Sandal Jepit dan Kaos Oblong

Umar alattas
Chapter #10

7 - PLATO BILANG REALITAS ITU BAYANGAN, JADI TAGIHAN LISTRIK INI ILUSI DONG?

7 - PLATO BILANG REALITAS ITU BAYANGAN, JADI TAGIHAN LISTRIK INI ILUSI DONG?

 

Pakde Plato menatap kertas di tangannya dengan wajah yang sudah melampaui batas kesabaran manusia normal. Kertas itu berwarna putih dengan tulisan hitam tebal di atasnya: TAGIHAN LISTRIK.

Bulan ini: Rp 385.000,-

Mata Pakde Plato membaca angka itu berulang kali, berharap ada kesalahan pembacaan. Tiga ratus delapan puluh lima ribu rupiah. Naik lima puluh ribu dari bulan lalu.

"Gila," gumamnya sambil duduk di teras rumah, jam tujuh pagi, udara masih dingin. "Naik lagi."

Dia membolak-balik kertas tagihan itu, mencari penjelasan. Pemakaian: 157 kWh. Bulan lalu cuma 120 kWh. Naik signifikan.

"Padahal gue cuma nyalain lampu kamar sama kipas angin. Laptop gue pakai cuma malem doang. Kulkas? Nggak punya. AC? Mimpi. Kompor listrik? Pakai kompor gas. Terus kenapa naik?!"

Dia menatap kertas tagihan itu dengan tatapan yang mulai absurd—tatapan orang yang sedang mencari pembenaran filosofis untuk menolak realitas.

"Plato—yang asli, bukan gue—bilang realitas itu cuma bayangan," katanya pada kertas tagihan yang nggak bisa jawab. "Dunia yang kita lihat ini cuma ilusi. Realitas sejati ada di dunia ide. Berarti... tagihan listrik ini juga ilusi dong?"

Dia senyum sendiri—senyum pahit yang campur putus asa.

"Sayangnya, PLN nggak terima pembayaran pakai filosofi. 'Pak, tagihan Bapak tiga ratus delapan puluh lima ribu.' 'Tapi Bu, ini kan ilusi.' 'Pak, kalau nggak bayar, listriknya kami putus.' 'Tapi Bu, pemutusan listrik juga ilusi kan?'"

Dia ketawa sendiri. Lalu berhenti. Karena nggak lucu.

Dia buka dompet. Isinya: seratus tiga puluh ribu rupiah. Sisa gaji bulan ini setelah dipotong ini-itu, setelah bayar bensin, pulsa, makan sehari-hari.

Kurang dua ratus lima puluh lima ribu.

Gaji baru masuk dua minggu lagi.

"Dari mana gue cari dua ratus lima puluh lima ribu dalam dua minggu?" gumamnya sambil menatap langit pagi yang mulai terang.

Dia ingat honorarium artikel bulan ini sudah masuk minggu lalu—dua ratus ribu, langsung habis buat bayar utang ke warung sebelah yang sempat dia pinjam waktu bokek minggu lalu. Cerpen? Belum ada yang dikirim bulan ini. Jadi... nggak ada pemasukan tambahan.

"Harus cari kerja sampingan," putusnya dengan berat hati.

Pagi itu, sebelum berangkat ke percetakan, Pakde Plato mampir ke gerobak Bu Yayuk.

"Bu, ada kerjaan sampingan nggak? Gue butuh duit tambahan."

Bu Yayuk yang lagi nyiapkan lauk menatap Pakde Plato dengan tatapan prihatin. "Kenapa, Mas? Bokek lagi?"

"Bukan bokek. Cuma... tagihan listrik naik. Gue kekurangan dua ratus lima puluh lima ribu."

Bu Yayuk berhenti motong tempe. "Berapa tagihannya?"

"Tiga ratus delapan puluh lima ribu."

"Wah, mahal juga ya. Emang pakai apa aja di rumah?"

"Cuma lampu, kipas angin, sama laptop. Tapi entah kenapa naik."

Bu Yayuk mikir sebentar. "Mas Tarno, lu bisa bantu gue nggak? Anterin dagang dari sini ke pasar. Pake motor. Gue bayar lima puluh ribu per hari. Tapi harus subuh. Jam empat pagi."

Pakde Plato melongo. "Jam empat?!"

"Iya. Emang kenapa?"

"Bu, gue baru tidur jam dua belas malem habis nulis. Jam empat bangun? Berarti tidur cuma empat jam?"

"Ya gimana dong. Lu mau duit atau nggak?"

Pakde Plato menghitung cepat. Lima puluh ribu per hari. Kalau seminggu, tiga ratus lima puluh ribu. Cukup buat bayar listrik plus sisa sedikit.

Dia menghela napas panjang. "Oke, Bu. Gue mau. Mulai kapan?"

"Besok udah bisa?"

"...bisa."

"Bagus! Dateng jam empat pagi ya. Jangan telat. Barang dagang banyak.

Keesokan harinya, jam empat pagi, Pakde Plato bangun dengan susah payah. Alarm HP-nya berbunyi keras—bunyi yang menyiksa—tapi dia tetap susah bangun. Matanya berat. Badannya pegel. Tapi... dia harus kerja.

Dia cuci muka dengan air dingin—sangat dingin sampai bikin melek paksa—lalu pakai kaos oblong dan sandal jepit, naik motor menuju rumah Bu Yayuk. Di rumah Bu Yayuk, barang dagangan sudah siap: nasi uduk dalam tempat besar, lauk-pauk, bumbu, semua diangkat ke motor bebek tua Pakde Plato. Motor penuh sesak. Hampir nggak kelihatan motornya, yang kelihatan cuma tumpukan barang.

"Hati-hati ya, Mas. Jangan kebut-kebutan," pesan Bu Yayuk.

"Iya, Bu."

Pakde Plato membawa motor dengan sangat pelan—bahkan angkot lewat lebih cepat dari dia. Jalanan masih sepi. Udara dingin menggigit kulit. Dia ngantuk berat.

"Plato bilang dunia ini ilusi,"* pikirnya sambil nyetir setengah sadar. *"Tapi rasa ngantuk ini kok nyata banget ya?"

Sampai di pasar, dia turunin barang-barang dengan bantuan Bu Yayuk. Setelah selesai, Bu Yayuk kasih uang lima puluh ribu.

"Makasih ya, Mas. Besok lagi ya?"

"Iya, Bu."

Pakde Plato pulang dengan lima puluh ribu di kantong dan mata yang hampir tertutup sendiri. Dia sampai rumah jam setengah enam. Harus berangkat ke percetakan jam tujuh. Jadi dia cuma punya setengah jam buat istirahat.

Dia rebahan di kasur, tapi nggak bisa tidur karena udah deg-degan takut ketiduran dan telat kerja.

Minggu itu, Pakde Plato hidup seperti zombie. Setiap hari:

Lihat selengkapnya