6 - KALAU SEMUA JALAN MENUJU ROMA, APAKAH SAYA TERSESAT ATAU SUDAH SAMPAI?
Pakde Plato nyasar.
Bukan nyasar dalam artian kehilangan arah fisik—motornya masih jalan normal, jalanannya jelas, dan dia tau harus belok ke mana. Tapi entah kenapa, pagi ini dia merasa... tersesat.
Tersesat secara eksistensial.
Dia berhenti di pinggir jalan, mematikan motor, duduk di atas motor sambil menatap jalan raya yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah terburu-buru. Motor, mobil, angkot, truk, semua kebut-kebutan ke arah yang masing-masing mereka tau—atau mungkin nggak tau, tapi tetap kebut aja.
"Mereka semua mau ke mana sih?" gumamnya pelan sambil menatap arus lalu lintas yang nggak berhenti.
Lalu dia ingat pepatah: *"Semua jalan menuju Roma."*
Dia tersenyum sendiri—senyum pahit yang campur absurd.
"Kalau semua jalan menuju Roma," katanya sambil masih duduk di motor di pinggir jalan, membiarkan orang-orang menatapnya aneh, "berarti gue sekarang lagi di jalan menuju Roma juga dong? Atau... gue udah sampai Roma tapi nggak sadar?"
Dia ketawa sendiri. Orang yang lewat pada lirik—ada yang curiga, ada yang kasihan, ada yang acuh.
Pakde Plato nggak peduli. Dia lagi dalam mode filosofis pagi hari—fase berbahaya di mana otaknya jalan terlalu cepat sebelum kopinya masuk.
-
Sampai di percetakan—terlambat lima menit, tapi Pak Hendra lagi nggak ada jadi aman—Pakde Plato masih mikirin pertanyaan itu. Dia duduk di depan mesin cetak, tapi pikirannya melayang.
"Semua jalan menuju Roma. Maksudnya apa sih? Semua cara bisa sampai tujuan? Atau... semua orang punya tujuan yang sama?"
"Tapi kalau semua jalan menuju Roma, kenapa orang masih tersesat?"
"Atau jangan-jangan... Roma itu bukan tempat, tapi metafora?"
Dia garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
"Tarno! Konsentrasi dong!" teriak Joko dari seberang ruangan.
"Iya! Maaf!"
Tapi pikirannya tetap kemana-mana. Mesin cetak berdengung, tapi dia nggak fokus. Dia mikirin hidup. Tujuan. Jalan. Roma.
"Gue udah jalan empat puluh tiga tahun. Gue ke mana? Roma gue di mana?
--
Jam istirahat siang, Pakde Plato duduk sendirian di kantin dengan bekal nasi putih dan ikan asin. Joko mampir, duduk di sebelahnya dengan nasi goreng beli dari warung sebelah.
"Tarno, kok dari tadi bengong? Lu sakit?"
Pakde Plato menggelengkan kepala pelan. "Nggak. Cuma lagi... bingung."
"Bingung apa?"
"Jok, lu pernah nggak ngerasa... tersesat?"
Joko mengunyah nasi goreng sambil mikir. "Tersesat gimana? Nyasar di jalan?"
"Bukan. Tersesat dalam hidup. Nggak tau mau ke mana. Nggak tau apa yang dicari. Hidup rasanya jalan terus tapi nggak tau ujungnya di mana."
Joko berhenti mengunyah. Menatap Pakde Plato dengan serius. "Lu... lu lagi galau parah ya?"
Pakde Plato tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin gue cuma terlalu banyak mikir."
"Tarno, lu udah empat puluh tiga tahun. Kerja di percetakan. Nulis artikel. Bantu orang. Lu ngerasa hidup lu nggak ada tujuan?"
"Nggak. Gue ngerasa... gue udah jalan jauh. Tapi gue nggak tau gue udah sampai atau belum. Atau... gue tersesat?"
Joko menatap Pakde Plato dengan tatapan yang sulit diartikan—antara simpati dan bingung harus bilang apa.
"Tarno, gue nggak ngerti filosofi kayak lu. Tapi menurut gue... hidup itu nggak harus ada tujuan besar. Yang penting lu jalan. Lu nikmatin perjalanannya."
Pakde Plato menatap Joko. "Lu tau pepatah 'semua jalan menuju Roma'?"
"Pernah denger."
"Maksudnya apa sih sebenernya?"
Joko mikir sambil ngunyah. "Ya... semua cara bisa sampai tujuan. Gitu kan?"
"Tapi Roma itu di mana? Apa sih Roma kita?"
Joko terdiam. Nggak bisa jawab.
Pakde Plato tersenyum. "Makanya gue bingung. Orang bilang 'semua jalan menuju Roma', tapi nggak ada yang tau Roma itu apa."
-
Sore hari, setelah pulang kerja, Pakde Plato mampir ke gerobak Bu Yayuk. Bu Yayuk lagi beresin dagangan—sudah sore, pembeli udah sepi.
"Bu, boleh nanya sesuatu?"
Bu Yayuk yang lagi ngitung uang hasil jualan menoleh. "Apa, Mas?"
"Bu Yayuk pernah nggak merasa... tersesat?"
Bu Yayuk berhenti ngitung. Menatap Pakde Plato dengan heran. "Tersesat gimana?"
"Ya gitu. Nggak tau mau kemana. Nggak tau apa yang dicari. Hidup kayak jalan terus tapi nggak tau ujungnya."
Bu Yayuk menaruh uangnya, lalu duduk di bangku kecil di samping gerobak. Dia menatap Pakde Plato dengan tatapan yang... hangat.