Malam merayap turun di atas langit Hapjeong. Pendar lampu kota dari balik jendela officetel memantulkan pendar keemasan yang menimpa permukaan lantai apartemenku. Udara malam musim semi di luar sana masih menyisakan hawa dingin yang menusuk, tetapi di dalam ruang berukuran dua puluh lima meter persegi ini, aroma gurih bumbu gorengan yang baru saja diangkat dari penggorengan menciptakan suasana hangat yang sangat asing bagiku.
Di atas meja kayu mungil depan layar televisi, tertata satu piring keramik berisi tumpukan bakwan sayur yang masih mengepulkan uap tipis. Pinggirannya tampak renyah dengan warna kuning keemasan yang sempurna.
"Keluarga kami itu unik, Eonnie," ucap Yeon sambil menyendok sedikit saus cabai di tepi piring. Suaranya mengalun santai, mengisi ruang tengah yang semula sepi. "Meski garis keturunan Indonesia dari pihak buyut kami udah lumayan jauh dan memudar, tapi Nenek sama Oppa masih sering banget pulang pergi ke Semarang sama Jakarta."
Aku menggeser dudukku di atas karpet tipis, menyandarkan punggung pada tepi ranjang sembari menyimak wajah Yeon yang tampak bersemangat.
"Ke sana buat urusan bisnis perkebunan sama distribusi, ya?" tanyaku pelan.
"Iya, urus kontrak bisnis, ketemu mitra lama, atau ngatur bagian aset keluarga yang emang udah dibagi rata dari dulu," jawab Yeon dengan anggukan mantap. Bahasa Indonesia-nya meluncur mulus tanpa hambatan. "Hebatnya, dari tahun tujuh puluhan sewaktu bisnis keluarga mulai berdiri, enggak pernah ada cerita saudara bertengkar rebutan harta. Dari zaman canggah sampai ke generasi Oppa, semuanya udah punya bagian masing-masing secara adil. Jadi suasana keluarga kami tenang-tenang aja."
Jemariku terulur menjangkau satu potong bakwan yang masih hangat dari piring. Teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam langsung menyapa lidahku saat gigitan pertama mendarat. Rasa gurih bawang putih, ketumbar, dan irisan kubis yang manis berpadu begitu pas.
Sudah berapa lama aku tidak menyentuh gorengan?
Dada rasanya sedikit teremas oleh ingatan samar. Di Solo, gorengan adalah camilan wajib yang hampir setiap sore hadir di meja makan rumah Papa. Namun sejak tragedi 15 Desember itu, selera makanku merosot drastis. Segala bentuk makanan yang membutuhkan proses mengunyah terasa seperti bongkahan batu yang enggan melewati kerongkonganku.
"Enak banget," gumamku lirih, menatap potongan bakwan di tanganku dengan binar yang tak sanggup kubendung. "Aku bener-bener kangen makan bakwan kayak gini. Aku suka banget sama gorengan."
Yeon yang baru saja mau meraih potongan bakwannya mendadak menghentikan gerak tangan. Sepasang mata cokelat keabu-abuannya melebar bulat, memantulkan rasa terkejut yang polos.
"Eonnie suka banget gorengan?" seru Yeon dengan nada tak percaya. Matanya mengerjap beberapa kali. "Wah, cocok banget dong sama Oppa! Oppa itu hampir tiap hari bikin gorengan sendiri di apartemen kalau lagi off duty. Terus ya, Oppa itu punya stok kerupuk banyak banget di lemari dapur yang dibeli langsung diimpor dari Indonesia."
Gerakan tanganku yang hendak menyuap potongan bakwan berikutnya membeku seketika di udara.
Kerupuk.
Satu kata sederhana itu menghantam kesadaranku bagai pukulan tak kasat mata. Benakku langsung terlempar kembali ke sebuah meja makan kayu jati di Solo tentang bayangan pria paruh baya berkacamata yang selalu memegang toples kerupuk kaleng berwarna biru setiap kali menyantap nasi liwet sore hari. Papa tidak pernah bisa makan tanpa kerupuk. Suara renyah kerupuk adalah salah satu latar bunyi paling akrab yang mewarnai masa kecil hingga kedewasaanku.
Dan sekarang, di balik keramaian kota Seoul, aku sedang duduk bersama seorang pria Korea yang mencintai kerupuk sejak ia masih kecil.
Pandanganku turun menatap karpet, membisu total. Kehangatan di dadaku mendadak surut, berganti gumpalan sesak yang membuat napasku terasa tersangkut di pangkal tenggorokan.
Seojun yang sedang duduk bersila di sisi kanan meja menyadari perubahan atmosfer yang mendadak mengendap. Pria berkaos abu-abu santai itu memfokuskan pandangannya pada wajahku yang mendadak pucat dan bungkam.
Seojun berdeham halus tanpa membuat suara keras. Dengan gerakan yang sangat tenang dan kasual, ia mengulurkan tangannya mengambil sepotong bakwan dari piring, lalu menggigitnya pelan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia sengaja mengalihkan arah pembicaraan untuk mencairkan kebisuan tegang yang mulai menyergap. Seojun sangat tahu—bahkan tanpa perlu kutatap matanya—bahwa ada dinding trauma tebal dan bayang-bayang kelam yang kutinggalkan di Indonesia, sesuatu yang belum sanggup kubahas atau kusinggung sekecil apa pun.
"Lusa aku lagi enggak ada jadwal terbang," kata Seojun santai, memecah hening dengan nada suara yang hangat dan dalam. Ia mengusap jemarinya dengan tisu dapur. "Kalau kamu enggak ada kegiatan, gimana kalau ikut aku jalan-jalan sebentar keluar Seoul?"
Aku mendongak pelan, menatap Seojun yang sedang membetulkan letak bingkai kacamatanya.
"Jalan-jalan?" ulangku ragu.