5 - DIOGENES CARI ORANG JUJUR PAKAI LENTERA, KENAPA NGGAK PAKAI GOOGLE AJA?
Pakde Plato duduk di warung Kang Parmin sambil scroll-scroll HP jadul-nya. Layar retak di pojok kanan bawah—bekas jatuh minggu lalu—tapi masih bisa dipake. Dia lagi baca berita online, ngabisin kuota murah yang baru dia isi tadi pagi: lima ribu rupiah untuk 1GB yang berlaku tiga hari.
"Korupsi lagi. Korupsi lagi. Korupsi lagi," gumamnya sambil scroll dengan jari yang mulai lelah. "Kok nggak ada berita orang jujur sih?"
Kang Parmin yang lagi nyeduh kopi untuk pelanggan lain melirik sebentar. "Emang orang jujur itu berita? Kalau orang jujur jadi berita, berarti orang jujur langka."
Pakde Plato berhenti scroll. Menatap Kang Parmin dengan tatapan kagum. "Bener juga, Kang. Kalau orang jujur biasa aja, nggak akan jadi berita. Yang jadi berita justru karena... langka."
"Nah."
Pakde Plato kembali scroll. Berita korupsi pejabat. Berita pencurian di minimarket. Berita penipuan online. Berita... semua tentang orang-orang yang nggak jujur.
"Kang, gue jadi inget cerita Diogenes."
"Siapa itu?"
"Filsuf Yunani. Dia hidup di tong—secara literal, dia tinggal di tong besar kayak tempat sampah gede. Dia punya cerita terkenal: dia keliling kota bawa lentera, nyari orang jujur. Siang bolong, dia jalan-jalan sambil bawa lentera menyala."
Kang Parmin berhenti nyeduh, tertarik. "Terus ketemu?"
"Nggak."
Kang Parmin ketawa. "Ya udah berarti nggak ada orang jujur."
"Atau... mungkin dia nyarinya salah tempat."
"Maksud lu?"
Pakde Plato mengangkat HP-nya. "Diogenes nyari orang jujur pakai lentera di zaman Yunani kuno. Sekarang kan udah modern, Kang. Harusnya dia pakai Google aja. Ketik: 'orang jujur terdekat'. Pasti langsung ketemu."
Kang Parmin geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. "Lu kira Google Maps? Ada pin 'Orang Jujur' gitu?"
"Kenapa nggak? Kan ada 'rumah makan terdekat', ada 'toilet terdekat', kenapa nggak ada 'orang jujur terdekat'?"
Kang Parmin ketawa sambil mengusap wajahnya. "Tarno, kejujuran nggak bisa di-GPS."
"Kenapa nggak? Masa Google nggak bisa tracking kejujuran? Padahal mereka bisa tracking lokasi, kebiasaan belanja, bahkan prediksi mau ke mana kita. Masa kejujuran nggak bisa?"
"Ya nggak bisa lah! Kejujuran itu ada di hati, bukan di GPS!"
Pakde Plato senyum lebar. "Ya juga sih. Tapi lucu kan bayanginnya? Diogenes zaman sekarang jalan-jalan sambil bawa HP, buka Google Maps, cari 'orang jujur', eh malah ketemu iklan 'Konsultan Hukum - Urus Masalah Anda dengan Jujur dan Profesional'."
Kang Parmin tertawa keras. "Gila lu!"
-
Siang itu, di percetakan, ada kejadian. Pak Hendra kehilangan uang di laci mejanya. Lima ratus ribu rupiah. Uang cash yang dia simpan untuk bayar supplier kertas besok.
Hilang.
Pak Hendra keluar dari ruangannya dengan wajah merah padam. Dia kumpulin semua karyawan—Pakde Plato, Joko, Pak Maman, dan dua karyawan lain—di ruang tengah.
"SIAPA YANG AMBIL UANG GUE?!" teriaknya dengan suara yang bikin semua orang langsung diam tegang.
Semua karyawan saling pandang. Nggak ada yang ngaku.
"GUE TARUH LIMA RATUS RIBU DI LACI PAGI TADI! SEKARANG HILANG! PASTI ADA YANG NGAMBIL!"
Joko berbisik ke Pakde Plato, "Tarno, gue nggak ngambil. Lu juga kan nggak ngambil?"
"Iya, gue nggak ngambil," bisik Pakde Plato balik.
"Terus siapa?"
"Entahlah."
Pak Hendra masih marah-marah, mukanya makin merah. "KALAU NGGAK ADA YANG NGAKU, GUE LAPOR POLISI! GUE PERIKSA SATU-SATU! GELEDAH TAS KALIAN SEMUA!"
Semua protes. "Lah, kok gitu?!"
"IYA! TANGGUNG RENTENG! KALAU ADA YANG MALING, BERARTI KALIAN SEMUA IKUT TANGGUNG JAWAB KARENA NGGAK JAGA BARANG GUE!"
Pakde Plato angkat tangan. "Pak Hendra, boleh saya ngomong?"
"APA?!"
"Bapak yakin uangnya hilang dicuri?"
"YA IYALAH! MASA HILANG SENDIRI?!"
"Bapak udah cek di tempat lain?"
"UDAH! NGGAK ADA!"
"Bapak yakin naruh di laci?"
Pak Hendra terdiam sebentar. Wajahnya masih merah, tapi mulai ragu. "Ya... kayaknya iya."
"Kayaknya? Atau yakin?"
"...gue yakin sih. Gue inget masukin ke laci pagi tadi."
Pakde Plato berdiri. "Pak Hendra, boleh saya periksa ruangan Bapak?"
"MAU NGAPAIN?!"
"Mungkin uangnya keselip. Atau jatuh. Atau... ada di tempat lain yang Bapak lupa."
Pak Hendra masih kesal tapi akhirnya mengangguk. "Ya udah. Tapi kalau nggak ketemu, tetap gue lapor polisi!"
-
Di ruangan Pak Hendra, Pakde Plato memeriksa meja kerja dengan teliti. Laci terbuka. Kosong—cuma ada pulpen, kalkulator, nota-nota lama. Dia periksa di bawah meja. Nggak ada. Di belakang meja. Nggak ada.
Lalu dia lihat tumpukan kertas di sudut meja. Kertas-kertas order, invoice, dokumen-dokumen yang menumpuk tinggi.
"Pak, boleh saya angkat tumpukan kertas ini?"
"Ya udah, angkat!"
Pakde Plato mengangkat tumpukan kertas itu dengan hati-hati.
Dan di bawahnya... ada amplop coklat.
Pak Hendra melongo. "Itu... itu amplop gue!"
Pakde Plato buka amplop. Di dalamnya: lima ratus ribu rupiah. Lengkap.
Pak Hendra meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Wajahnya berubah dari merah marah jadi merah malu.
"Jadi... nggak hilang dicuri, Pak?" tanya Pakde Plato dengan senyum tipis.