11 - JIKA HIDUP ADALAH PILIHAN, KENAPA SAYA TIDAK MEMILIH LAHIR KAYA?
Pakde Plato duduk di teras rumahnya ketika fajar baru saja merayap, tepat jam lima pagi, menatap lekat-lekat pada pigura hitam putih yang menggantung di ruang tamu. Ayahnya tampak mengenakan seragam petugas perpustakaan, tersenyum tipis, memancarkan kesederhanaan yang tak lekang oleh waktu.
"Pak," gumamnya pelan, memecah dinginnya udara subuh. "Kalau hidup benar-benar soal pilihan, kenapa Bapak nggak milih lahir jadi orang kaya aja? Biar anak Bapak—gue—nggak harus ngos-ngosan kayak gini."
Sebuah senyum pahit terulas di bibirnya, campuran antara absurditas nasib dan kepasrahan yang dipaksakan.
"Atau... kenapa gue sendiri nggak milih lahir dari rahim orang kaya? Hidup kan jadi gampang. Nggak perlu pusing mikirin token listrik yang bunyi tit-tit di ujung bulan, nggak perlu babak belur kerja sampingan sejak subuh buta. Tinggal duduk manis dan menikmati hidup."
Ia tertawa kecil—tawa pendek yang terdengar seperti helaan napas orang yang sudah terlalu lelah berpikir, tapi otaknya menolak berhenti bekerja.
"Pertanyaan bodoh. Tapi... kepala ini emang suka bandel."
Siang itu di percetakan, semesta seolah sengaja menguji kewarasannya.
Mas Joko—tetangga kompleks yang gemar memamerkan isi dompet, yang kebetulan punya hobi aneh mencuri sandal jepit untuk koleksi—muncul dengan bau parfum mahal yang menusuk hidung. Ia datang untuk memesan undangan pesta.
"Tarno! Lu yang pegang orderan gue ya!" seru Mas Joko setengah berteriak, melangkah masuk ke ruang produksi dengan dada membusung.
Pakde Plato mendongak dari mesin cetak yang bergemuruh pelan. "Oh, Mas Joko. Mau cetak apa lagi?"
"Undangan anniversary pernikahan. Yang kesepuluh. Gue mau bikin pesta besar-besaran. Sewa hotel bintang lima. Total budget seratus juta!"
Pakde Plato nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Seratus... juta?"
"Iya. Tamu yang diundang lima ratus orang. Katering mewah, dekorasi bunga impor, live music, fotografer kelas atas. Pokoknya yang paling the best!"
"Wah... luar biasa. Selamat ya, Mas."
Mas Joko tersenyum lebar, menepuk-nepuk saku celananya lalu menunjukkan sampel desain di ponselnya—undangan tebal bertepi gold foil yang berkilau pongah. "Lu liat sendiri kan? Elegan. Eksklusif. Beda dari yang biasa lu cetak."
Pakde Plato hanya bisa mengangguk-angguk kaku. Seratus juta untuk satu malam pesta. Angka itu setara dengan hasil keringatnya selama empat tahun bekerja tanpa libur.
"Enak ya, Mas Joko, punya uang sebanyak itu."
Mas Joko terkekeh ringan, tanpa sadar sedang menelanjangi jurang privilege di antara mereka. "Ya mau gimana lagi, Tarno. Hasil nggak bakal mengkhianati kerja keras. Lu juga bisa kayak gini kalau mau, asal
mau berusaha lebih giat lagi."
Pakde Plato ingin sekali menyemburkan kalimat di ujung lidahnya: Mas, gue udah kerja tiga shift sehari. Gue cuma tidur empat jam. Gue kerja sampai punggung mau patah. Tapi gue tetep miskin. Karena kerja keras doang nggak cukup di dunia ini; butuh modal, butuh jaringan, butuh takdir garis keturunan.
Namun, ia menelan semuanya. Bibirnya hanya membentuk senyum tipis yang hambar. "Iya, Mas. Semoga suatu saat ketiban pulung."
Begitu punggung Mas Joko menghilang di balik pintu, Pakde Plato kembali terduduk di kursi kayunya. Ada kehampaan yang mendadak pekat. Bukan dengki yang membakar dada, melainkan rasa lelah yang teramat sangat—lelah berlari di tempat, lelah berjuang tanpa garis finis.
"Kenapa gue nggak dilahirkan jadi anaknya Mas Joko saja, ya?" bisiknya pada mesin cetak yang mati.
Saat jam istirahat siang, ia duduk sendirian di sudut warung makan dengan sebungkus nasi sederhana: nasi putih, sepotong tempe kering, dan sambal terasi. Joko—rekan kerjanya—datang menyusul dan duduk di bangku seberang.
"Tarno, tadi si Joko ngomongin pestanya yang seratus juta itu. Gila bener."
"Iya. Warasnya setengah, gila-nya dua kali lipat."
"Lu nggak iri?"
Pakde Plato terdiam sejenak, mengaduk-aduk sisa nasinya. "Iri? Kadang-kadang iya. Tapi bukan karena pengen pamer kayak dia. Lebih ke arah... kenapa takdir tega banget bikin garis start yang beda?"
"Maksud lu?"
"Ya gitu. Joko lahir di keluarga mapan. Dia dapat modal usaha, dapat relasi bisnis, dapat bantalan pengaman kalau sewaktu-waktu jatuh. Dia kerja keras, hasilnya langsung keliatan. Lah gue? Lahir di rantai keluarga yang 'turun kasta'. Dari kakek seorang Asisten Wedana, turun ke ayah petugas perpustakaan, lalu mendarat di gue—buruh cetak karcis. Gue banting tulang sampai jungkir balik, posisinya tetep di sini-sini aja."
Joko terkesiap, lalu terdiam. Tak ada bantahan, karena itu adalah kebenaran yang terlalu telanjang.
"Jok, lu pernah nggak sih mikir: kenapa kita nggak pernah diberi hak suara untuk memilih mau lahir di rahim siapa?"