Sandal Jepit dan Kaos Oblong

Umar alattas
Chapter #11

8 - JIKA POHON TUMBANG DAN TAK ADA YANG DENGAR, APAKAH TETANGGA MASIH PROTES?

8 - JIKA POHON TUMBANG DAN TAK ADA YANG DENGAR, APAKAH TETANGGA MASIH PROTES?

Pakde Plato terbangun tengah malam oleh suara yang sangat keras—suara yang nggak lazim, suara yang bikin jantung langsung deg-degan meski masih setengah sadar.

KRAAAAAKKK... DHUAAAARRRR!!!

Suara kayu patah. Suara sesuatu yang besar jatuh. Suara benturan keras ke tanah.

Pakde Plato bangun dengan refleks, melompat dari kasur, berlari ke teras dengan mata masih setengah terbuka. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.37 dini hari. Gelap gulita. Sepi.

Dia lihat ke kanan-kiri dari teras. Nggak ada apa-apa. Jalanan gelap. Rumah tetangga gelap semua—pada tidur.

"Gempa?" gumamnya sambil masih terengah-engah. Tapi lantai nggak goyang. Tembok nggak retak. Nggak ada tanda-tanda gempa.

"Mungkin... petir? Pohon kesambet?"

Tapi langit cerah. Nggak ada mendung. Nggak ada hujan.

Pakde Plato berdiri di teras beberapa menit, menunggu suara lagi. Tapi hening. Cuma suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong jauh.

"Mungkin cuma mimpi," putusnya akhirnya, lalu balik tidur.

Tapi dalam hati, ada perasaan aneh. Suara tadi... terlalu nyata untuk jadi mimpi.

Pagi harinya, jam enam, kampung heboh. Pakde Plato yang baru bangun mendengar suara orang-orang berteriak di luar. Dia keluar, masih pakai kaos oblong tidur dan sandal jepit, jalan ke arah kerumunan warga.

Di ujung gang, ada ‘pohon besar tumbang’. Pohon mangga yang udah puluhan tahun berdiri—batangnya sebesar pelukan dua orang dewasa, tingginya mungkin lima belas meter, ranting dan daunnya lebat—sekarang tergeletak di tanah, menutupi setengah jalan.

Warga pada kumpul dengan wajah shock.

"Wah, gede banget," kata Pakde Plato sambil menatap pohon itu dengan kagum sekaligus prihatin.

Bu Yayuk yang juga datang geleng-geleng kepala. "Pohon ini udah tua, Mas. Kayunya udah lapuk. Makanya tumbang."

"Untung nggak kena rumah orang."

"Iya. Untung banget. Kalau jatuhnya ke kiri dikit, rumah Pak Hasan kena. Kalau ke kanan, rumah Pak Maman kena." Pakde Plato menatap pohon itu lebih teliti. Akarnya keliatan—sebagian udah busuk. Batangnya juga ada bagian yang keropos. Ini pohon yang memang udah saatnya tumbang.

Tapi ada yang mengganggu pikirannya.

"Bu, gue denger suara keras tadi malem. Jam setengah tiga. Itu pohon ini yang tumbang?"

Bu Yayuk mengangguk. "Iya. Gue juga denger. Kenceng banget. Tapi gue males keluar malem-malem. Takut."

"Aneh ya. Suara sekeras itu, tapi nggak ada tetangga yang keluar."

Bu Yayuk senyum. "Ya gimana, Mas. Tengah malem. Orang pada tidur. Males keluar."

Pakde Plato terdiam. Dia ingat pertanyaan filosofis klasik:

"Jika pohon tumbang di hutan dan tidak ada yang mendengar, apakah pohon itu benar-benar tumbang?"

Dia senyum sendiri. "Pohon ini tumbang tengah malam. Semua orang denger. Tapi nggak ada yang keluar. Pertanyaannya sekarang: kalau nggak ada yang protes, apakah pohon ini jadi masalah?"

Bu Yayuk menatap Pakde Plato dengan bingung. "Apaan sih, Mas?"

"Nggak, Bu. Cuma mikir yang aneh-aneh."

Siang itu, di balai RT, warga kumpul untuk ngomongin pohon tumbang. Pak RT—yang wajahnya terlihat lelah dan stress—berdiri di depan dengan tangan di pinggang.

"Bapak-Ibu sekalian, kita harus bicarain pohon yang tumbang tadi malem. Pohon itu harus dipotong dan diangkut. Tapi... siapa yang tanggung biaya?"

Warga langsung ribut.

"Pohon itu pohon liar! Nggak ada yang punya! Harusnya pemerintah yang tanggung!"

"Pemerintah mana mau ngurusin pohon! Kita harus tanggung sendiri!"

"Tapi kenapa kita harus bayar? Pohon itu kan nggak ganggu kita!"

"Gimana nggak ganggu?! Nutupin jalan! Motor nggak bisa lewat!"

"Ya ambil jalan lain!"

Pak RT mengangkat tangan, minta tenang. "Bapak-Ibu, dengerin dulu. Gue udah tanya tukang kayu. Kalau mau potong pohon itu, biayanya sekitar lima ratus ribu. Kita patungan, per KK lima puluh ribu. Ada sepuluh KK di gang ini. Cukup."

Warga protes lagi.

"Gue nggak mau patungan! Pohon itu jauh dari rumah gue!"

"Tapi lu lewat jalan itu juga kan?!"

"Iya, tapi kenapa gue harus bayar?!"

Pak Hasan—yang rumahnya paling deket sama pohon tumbang—angkat suara dengan keras. "Gue juga nggak mau bayar! Gue nggak pernah minta pohon itu ada! Sekarang pohon itu jadi masalah, kenapa gue harus ikut tanggung?!"

Pak Maman balas, "Lah, lu yang paling deket! Harusnya lu yang tanggung!"

"Kenapa gue?! Pohon itu bukan punya gue!"

Ribut. Makin ribut. Pak RT udah pusing. Nggak ada solusi.

Pakde Plato yang dari tadi duduk di pojok akhirnya angkat tangan.

"Pak RT, boleh saya ngomong?"

Semua diem, menoleh ke Pakde Plato.

"Silakan, Mas Tarno."

Pakde Plato berdiri, jalan ke depan. "Saya punya pertanyaan filosofis. Mungkin kedengeran aneh, tapi tolong dengerin."

Warga menatapnya dengan tatapan: *ini orang mau ngomong apa sih?*

"Ada pertanyaan klasik dalam filosofi: jika pohon tumbang di hutan dan tidak ada yang mendengar, apakah pohon itu benar-benar tumbang?"

Lihat selengkapnya