14 April 2025 itu telah sepuluh hari berlalu. Hari ini, kalender digital di sudut meja menunjukkan 24 April 2025. Tepat sepuluh hari sejak jemari tegap Seojun merenggutku dari ambang besi Jembatan Mapo. Dan di dalam ruang duniaku yang selama empat bulan terakhir hanya dipenuhi jelaga hitam pekat, aku mulai merasakan sebuah pergeseran kecil, begitu tipis, tetapi nyata.
Mimpi-mimpi buruk itu belum sepenuhnya lenyap. Setiap kali mataku terpejam lebih dari satu jam, benakku masih kerap diseret paksa kembali ke lorong kelam yang sama. Namun, belakangan ini aku berusaha menanamkan keyakinan pada diriku sendiri bahwa kepingan ingatan mengerikan itu hanyalah bentuk sugesti yang membesar menjadi benteng trauma. Di tengah lamunan-lamunan panjang yang menyita sebagian besar siangku di Korea, aku mencoba bertarung. Aku berusaha melawan ingatan-ingatan itu.
Meski begitu, pertahanan yang kubangun dengan susah payah sering kali rubuh hanya oleh setitik ingatan yang tak terduga. Cukup satu lintasan pikiran acak: tentang bau besi, denging sirine, atau hawa dingin yang menguar dari balik kain penutup peti—maka suasana hatiku yang semula relatif tenang akan mendadak terjun bebas menuju titik terendah.
Namun, kupikir ini adalah bentuk proses yang realistis. Perubahan kecil yang kurasakan di Seoul terasa sangat berbeda jika dibandingkan saat aku masih berada di Indonesia.
Selama aku berteduh di Solo, dikelilingi oleh keluarga besar Papa yang begitu mengasihi, tangisku hampir tidak pernah kering. Setiap kali melihat sudut rumah, melihat wajah Oom Nico, atau mendengarkan helaan napas Tante Laras, aku akan langsung tersengguk-sengguk mengingat Papa. Rasa sayang mereka justru secara tidak sengaja mengunci posisiku sebagai sosok anak perempuan yang sedang hancur.
Di Korea, keadaannya berbalik. Di sini, aku hanya hidup bersama diriku sendiri.
Di tengah keterasingan kota ini, muncul sebuah perasaan baru: kebutuhan akan sebuah pengakuan bahwa aku memang harus—dan pantas—merasakan seluruh spektrum rasa sakit ini. Aku tidak boleh melarikan diri dari kesedihan itu lagi, meskipun entah sampai kapan aku harus mempelajari rasa sakit ini agar ia bisa berubah menjadi kawan baik dalam perjalananku. Aku tahu aku masih berada di tahap belajar yang sangat awal. Aku belum benar-benar sanggup berteman baik dengan ingatan tentang bentuk mobil Papa yang ringsek tak berbentuk, raga Papa yang tak lagi utuh saat dipindahkan, serta raungan tangis keluarga di Solo yang beradu dengan rekaman video jasad Papa yang sempat tersebar luas di akun gore. Orang-orang asing itu dengan mudahnya membagikan video saat petugas perlintasan kereta api dan warga lokal sibuk memunguti serpihan daging serta tulang Papa dari sela-sela roda lokomotif. Penghikmatan kekejaman digital itu meninggalkan lebam yang membakar jiwaku hingga detik ini. Yang aku lakukan setiap ingatan sialan itu datang adalah menarik napas panjang, mengembuskannya pelan untuk mengurai sesak
Apartemenku di Hapjeong tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Luasnya bahkan tidak sampai tiga puluh meter persegi. Satu tempat tidur, satu meja kerja yang terlalu kecil untuk dua tumpukan buku sekaligus, dapur mungil yang hanya cukup untuk satu orang berdiri, dan kamar mandi yang pintunya harus kututup rapat supaya uap air tidak memenuhi seluruh ruangan. Tapi aku tidak membutuhkan tempat yang besar. Sejak tiba di Seoul pada 4 April lalu, aku hanya membutuhkan tempat untuk tidur dan bangun tanpa harus melihat wajah siapa pun yang mengenalku. Apartemen ini berada di sebuah officetel di sekitar Hapjeong, beberapa menit berjalan kaki dari stasiun. Dari jendela, aku bisa melihat sebagian jalan kota dan lampu-lampu gedung di kejauhan. Tidak ada yang istimewa. Justru itu yang kusukai. Tidak ada yang mengingatkanku pada Papa. Tidak ada yang membahas Papa.
Sensasi dingin dari lantai kayu merayap ke telapak kakiku saat aku menggeser posisi duduk.
Layar ponsel yang tergeletak di atas kasur mendadak menyala tipis, menampilkan angka pukul 08.00 KST. Aku bahkan tidak memiliki jam dinding di apartemen mungil ini; seluruh penunjuk waktuku tergantung pada perangkat genggam tersebut.
Pukul delapan pagi di Seoul berarti Solo baru saja menyambut pukul enam pagi. Aku menyentuh layar, membuka aplikasi pesan instan yang langsung menampilkan angka notifikasi menumpuk pada grup obrolan Keluarga Besar Mamahit. Diskusi di sana sedang berjalan sangat intens sejak satu jam lalu. Oom Nico dan beberapa kerabat Manado serta Solo sedang sibuk mengurus rincian rencana lamaran Kavian Mamahit—kakak sepupuku, putra sulung Oom Nico—yang rencananya akan digelar di Solo dalam waktu dekat.
Jarak usiaku dan Kavian hanya berselisih dua tahun. Kami tumbuh dalam dekapan keluarga besar yang kerap menghabiskan akhir pekan bersama. Namun pagi ini, ketika Kavian akhirnya berhasil menemukan pelabuhan terakhir untuk mengikat masa depannya, aku justru berdiri di ujung belahan dunia lain dengan keinginan membuncah untuk menghilang sepenuhnya dari Indonesia.
Indonesia, tempat aku dilahirkan ke dunia, tempat aku mengenal arti cinta pertama, tempat aku memahat setiap incinya kenangan indah bersama Papa, dan tempat kampus UGM mengenalku pada keindahan kultur bahasa Korea yang kini membawaku terdampar di Hapjeong.
Melihat rentetan gelembung obrolan yang kian ramai dengan ucapan selamat dan gurauan keluarga, jemariku membeku di atas layar. Aku hanya menyimak dalam diam. Sama sekali tidak ada dorongan dalam diriku untuk menyusup ke tengah keramaian emosional itu. Tidak semenjak hari di mana Papa tiada. Bagi diriku yang sekarang, keramaian keluarga hanya akan berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan betapa hampa dan bolongnya jiwaku tanpa kehadiran Papa di sela-sela mereka.
Aku mematikan layar ponsel, melemparkannya kembali ke atas bantal.
Sorot sinar matahari pagi meluncur perlahan menembus celah tirai tipis jendela, merengsek masuk dan menyapu permukaan selimut tebal yang masih membungkus separuh kakiku. Pandanganku bergulir melintasi ujung ranjang, tertuju pada nakas kecil yang bertengger tepat di sebelah kiri tempat tidur.
Di atas permukaan kayu nakas yang polos itu, tertera lima bungkus mi instan rasa kaldu sapi yang tertata rapi.
Aku menatap tumpukan bungkus mi itu dengan helaan napas halus. Mi instan itu diletakkan di sana oleh Han Seojun. Pria berkacamata itu membelinya kemarin sore, pada 23 April, beberapa jam sebelum jadwal tugas terbangnya dimulai. Selama beberapa hari terakhir, pola makanku sangat kacau; aku sering kali membiarkan perutku kosong seharian hanya karena enggan melangkah keluar atau menyentuh peralatan dapur. Pria itu menyadari kebiasaan burukku. Sebelum berpamitan menuju Bandara Incheon untuk penerbangan on duty-nya menuju Tokyo, Seojun menyejajarkan lima bungkus makanan itu di atas nakas, menyisipkan pesan lurus dengan nada santai agar aku menyempatkan diri mengisi perut sebelum rasa pusing menghantam kepalaku.
Pagi ini, dorongan fisik itu akhirnya datang. Perutku terasa tertekan dan melilit akibat rasa lapar yang tidak bisa lagi kuabaikan.
Aku menyibak selimut, menurunkan kedua kakiku ke atas lantai kayu yang dingin. Langkahku agak lemas saat berjalan mendekati area dapur mungil yang berjarak hanya empat langkah dari tepi ranjang. Aku mengambil satu bungkus mi instan dari nakas, menyalakan kompor listrik, dan menuangkan air bersih ke dalam panci aluminium kecil.
Saat aku berdiri melamun menatap permukaan air di atas kompor, ponselku di atas kasur bergetar dua kali secara beruntun.
Aku berbalik sejenak, melangkah mendekat untuk melihat tampilan layarnya tanpa mengangkat perangkat itu. Dua baris pesan singkat dari nama Han Seojun muncul melintasi panel notifikasi.