Sandal Jepit dan Kaos Oblong

Umar alattas
Chapter #5

2 -- APAKAH GRAVITASI BISA BERLAKU UNTUK UANG, KOK TIDAK ADA YANG JATUH YA!!

2 -- APAKAH GRAVITASI BISA BERLAKU UNTUK UANG, KOK TIDAK ADA YANG JATUH YA!!

 

Pakde Plato duduk di emperan warung Bu Yayuk, pagi-pagi buta, jam lima lewat. Langit masih gelap keunguan. Udara dingin menggigit kulit. Di tangannya, segenggam uang receh yang baru dia hitung untuk ketiga kalinya, berharap jumlahnya berubah dengan ajaib.

Tidak berubah.

Lima ribuan: dua lembar.

Seribuan: tiga lembar.

Lima ratusan: enam keping.

Seratusan: lima keping.

Total: tiga belas ribu lima ratus rupiah.

Itu semua yang tersisa sampai gajian. Masih lima hari lagi.

Pakde Plato menghela napas panjang, menatap uang receh di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara putus asa dan absurd.

"Gravitasi ke mana sih?" gumamnya pelan sambil menatap langit yang mulai terang.

Bu Yayuk yang sedang menyalakan kompor untuk memasak nasi uduk menoleh. "Ngomong apa, Mas Tarno?"

Pakde Plato memasukkan uang recehan kembali ke kantong celananya dengan gerakan lambat, dramatis. "Bu, saya lagi mikir. Newton bilang apa yang naik pasti turun. Gravitasi itu hukum alam universal, berlaku untuk semua benda di alam semesta."

"Terus?" Bu Yayuk mengaduk bumbu dengan wajah setengah tertarik, setengah bingung.

"Tapi kok uang nggak pernah jatuh ya ke kantong saya? Harga BBM naik, harga sembako naik, tarif parkir naik, biaya hidup naik terus... tapi gaji? Tetep di bawah! Bahkan kadang malah dipotong!"

Bu Yayuk tertawa sambil terus mengaduk. "Lah, emang ada uang terbang dari langit?"

"Itulah masalahnya, Bu! Kalau uang nggak terbang, kenapa nggak jatuh ke kantong saya? Masa gravitasi pilih kasih? Gravitasi buat orang kaya beda sama gravitasi buat orang miskin?"

Bu Yayuk menggelengkan kepala dengan senyum geli. "Dasar Mas Tarno. Mikir yang aneh-aneh dari pagi-pagi."

Pakde Plato menatap recehan di kantongnya lagi. Dia hitung kemarin beli apa aja: sandal jepit baru (lima belas ribu—hasil kembalian dari Mas Joko yang terpaksa beliin), bensin motor seminggu (dua puluh ribu), pulsa (sepuluh ribu), bayar listrik kemarin (tiga ratus lima puluh ribu—hampir bikin jantungan), makan sehari-hari (seratus ribu habis dalam seminggu).

Gaji bulan ini: dua juta dua ratus ribu (sudah dipotong).

Sekarang sisa: tiga belas ribu lima ratus.

"Bu, nasi uduk satu berapa?"

Bu Yayuk tanpa menoleh menjawab, "Sepuluh ribu. Kenapa?"

"Nggak, cuma nanya." Pakde Plato menghitung dalam kepala. Kalau dia beli nasi uduk sekarang, sisa uangnya cuma tiga ribu lima ratus. Lima hari lagi baru gajian. Tiga ribu lima ratus buat lima hari? Mustahil.

"Bu Yayuk, saya nggak makan dulu deh. Nanti aja siang."

Bu Yayuk berhenti mengaduk. Menoleh dengan tatapan curiga. "Mas Tarno, udah makan belum dari kemarin?"

"Udah kok, Bu. Kemarin malam makan mie instan."

"Mie instan doang?!"

"Plus telor."

"Mas Tarno..." Bu Yayuk menatapnya dengan tatapan yang membuat Pakde Plato merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. "Lu bokek ya?"

Pakde Plato tersenyum malu. "Sedikit."

"Sedikit berapa?"

"Ya... gini deh Bu." Pakde Plato tunjukkan recehan di tangannya. "Ini semua harta saya sampai gajian."

Bu Yayuk melotot. "Cuma segitu?! Mas Tarno, gajian masih kapan?!"

"Lima hari lagi."

"Ya ampun!" Bu Yayuk langsung ambil piring, nyendok nasi uduk dengan lauk lengkap—tempe goreng, tahu goreng, telur dadar, dan sedikit ayam suwir. Dikasih ke Pakde Plato. "Ini, makan. Nggak usah bayar."

Pakde Plato mundur, menggeleng. "Bu, saya nggak mau hutang. Prinsip saya—"

"Prinsip-prinsip gimana, yang penting perut kenyang dulu! Nanti pingsan di jalan gimana?! Makan sono!"

"Tapi Bu—"

"Udah! Nggak usah banyak bacot! Kalau lu nggak mau dianggap gratis, ya bantuin saya anterin jualan nanti. Atau beresin gerobak. Barter jasa. Gimana?"

Pakde Plato terdiam. Dia menatap piring nasi uduk yang mengepul itu. Wangi. Menggoda. Perutnya berbunyi—dia sadar dia belum makan yang bener sejak kemarin siang. "Kalau begitu... saya bantuin Bu Yayuk angkat-angkat barang dan anterin jualan pagi ini. Deal?"

Bu Yayuk tersenyum puas. "Deal. Sekarang makan dulu."

Pakde Plato makan dengan perasaan lega bercampur malu.

Nasi uduk Bu Yayuk selalu enak. Bumbu meresap sempurna. Tempe goreng renyah. Ini mungkin makanan ternikmat minggu ini.

Sambil makan, dia mikir lagi tentang gravitasi dan uang.

"Kenapa uang selalu naik ke atas? Ke orang yang sudah punya banyak? Kenapa nggak turun ke bawah, ke orang yang butuh?"

"Atau jangan-jangan... uang punya anti-gravitasi khusus untuk orang miskin?"

Dia nyaris tertawa sendiri, tapi nahan karena lagi ngunyah.

Pagi itu, di percetakan, Pak Hendra mengumpulkan semua karyawan di ruang tengah. Wajahnya serius. Lebih serius dari biasanya.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu," Pak Hendra mulai dengan nada formal yang jarang dia pakai. "Saya harus jujur. Percetakan ini... lagi susah."

Semua karyawan terdiam. Suasana langsung tegang.

"Orderan turun drastis. Orang sekarang lebih suka digital. Undangan digital, poster digital, brosur digital. Percetakan fisik mulai ditinggalkan. Bulan ini, omset kita turun empat puluh persen dari bulan lalu."

Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik.

"Jadi..." Pak Hendra menghela napas berat. "Mulai bulan depan, saya terpaksa potong gaji semua karyawan. Sepuluh persen."

Lihat selengkapnya