9 - DESCARTES BILANG 'AKU BERPIKIR MAKA AKU ADA', KALAU NGANTUK BERARTI AKU HILANG?
Pakde Plato duduk di depan mesin cetak dengan mata setengah terbuka. Kelopak matanya berat luar biasa. Berkali-kali dia kedipkan mata keras-keras, coba tetap fokus, tapi tetap saja—matanya mau menutup sendiri.
Ngantuk. Sangat ngantuk.
Semalam dia begadang sampai jam dua pagi—nulis cerpen yang deadlinenya hari ini. Bangun jam empat untuk anterin dagangan Bu Yayuk. Tidur total? Dua jam. Tubuhnya sekarang jalan otomatis—seperti robot yang baterainya mau habis.
Mesin cetak berdengung monoton. Suara yang biasanya mengganggu, sekarang justru jadi lullaby. Pakde Plato merasakan kepalanya mulai jatuh ke depan, leher nggak kuat nahan berat kepala, mata mulai menutup...
"TARNO! JANGAN TIDUR!"
Teriak Pak Hendra dari kejauhan bikin Pakde Plato tersentak bangun. Jantung deg-degan. Mata melek paksa.
"Iya, Pak! Maaf!"
Tapi lima menit kemudian, matanya mulai berat lagi. Kepalanya mulai jatuh lagi. Kesadarannya mulai blur...
"Descartes bilang: 'Aku berpikir maka aku ada'," pikirnya dalam setengah sadar. "Kalau aku ngantuk, berarti aku nggak berpikir. Berarti aku... hilang?"
Dia tertidur sebentar—mungkin cuma lima detik—tapi cukup untuk bikin dia nyaris jatuh dari kursi.
DHUAK!.
Pak Hendra mukul meja keras. Pakde Plato bangun kaget, jantung hampir copot.
"TARNO! KALAU NGANTUK PULANG AJA SONO!"
"Maaf, Pak. Saya lagi mikir."
"MIKIR APAAN?! TIDUR KOK BILANG MIKIR!"
Joko yang dengar dari seberang ruangan ketawa. "Tarno emang aneh. Tidur bisa bilang mikir."
Pakde Plato cuma bisa senyum lemah. Dalam hati dia bertanya: *"Apa bedanya tidur dengan mikir? Keduanya sama-sama bikin gue nggak sadar sama sekitar."
Jam istirahat makan siang, Pakde Plato nggak beli makan. Dia cuma duduk di kantin dengan kepala ditaruh di meja—posisi yang bikin dia bisa tidur sebentar tanpa ketahuan.
Tapi Joko ganggu.
"Tarno, lu kenapa sih? Dari tadi kayak zombie."
Pakde Plato mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya merah, wajahnya pucat. "Ngantuk, Jok. Parah."
"Lu tidur berapa jam kemarin?"
"Dua jam."
"DUA JAM?! Lu gila ya?!"
"Kemarin begadang nulis. Terus pagi anterin dagangan Bu Yayuk. Jadi cuma tidur dua jam."
Joko menggelengkan kepala dengan prihatin. "Tarno, lu nggak bisa terus-terusan kayak gini. Lu bisa sakit. Atau kecelakaan. Atau... mati mendadak."
"Lebay."
"Serius! Ada temen gue dulu, kerja keras nggak tidur, tiba-tiba stroke. Umur empat puluh lima. Sekarang lumpuh."
Pakde Plato terdiam. Itu menakutkan. Tapi... apa pilihan dia?
"Jok, kalau gue nggak kerja sampingan, gue nggak bisa bayar listrik. Kalau gue nggak nulis, gue nggak dapet honor. Kalau gue nggak—"
"Ya tapi lu nggak bisa ngorbanin kesehatan! Percuma punya uang kalau lu sakit!"
Pakde Plato menatap Joko dengan senyum lelah. "Lu bener. Tapi... gue nggak punya pilihan lain."
Joko terdiam. Nggak bisa bantah.
Pakde Plato menaruh kepala di meja lagi, menutup mata sebentar. "Jok, gue mau tanya sesuatu. Pertanyaan filosofis."
"Apa?"
"Descartes bilang: 'Aku berpikir maka aku ada'. Kalau gue ngantuk, gue nggak bisa berpikir jernih. Berarti... gue nggak ada?"
Joko bingung. "Maksud lu?"
"Ya gitu. Kalau eksistensi kita ditentukan oleh kemampuan berpikir, berarti kalau kita nggak bisa berpikir—karena ngantuk, atau tidur, atau pingsan—kita hilang?"
Joko makin bingung. "Lu... lu lagi stress parah ya?"
Pakde Plato ketawa lemah. "Mungkin. Atau mungkin gue cuma terlalu ngantuk sampai ngaco."
Sore itu, Pakde Plato pulang lebih cepat karena Pak Hendra kasihan lihat dia nyaris pingsan. Dia langsung ke warung Kang Parmin—tempat paling nyaman untuk exist dengan tenang.
Kang Parmin langsung shock lihat wajah Pakde Plato.
"Tarno! Lu kenapa? Kayak mayat hidup!"
"Ngantuk, Kang. Parah."
"Tidur berapa jam?"
"Dua jam."
Kang Parmin geleng-geleng kepala sambil nyeduh kopi ekstra kental untuk Pakde Plato. "Lu gila. Lu bakal mati muda kalau kayak gini terus."