Lima ribu dua ratus delapan puluh satu kilometer dari Solo, dan angin pagi di atas Sungai Han masih terasa persis seperti sisa dingin yang membekukan darahku di hari pemakaman Papa.
Aku meremas besi pembatas Jembatan Mapo hingga buku-buku jariku memutih. Udara Seoul pertengahan April ini menggigit kulit—tujuh belas koma lima derajat Celsius, kata papan suhu digital di ujung jalan tadi. Namun, jaket rajut tipis yang kupakai sama sekali tidak ampuh menahan embusan angin subuh yang menyusup ke celah pori-pori. Setiap kali aku menghembuskan napas, uap putih tipis tercipta di udara, melayang sebentar, lalu buyar dihantam dingin.
Ternyata pelarian ini sia-sia.
Aku melempar pandangan ke bawah. Permukaan air Sungai Han tampak seperti jelaga hitam yang tenang, memantulkan pendar remang dari lampu-lampu jalan yang mulai redup. Di sini, di atas jembatan yang bisu ini, aku akhirnya sadar bahwa melarikan diri ke ujung dunia sekalipun tidak pernah bisa meninggalkan ingatan yang bersarang di dalam kepala. Trauma bukan barang bawaan di dalam koper yang bisa kutinggal di bagasi kabin pesawat. Ia ikut terbang bersamaku, duduk di sampingku selama belasan jam penerbangan, dan kini berdiri membayangiku di tepi Mapo Daegyo.
Mataku berdenyut berat. Entah kapan terakhir kalinya aku benar-benar tertidur. Semenjak tragedi naas itu, otakku menjadi medan perang yang tidak pernah mengizinkanku beristirahat. Setiap kali memejamkan mata, hanya butuh waktu lima belas hingga tiga puluh menit sebelum kepalaku kembali dihantam memori visual yang mengerikan. Aku akan selalu terbangun kaget dengan dada sesak seolah diimpit batu berbobot tonan, peluh dingin mengucur basah membasahi baju, dan keputusasaan yang begitu pekat hingga tangan kananku secara refleks memukul-mukul pelipisku sendiri, berharap pukulan itu bisa mematikan gambar-gambar hancur yang terus berputar di balik mataku—gambar kondisi raga Papa yang tak lagi utuh saat dimasukkan ke dalam peti tertutup.
Bahkan di sini, di tengah Seoul yang belum sepenuhnya terbangun, telingaku terus berdering. Deringan halus yang menggaungkan kembali raungan sirine ambulans, derit pergesekan logam berat, dan klakson lokomotif yang membelah sore kelam di Solo empat bulan lalu.
Sentimen orang-orang juga tidak pernah mati. Jemari asing di media sosial yang tanpa nurani mengetik kalimat penghakiman: “Salah e dewe nerobos perlintasan!” atau “Serius korban e Advokat? Seharus e kan ngerti aturan!”
Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak pernah berada di dalam ruangan ketika telepon kantor Papa berdering hari itu. Mereka tidak tahu alasan panik yang membuat Papa memacu mobilnya seperti orang kesetanan demi menyelamatkanku dari bahaya yang tak pernah mereka pahami. Mereka hanya tahu memvonis, meninggalkan luka segar pada jiwaku yang sudah lebam bertubi-tubi.
Aku lelah. Sungguh, aku sudah teramat lelah menjadi wadah bagi rasa sakit ini.
Dengan tumpuan kaki yang gemetar hebat, aku mengangkat kaki kananku menaiki pijakan besi pembatas jembatan. Angin pagi berembus lebih kencang, mengibarkan ujung jaket tipisku. Jarum jam tanganku menunjukkan pukul lima pagi. Jalanan Mapo Daegyo masih lengang; beberapa kendaraan melintas cepat tanpa peduli pada sosok perempuan yang sedang memanjat ambang kematiannya sendiri.
Aku memejamkan mata. Kupikir, jika tubuhku menyatu dengan arus dingin di bawah sana, denging besi dan jeritan itu akhirnya akan berhenti. Aku bersiap melompat.
Sebuah cengkeraman keras mendadak merenggut lingkar pinggang dan jaketku dari belakang. Daya sentakannya begitu kuat hingga tubuhku terlempar ke belakang, runtuh menghantam beton trotoar jembatan bersama sosok yang baru saja menarikku.