Sandal Jepit dan Kaos Oblong

Umar alattas
Chapter #6

3 - KALAU SOCRATES BILANG 'KENALI DIRIMU', KENAPA KTP MASIH DIPERLUKAN?

3 - KALAU SOCRATES BILANG 'KENALI DIRIMU', KENAPA KTP MASIH DIPERLUKAN?

 

Pakde Plato berdiri di loket administrasi kelurahan dengan wajah yang sudah tidak sabar lagi. Ini sudah jam kesembilan pagi. Dia datang jam tujuh. Sekarang sudah dua jam. Antrian baru bergerak... tiga orang.

Di depannya masih ada tujuh orang. Di belakangnya ada lima orang yang juga terlihat bosan, lelah, dan mulai kesal.

Semua datang untuk satu hal yang sama: ‘perpanjang KTP’.

Pakde Plato menatap nomor antrian di tangannya: ‘47’. Di layar LCD yang kedip-kedip, tertulis: ‘Nomor 40 - Loket 1’.

"Lama banget," keluh ibu-ibu di belakang Pakde Plato. Ibu-ibu pakai jilbab pink, bawa tas belanjaan besar, wajah sudah gerah.

"Iya, Bu," sahut Pakde Plato sambil geleng-geleng kepala. "Ini namanya e-KTP. E singkatan dari... apa ya? Ekstra lama? Ekstra lambat? Ekstra bikin kesel?"

Ibu-ibu itu ketawa. "Bener juga ya, Mas! Katanya e-KTP biar cepat. Eh, malah lama!"

Di depan loket, seorang bapak-bapak sedang ngomong dengan petugas—perempuan muda berkacamata tebal yang wajahnya sudah menunjukkan tanda-tanda lelah melayani ratusan orang setiap hari.

"Bapak, fotokopi KTP lama mana?" tanya petugas dengan nada datar.

"Ini, Bu," jawab bapak itu sambil menyerahkan berkas.

"Fotokopi Kartu Keluarga?"

"Ini."

"Fotokopi akta lahir?"

Bapak itu melongo. "Lho, bukannya nggak perlu?"

"Perlu, Pak. Aturan baru."

"Aduh, saya nggak bawa..."

"Ya udah, Bapak pulang dulu. Fotokopi dulu. Nanti balik lagi."

Bapak itu keluar dengan wajah kesal, membanting pintu kaca kelurahan sedikit keras. Antrian bergerak maju satu orang.

Pakde Plato menggelengkan kepala pelan. "Kenali dirimu, katanya Socrates. Tapi tanpa fotokopi, dirimu nggak dikenal negara."

Ibu-ibu di belakangnya mendengar. "Mas ngomong apa?"

"Nggak, Bu. Cuma ngomong sendiri. Kebiasaan buruk orang yang terlalu banyak mikir."

"Mas kerja apa kok bisa santai ngantri begini? Nggak masuk kantor?"

"Saya buruh percetakan, Bu. Tadi ijin sebentar ke bos. Katanya cuma sejam, tapi ini udah dua jam lebih..."

"Wah, bos Mas nggak marah nanti?"

Pakde Plato tersenyum pahit. "Semoga nggak."

Satu jam kemudian—sudah jam sepuluh—akhirnya giliran Pakde Plato. Dia duduk di depan loket dengan perasaan lega bercampur waspada. Dia sudah sering dengar cerita: kadang ada berkas yang kurang, kadang ada aturan baru yang tiba-tiba muncul, kadang harus balik lagi besok.

"Nama lengkap?" tanya petugas tanpa menatap Pakde Plato, matanya fokus ke layar komputer.

"Sutarno Plato."

Petugas berhenti mengetik. Mengangkat kepala. Menatap Pakde Plato dengan tatapan... bingung. "Plato?"

"Iya, Bu. P-L-A-T-O. Plato."

"Kok... aneh?"

Pakde Plato sudah terbiasa dengan reaksi ini. Setiap kali harus sebutkan nama lengkap, orang pasti komentar. "Ayah saya yang kasih, Bu. Terinspirasi dari filsuf Yunani. Plato. Yang nulis Republic."

Petugas menatapnya dengan tatapan yang mengatakan: *saya tidak peduli tentang filsuf Yunani, saya cuma mau selesaiin kerjaan ini*.

"Oke. Tempat tanggal lahir?"

"Yogyakarta, 12 Maret 1982."

"Pekerjaan?"

"Buruh percetakan."

"Alamat?"

"Jalan Mawar nomor 27, RT 03, RW 05, Kelurahan Sekar Ayu."

Petugas mengetik dengan lambat. Sangat lambat. Pakde Plato melirik jam dinding: jam sepuluh lewat lima belas menit. Dia harus balik ke percetakan sebelum jam sebelas. Pak Hendra pasti sudah marah.

Lima menit berlalu. Petugas masih mengetik.

Pakde Plato mulai gelisah. "Socrates bilang: kenali dirimu,"pikirnya. "Tapi di sini, diri kita cuma jadi angka dan huruf di komputer. Sutarno Plato, NIK 3374XXXXXXX, RT 03, RW 05. Apakah itu 'diri' yang dimaksud Socrates? Apakah identitas kita cuma data?"

"Mas?" petugas memanggil.

Pakde Plato tersadar dari lamunan. "Iya, Bu?"

"Fotonya kurang jelas. Bisa foto ulang nggak?"

"Bukannya kemarin saya udah foto waktu bikin e-KTP?"

"Iya, tapi datanya hilang. Servernya error."

Pakde Plato menahan napas panjang. Menghitung sampai lima dalam hati. "Oke, Bu. Foto ulang."

"Ke ruang foto. Di sebelah kiri."

Di ruang foto—ruangan sempit dengan backdrop putih kusam dan kamera digital yang terlihat sudah uzur—Pakde Plato berdiri tegak menghadap kamera. Fotografer—bapak-bapak berkumis dengan rambut klimis—mengatur posisi dengan gerakan tangan yang terlalu dramatis.

"Mas, berdiri tegak. Jangan senyum. Muka datar aja. Kayak foto tahanan."

Pakde Plato menahan tawa. "Kayak foto tahanan?"

"Ya kan buat KTP. Harus serius. Nggak boleh senyum."

"Kenapa nggak boleh senyum? Bukannya identitas kita ya seperti apa adanya kita? Kalau saya orangnya suka senyum, kenapa foto KTP harus serius?"

Fotografer menatap Pakde Plato dengan tatapan: tolong jangan mulai debat filosofis di sini, saya cuma mau cepet selesai.

"Ya udah, senyum tipis aja. Jangan lebar-lebar. Kayak Mona Lisa."

"Serius? Mona Lisa?"

"Ya, gitu lah. Senyum misterius. Udah, udah, diem."

Klik.

"Oke, selesai. Tunggu di luar. Nanti dipanggil lagi."

Lihat selengkapnya