Sandal Jepit dan Kaos Oblong

Umar alattas
Chapter #7

4 - JIKA WAKTU ADALAH UANG, KENAPA JAM DINDING TIDAK BISA DITUKAR DI ATM?

4 - JIKA WAKTU ADALAH UANG, KENAPA JAM DINDING TIDAK BISA DITUKAR DI ATM?

 

Pakde Plato menatap jam dinding di ruang tengah rumahnya dengan tatapan kosong. Jam tua warisan kakek. Kayu jati. Angka Romawi. Jarum pendek menunjuk angka tujuh. Jarum panjang menunjuk angka empat.

Pukul 07.20 pagi.

Dia terlambat dua puluh menit.

"Sial," gumamnya sambil buru-buru pakai kaos oblong—yang ini bertuliskan "FESTIVAL WAYANG KULIT 2019"—dan menyambar sandal jepit. Motor bebek tuanya mogok tadi pagi. Harus didorong lima puluh meter dulu baru mau nyala. Sekarang dia harus ngebut ke percetakan atau Pak Hendra bakal marah lagi.

Dan kalau Pak Hendra marah lagi, artinya... gaji dipotong lagi.

Di tengah kepanikan, tiba-tiba Pakde Plato berhenti. Menatap jam dinding lagi.

"Waktu adalah uang," katanya pelan sambil masih terengah-engah dari dorong motor tadi. "Kalau waktu adalah uang... kenapa jam dinding nggak bisa ditukar di ATM ya?"

Dia terdiam sebentar.

Lalu ketawa sendiri—ketawa pendek, absurd, seperti orang yang mulai kehilangan akal sehat.

"Pertanyaan bodoh. Tapi... menarik."

Dia berlari keluar, melompat ke motor, ngebut dengan kecepatan yang mungkin melanggar batas kewajaran untuk motor bebek tua tahun 2008.

-

Sampai di percetakan, Pakde Plato langsung disambut tatapan tajam Pak Hendra yang sudah berdiri di depan pintu dengan tangan dilipat di dada—pose yang selalu berarti masalah.

"TARNO! TELAT LAGI!"

Pakde Plato turun dari motor dengan wajah bersalah. "Maaf, Pak. Motor mogok. Harus didorong dulu."

"Motor mogok terus! Kemarin telat alasannya motor mogok! Dua hari lalu ngurus KTP! Sekarang motor mogok lagi! Lu kira gue percaya?!"

"Beneran, Pak. Motor gue emang udah tua. Sering rewel."

Pak Hendra melangkah mendekat, jari telunjuknya menunjuk ke wajah Pakde Plato. "Tarno, lu tau nggak? WAKTU ADALAH UANG! Lu telat dua puluh menit, artinya perusahaan rugi produktivitas dua puluh menit! Itu setara dengan... dengan..."

Pak Hendra menghitung di udara dengan jari, mulutnya komat-kamit.

"...dengan dua puluh menit upah lu! Yang artinya... tiga puluh ribu rupiah!"

Pakde Plato ingin bilang: *"Pak, kalau waktu adalah uang, berarti makin lama kita hidup, makin kaya dong? Bapak udah lima puluh tahun hidup, berarti punya lima puluh tahun uang. Kenapa masih kerja?"*

Tapi dia tahan. Bukan waktunya debat filosofis.

"Maaf, Pak. Nggak akan terulang lagi."

"Udah! Gaji lu gue potong tiga puluh ribu! Dan lu harus lembur hari ini sampe jam delapan malem! Gratis! Buat ganti rugi waktu yang lu buang!"

Pakde Plato mengangguk pasrah. Tiga puluh ribu lagi. Ditambah potongan kemarin lima puluh ribu. Berarti bulan ini gajinya tinggal... satu juta delapan ratus dua puluh ribu.

Dia masuk ke ruang produksi dengan langkah berat. Joko sudah ada di sana, menyiapkan mesin cetak.

"Tarno, gue denger Pak Hendra teriak-teriak lagi. Lu kena potong gaji lagi?"

"Iya. Tiga puluh ribu. Plus harus lembur sampe jam delapan malem. Gratis."

"Aduh... lu kok sial banget sih minggu ini?"

"Entahlah. Mungkin karma."

"Karma apaan? Lu kan orang baik."

Pakde Plato tersenyum pahit. "Mungkin di kehidupan lampau gue jahat."

Mereka bekerja dalam diam. Mesin cetak berdengung keras, mencetak ribuan lembar brosur untuk grand opening supermarket baru.

-

Jam istirahat siang. Pakde Plato duduk sendirian di kantin dengan bekal nasi bungkus yang dia bawa dari rumah—nasi putih, tempe goreng, dan sambel. Sederhana. Murah. Tapi cukup.

Joko duduk di sebelahnya dengan nasi bungkus juga.

"Jok, lu pernah denger kan, 'waktu adalah uang'?"

Joko mengunyah tempe sambil mengangguk. "Pernah. Kenapa?"

"Kalau waktu adalah uang, berarti makin lama kita hidup, makin kaya dong?"

Joko berhenti mengunyah. Mikir. "Ya... nggak gitu juga kali."

"Tapi kalau waktu = uang, harusnya begitu kan? Gue udah hidup empat puluh tiga tahun. Berarti gue punya empat puluh tiga tahun uang. Tapi kok gue masih miskin?"

Joko ketawa. "Lu bener-bener aneh deh, Tarno. Masa diambil literal?"

"Serius, Jok. Kalau waktu adalah uang, kenapa jam dinding nggak bisa ditukar di ATM? Gue bawa jam dinding ke bank, gue bilang: 'Pak, ini jam saya. Tukar dong jadi uang.'"

Joko makin ketawa. "Gila lu! Bank nggak nerima jam dinding!"

"Nah, itu bukti. Waktu BUKAN uang. Waktu ya waktu. Uang ya uang. Beda."

Joko menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Ya emang metafora, Tarno. Maksudnya, jangan buang-buang waktu. Waktu itu berharga."

"Tapi kan tetep aneh. Kalau waktu adalah uang, berarti orang pensiun itu paling kaya dong? Mereka punya banyak waktu luang. Tapi kenyataannya? Banyak pensiunan yang miskin."

Joko terdiam. "Hmm. Bener juga ya."

"Atau... mungkin orang kaya itu sebenernya miskin waktu. Mereka sibuk terus. Meeting terus. Nggak ada waktu buat keluarga. Jadi sebenernya... orang miskin kayak gue lebih kaya waktu daripada mereka."

Joko menatap Pakde Plato dengan tatapan kagum sekaligus bingung. "Lu bisa aja bikin yang absurd jadi masuk akal."

"Atau bikin yang masuk akal jadi absurd. Tergantung sudut pandang."

-

Sore hari, setelah jam kerja normal selesai—jam lima—karyawan lain pada pulang. Pakde Plato harus lembur sendirian sampai jam delapan. Pak Hendra sudah pulang duluan, meninggalkan order yang harus diselesaikan: cetak brosur seribu lembar, lipat, rapikan, masukin kardus.

Pakde Plato bekerja sendirian di ruang produksi yang sepi. Mesin cetak berdengung. Cahaya lampu neon berkedip-kedip. Dia merasa seperti robot yang diprogram untuk bekerja tanpa henti.

Lihat selengkapnya