Pak RT—lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan tubuh agak gempal—sedang duduk di teras dengan wajah murung. Di tangannya, sebatang rokok kretek yang asapnya mengepul ke udara sore.
"Pak RT, sore," sapa Pakde Plato.
Pak RT menoleh. Wajahnya langsung cerah sedikit. "Mas Tarno! Syukur lu dateng! Gue lagi pusing nih!"
"Gue denger dari Kang Parmin. Ayam Bapak hilang?"
"Iya! Ayam bangkok kesayangan gue! Namanya Jago Merah! Ayam juara kontes! Harganya lima juta, Mas! Lima juta! Sekarang hilang!"
Pakde Plato duduk di kursi teras. "Hilangnya kapan?"
"Kemarin malem. Gue tidur jam sepuluh. Pagi-pagi jam lima gue bangun, mau kasih makan. Eh, kandang kosong! Gembok masih terkunci! Tapi ayamnya nggak ada!"
"Kandang dikunci tapi ayam hilang?"
"Iya! Gue nggak ngerti! Gemboknya nggak rusak! Pintunya utuh! Tapi ayam hilang!"
Pakde Plato berdiri, menghampiri kandang ayam. Kandang kayu sederhana dengan gembok yang masih terpasang. Tidak ada jejak pembongkaran. Tidak ada lubang.
"Pak RT, ayam Bapak besar ya?"
"Iya. Gede banget. Jago petarung."