12. SANDAL JEPIT, KAOS OBLONG, DAN PERTANYAAN TERAKHIR YANG TAK TERJAWAB
Enam bulan telah berkelebat, membawa serta musim yang silih berganti di atas atap rumah tua yang semakin renta.
Pagi itu, tepat pukul lima lewat, Pakde Plato sudah duduk di teras dengan ritual yang tak pernah tanggal. Di kakinya, sepasang sandal jepit biru pudar yang mulai terkikis di bagian tumit—benda malang yang ia beli tepat setengah tahun lalu, menggantikan sepasang sandal lamanya yang raib digondol Mas Joko. Di tubuhnya, melekat kaos oblong lusuh berwarna putih kusam bertuliskan PEMILU 2024 - COBLOS NOMOR 3, warisan sumbangan relawan yang entah bagaimana caranya sudah mendarat di lemmarinya bertahun-tahun silam.
Sederhana. Tanpa pretensi. Persis seperti cara semesta memperlakukannya selama ini.
Namun, udara subuh kali ini terasa berbeda. Jemarinya yang kasar memegang sebuah layar ponsel jadul yang retak di sudut kanan, membaca sebuah pesan masuk dari Mas Bambang yang mendarat tengah malam tadi.
Subject: PROPOSAL BUKU - DITERIMA PENERBIT.
Pakde Plato mengejap-ngejap, membaca ulang baris demi baris surel itu hingga tiga kali, memastikan matanya tidak sedang berhalusinasi di bawah temaram lampu teras.
"Tarno, kabar besar! Dewan redaksi setuju menerbitkan kumpulan kolommu. Judul fix: 'Sandal Jepit dan Kaos Oblong: Filosofi Jalanan'. Draf kontrak terlampir. Honor muka lima juta rupiah, dengan sistem royalti sepuluh persen dari penjualan. Target terbit tiga bulan ke depan. Selamat, kawan!"
Lima juta rupiah.
Angka itu menatap balik dirinya dengan kepastian yang ganjil. Lima juta. Itu setara dengan dua setengah bulan keringatnya di balik mesin cetak. Itu cukup untuk melunasi seluruh tunggakan listrik yang kerap berbunyi nyaring di ujung bulan.
Tapi bukan nominal itu yang membuat tenggorokannya tercekat. Melainkan kenyataan bahwa gagasannya—suara batinnya yang selama ini hanya singgah di warung kopi Kang Parmin—akan menjelma menjadi buku fisik. Bisa dipegang. Bisa dibaca orang asing.
Dulu, ayahnya menghabiskan seumur hidup merapikan lembar demi lembar buku milik orang lain di perpustakaan kampus. Hari ini, darah daging sang pustakawan melahirkan bukunya sendiri.
Ia menoleh ke dalam rumah, menatap pigura hitam putih sang ayah di dinding ruang tamu dengan senyum paling tulus yang pernah ia simpan tahun ini.
"Pak," bisiknya serak. "Anak Bapak jadi penulis."
Pagi itu, langkah kaki Pakde Plato terasa sedikit lebih ringan menapaki aspal menuju Percetakan Pustaka Jaya. Ada debar yang hangat di dadanya. Sebuah keyakinan bahwa hidup, sekecil apa pun celahnya, selalu menyisakan ruang bagi keajaiban kecil.
Namun, begitu ia mendorong pintu gudang produksi, suasana dingin langsung menyergap. Pak Hendra, sang pemilik, sudah berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat dan bahu merosot. Seluruh karyawan dikumpulkan dalam keheningan yang tegang.
"Bapak-Ibu sekalian," suara Pak Hendra bergetar, tercekat di tenggorokan. "Saya harus bicara jujur tanpa ditutup-tutupi lagi. Percetakan kita... sudah di ujung tanduk."
Napas para pekerja mendadak tertahan.
"Arus digitalisasi menghantam kita terlalu telat dan terlalu keras. Pesanan kertas anjlok. Mesin-mesin tua ini sudah menyerah pada zaman. Bulan ini... adalah bulan terakhir operasional Pustaka Jaya."
Hening yang pekat merayap, menghantam dinding-dinding pabrik yang penuh noda tinta.
"Mulai bulan depan, tempat ini resmi ditutup. Dan kalian semua... terpaksa saya PHK. Maafkan saya."
Isak tangis tertahan pecah dari sudut ruangan. Beberapa buruh senior terduduk lemas, memegangi kepala mereka. Joko, rekan kerjanya, menatap Pakde Plato dengan tatapan nanar, seolah lantai di bawah kakinya mendadak ambruk.
Pakde Plato sendiri? Ia terdiam. Entah mengapa, kabar buruk itu tidak menghantamnya seperti badai. Mungkin karena ia sudah mencium aroma kebangkrutan itu sejak lama. Mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa babak belur oleh nasib. Atau mungkin, karena di dalam saku celananya, ada kepastian lain yang baru saja dikirimkan semalam.
Di-PHK. Tanpa pesangon yang layak, tanpa kepastian dapur esok hari.
Namun di dalam kepalanya, ia tidak panik. Hidupnya sudah terbiasa berjalan di atas jurang.
Begitu pengumuman bubar, Joko langsung menyeret langkah mendekatinya, jemarinya mencengkeram lengan Pakde Plato dengan cemas. "Tarno... gue harus gimana? Anak gue masih sekolah, cicilan motor belum lunas. Kalau gue di-PHK sekarang, keluarga gue mau makan apa?"
Pakde Plato menepuk pundak sahabatnya itu dengan tenang. "Jok, lu punya keahlian. Lu pegang kendali desain grafis bertahun-tahun di sini. Lu bisa cari tempat lain."
"Umur gue udah mau kepala empat, Tarn! Ijazah cuma selembar kertas SMA. Siapa yang mau ngelirik?"
"Kalau nggak ada yang mau nerima, kita ciptakan jalannya sendiri," jawab Pakde Plato mantap. "Ikut gue."
"Ikut ke mana?"
"Jadi penulis. Atau perajin kata-kata. Apapun itu, kita jalan bareng."
Joko tertegun, menatap lurus ke dalam mata sahabatnya dengan campuran rasa tidak percaya dan putus asa. "Tarno, lu gila ya? Gue nggak bisa merangkai kata-kata indah kayak lu."
"Siapa bilang harus nulis? Lu bisa jadi editor, tukang layout, atau pengamat hidup yang kebetulan lagi bangkrut. Yang penting, kita nggak mati akal."
Sebuah senyum getir akhirnya tersungging di bibir Joko, melebur bersama sisa air matanya. "Lu emang filsuf paling waras di tengah orang-orang gila, Tarno. Tapi... makasih."
Sore harinya, Pakde Plato melangkah masuk ke warung kopi Kang Parmin. Bukan lagi sebagai buruh cetak yang melepas penat, melainkan sebagai seorang manusia yang baru saja menanggalkan satu babak hidupnya untuk menyongsong lembaran baru.
Kang Parmin, yang sudah mendengar kabar duka tutupnya percetakan, langsung menyambut dengan wajah prihatin. "Tarno, gue denger kabar buruk soal pabrik..."
"Iya, Kang. Pustaka Jaya resmi gulung tikar."
"Terus... lu baik-baik saja? Nggak stres?"