EPILOG
HARTA KARUN DUNIA
Enam bulan kemudian.
Pakde Plato duduk di bangku sudut warung Kang Parmin. Posisi favoritnya. Di depannya, semangkuk mie rebus dan kopi item. Di laptop jadul-nya, artikel minggu ini hampir selesai.
Warung masih sama. Bangku-bangku kayu. Meja sederhana. Lampu redup. Tapi kehangatan tetap ada.
Kang Parmin lagi nyeduh kopi untuk pelanggan lain. Bu Yayuk lewat, bawa gerobak nasi uduknya. Pak RW duduk di pojok, ngobrol sama Pak RT. Pak Yanto—yang dulu kesepian—sekarang jadi anggota tetap kongkow sore. Rizki, driver ojol itu, kadang mampir sambil istirahat. Doni datang sesekali, cerita soal usahanya yang makin berkembang.
Semuanya biasa. Tapi indah.
Pakde Plato menatap layar laptopnya. Kolom minggu ini judulnya: **"Mencari Harta Karun di Warung Kopi"
Dia senyum, lalu ngetik penutup artikelnya:
"Orang bilang harta karun itu emas, permata, kekayaan. Tapi saya menemukan harta karun di tempat yang tidak terduga: warung kopi pinggir jalan.
Harta karun saya adalah secangkir kopi pahit yang diseduh Kang Parmin. Semangkuk mie rebus yang masih panas. Obrolan dengan tetangga yang kadang absurd, kadang dalam.
Harta karun saya adalah Pak Yanto yang dulu kesepian, sekarang senyum lebar saat bercerita. Rizki yang masih nabung untuk buka warung—tinggal dua juta lagi. Doni yang bangga cerita bisnisnya untung lima juta bulan ini.
Harta karun saya adalah rumah tua dengan cat mengelupas dan genteng bocor. Buku-buku compang-camping peninggalan ayah. Foto ayah yang kusam di dinding.
Harta karun saya adalah sandal jepit biru pudar dan kaos oblong lusuh.
Sederhana? Iya. Murah? Sangat. Tidak berharga? Tidak juga.
Karena harta karun sejati bukan yang bisa dibeli. Harta karun sejati adalah... kebahagiaan sederhana."
Pakde Plato save file. Kirim ke Mas Bambang.
"Tarno!" Kang Parmin memanggil. "Kopimu dingin. Mau gue buatin baru?"
Pakde Plato senyum. "Nggak usah, Kang. Kopi dingin juga enak kok."
"Aneh lu."
Bu Yayuk lewat, berhenti sebentar. "Mas Tarno, tadi pagi makan belum?"
"Belum, Bu. Tapi nanti aja."
"Nanti apa! Makan sono! Gue kasih nasi uduk. Gratis."
"Bu, saya kan nggak mau—"
"Nggak usah banyak bacot! Makan!"
Pakde Plato ketawa. "Iya, Bu. Makasih."
Bu Yayuk kasih nasi uduk di depan Pakde Plato, terus pergi sambil geleng-geleng kepala. Pakde Plato menatap nasi uduk itu. Hangat. Wangi.
"Harta karun," bisiknya sambil senyum
Pak RW datang ke meja Pakde Plato.
"Mas Tarno, lu sibuk?"
"Nggak. Kenapa, Pak?"