10 - KENAPA CONFUCIUS BILANG PERJALANAN SERIBU MIL DIMULAI SATU LANGKAH,
TAPI OJOL PAKAI MOTOR?
Pakde Plato berdiri di pinggir jalan, nunggu ojek online yang dia pesan lewat aplikasi. Dia lihat di layar HP: driver sudah dekat, tinggal dua menit lagi. Namanya Mas Rizki. Rating 4.9 bintang. Motor Honda Beat hitam.
Lima menit kemudian, motor datang. Driver muda—umur mungkin dua puluh lima-an—dengan helm fullface dan jaket ojol hijau.
"Mas Tarno?" tanya si driver setelah buka helm.
"Iya. Ke percetakan Pustaka Jaya ya, Mas."
"Siap. Naik, Mas."
Pakde Plato naik. Motor melaju kencang—tapi nggak ugal-ugalan, cukup nyaman. Lima menit sampai. Jarak yang kalau jalan kaki bisa setengah jam lebih.
Turun dari motor, Pakde Plato bayar pakai aplikasi. Dua belas ribu rupiah. Murah. Cepat. Praktis.
Si driver—Mas Rizki—sudah mau pergi, tapi Pakde Plato panggil.
"Mas, boleh nanya sebentar?"
Mas Rizki berhenti, angkat helm. "Iya, Mas?"
"Mas jadi driver ojol udah berapa lama?"
"Dua tahun, Mas."
"Gimana? Lumayan?"
Mas Rizki tersenyum—senyum yang campur lelah. "Lumayan sih, Mas. Tapi capek. Tiap hari keliling kota dari pagi sampe malem. Kadang nggak sempat makan."
"Terus kenapa nggak cari kerja lain?"
"Pengen sih, Mas. Tapi susah. Saya cuma lulusan SMA. Nggak punya skill khusus. Jadi ya... ojol aja."
Pakde Plato mengangguk paham. "Tapi Mas punya cita-cita kan?"
Mas Rizki menatap Pakde Plato dengan tatapan surprise—jarang ada penumpang yang nanya begini. "Ada, Mas. Saya pengen buka warung kopi kecil-kecilan. Kayak warung Kang Parmin di kampung Mas."
"Wah, bagus! Udah ada modal?"
"Belum. Masih nabung. Target saya sepuluh juta. Sekarang baru lima juta."
"Berarti tinggal setengah jalan lagi."
Mas Rizki tersenyum lebar. "Iya, Mas! Tapi rasanya lama banget. Kadang saya mikir: kapan sih saya bisa buka warung?"
Pakde Plato berdiri di pinggir jalan dengan motor Mas Rizki yang masih menyala, lalu dia bilang sesuatu yang bikin Mas Rizki mikir.
"Mas Rizki, pernah denger Confucius?"
"Nggak, Mas. Siapa itu?"
"Filsuf Tiongkok kuno. Dia bilang: 'Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah'."
Mas Rizki mikir. "Maksudnya?"
"Maksudnya, kalau kita mau capai sesuatu yang besar, harus mulai dari langkah kecil. Mas Rizki udah jalan lima juta. Itu udah setengah jalan. Tinggal lima juta lagi. Pelan-pelan. Pasti sampai."
Mas Rizki tersenyum—kali ini senyum yang lebih tulus. "Iya juga sih, Mas."
"Dan satu lagi: jangan cuma fokus ke tujuan. Nikmatin perjalanannya. Sekarang Mas Rizki jadi ojol, capek, tapi kan Mas Rizki ketemu banyak orang. Liat banyak tempat. Belajar banyak hal. Itu semua bagian dari perjalanan. Nanti kalau udah buka warung, Mas Rizki bisa cerita: 'Dulu saya ojol, capek-capek nabung, akhirnya bisa buka warung'. Itu cerita yang keren."
Mas Rizki ketawa. "Bener juga ya, Mas! Mas Tarno bijak banget sih!"
"Nggak bijak. Cuma... udah tua. Udah banyak jatuh bangun."
Mas Rizki salam, pakai helm lagi, lalu pergi dengan senyum yang lebih cerah dari sebelumnya.
Pakde Plato berdiri di pinggir jalan, menatap motor ojol itu menjauh.
"Confucius bilang perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah," gumamnya sambil senyum. "Tapi di zaman modern, orang naik ojol. Jadi... skip langkah pertama dong?"
Dia ketawa sendiri, lalu jalan masuk ke percetakan.
Siang itu, jam istirahat makan siang, Pakde Plato duduk di kantin dengan Joko.
"Jok, gue mau tanya."