Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #4

Bab 3. Memori di Balik Kaca

Sore itu di Solo, langit hangus oleh warna keabu-abuan yang pekat. Suara sengatan bel perlintasan kereta api meraung tiada henti, membelah udara sore yang lembap dan padat. Di depan mataku, sebuah mobil sedan berwarna hitam membeku di tengah perlintasan rel relawan. Roda depannya tersangkut pada celah besi. Dari balik kaca depan yang berdebu, aku melihat raut wajah Papa. Mata beliau membelalak penuh kepanikan, jemarinya memukul-mukul kemudi sembari memutar kunci kontak berulang kali, tetapi mesin mobil itu tetap mati total.

Lalu, tanah yang kupijak mulai bergetar.

Dari belokan rel di sebelah kanan, bayangan besi raksasa muncul dengan kecepatan tinggi. Lampu sorot depan lokomotif memancar menyilaukan, disusul jeritan lengkingan bel kereta api yang menggemuruh mematahkan seluruh kesadaranku. Aku melihat pintu mobil Papa terbuka sedikit. Beliau berusaha mendorong badannya keluar, menatapku dari kejauhan dengan tatapan mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa.

"Papa!" raungku.

Suaraku lolos dari tenggorokan, tetapi kakiku seolah terkunci pada pijakan semen yang membeku. Aku berusaha berlari, meraba udara, menembus jarak beberapa meter yang memisahkan kami. Namun tubuhku tidak bisa digerakkan sedikit pun. Aku mematung kaku di atas tanah, dipaksa menyaksikan moncong lokomotif meluncur menghantam lambung mobil sedan hitam itu dengan daya dentuman yang menghancurkan segalanya.

Suara benturan logam yang meremukkan besi dan kaca terdengar begitu memekakkan.

"Papa!"

Tubuhku tersentak hebat. Napasku terputus-putus, memburu cepat seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa dari kedalaman air laut yang dalam. Lingkar dadaku terikat sesak, sementara kedua tanganku mencengkeram erat sabuk pengaman yang melintang di atas dadaku.

Bilik mataku berkedip-kedip cepat, menyerap pendar cahaya matahari pagi yang menembus kaca depan kendaraan. Tidak ada raungan bel perlintasan. Tidak ada benturan besi. Tidak ada tanah basah Solo.

Aku berada di dalam kabin mobil SUV berwarna hitam yang sedang melaju stabil di atas jalan aspal mulus.

Aku memutar kepalaku ke sebelah kiri. Di balik roda kemudi, Seojun duduk dengan postur tubuhnya yang tegap. Pria berkaos rajut tipis warna krem itu fokus menatap lurus ke depan, memperhatikan arus lalu lintas jalur cepat di depannya. Sepasang tangannya berada di atas lingkar kemudi, dan bingkai kacamata tipisnya memantulkan siluet pepohonan hijau yang meluncur cepat di luar jendela. Pria itu tampaknya tidak menyadari bahwa beberapa detik lalu, jiwaku baru saja dihantam oleh mimpi buruk yang melapukkan seluruh sendi tubuhku.

Kerongkonganku terasa begitu kering dan membakar.

Dengan jemari yang masih bergetar halus, aku meraih botol air mineral yang bertengger di kompartemen dasbor tengah. Aku membuka tutupnya dengan gerakan terburu-buru, lalu meneguk cairannya tanpa henti sampai dasar botol itu benar-benar kosong tak tersisa. Air dingin yang mengalir melewati kerongkonganku sedikit meredakan rasa tercekik di dadaku, namun peluh dingin sudah terlanjur membasahi seluruh leher dan tengkukku.

Aku mengulurkan tangan kanan ke arah panel pendingin udara di konsol tengah, menekan tombol kontrol untuk mengecilkan embusan angin AC. Hawa dingin di dalam kabin mendadak terasa menusuk kulitku yang lembap oleh keringat.

Sensasi getaran pada jemariku rupanya tidak lolos dari sudut mata Seojun. Pria itu memelankan laju kendaraannya, memindahkan pijakan pedal ke tingkat yang lebih santai saat jalur meliuk menyusuri tepi sungai.

"Kamu kenapa?" tanya Seojun. Suaranya mengalun rendah dan lembut, dipenuhi kecemasan yang tertahan.

Aku mematung sejenak, meremas botol plastik kosong di pangkuanku hingga menimbulkan kerutan halus. Aku menggelengkan kepala pelan, mengusap tengkukku yang basah dengan ujung lengan jaket. Aku tidak ingin membicarakan apa pun tentang mimpi buruk itu. Aku tidak ingin membiarkan bayangan rel kereta api Solo merusak udara pagi yang sedang berusaha kubangun di Seoul.

"Enggak apa-apa," bisikku pelan, membuang tatapan ke luar jendela kiri. "Cuma haus."

Seojun melirikku sekilas dari balik lensa kacamatanya, lalu kembali menatap jalan raya. "Kamu baru aja tidur sekitar lima belas menit, Vio."

Lima belas menit.

Aku tertegun membisu. Bagi orang lain, memejamkan mata selama lima belas menit di dalam mobil adalah istirahat singkat yang menyegarkan. Namun bagiku, lima belas menit membiarkan kesadaranku hilang adalah pintu masuk menuju neraka ingatan yang selalu siap memangsaku hidup-hidup. Aku memilikinya; perasaan teror yang selalu mengintai di balik kelopak mataku setiap kali aku mencoba tidur. Tapi aku memilih menyimpan rapat kenyataan itu di dalam dada.

"Kita udah sampai mana?" tanyaku, sengaja mengalihkan arah obrolan sembari menatap bentangan jalan di depan kami.

Seojun membetulkan letak bingkai kacamatanya dengan jemari tangan kanan. "Kita sudah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit dari Hapjeong. Baru saja melewati area perbatasan Paldang di Namyangju. Di depan sana itu Jembatan Paldang, dan sebentar lagi kita resmi memasuki kawasan Yangseo-myeon di Yangpyeong-gun."

Aku menatap hamparan pemandangan di balik kaca jendela penumpang.

Lihat selengkapnya