Langkah kaki kami melepaskan jejak di atas hamparan tanah berumput yang melandai ke arah tepi perairan. Pukul tiga sore di musim semi pada tanggal 26 April 2025 menyelimuti Dumulmeori dalam bentangan warna nan teduh. Setelah menempuh perjalanan dari Seoul dan menyempatkan diri meletakkan tas serta barang bawaan kami di rumah kayu sederhana milik Nenek Sun-ja di pedesaan Yangpyeong-gun, aku mengajak Seojun menuju tempat ini. Sebuah semenanjung daratan tempat waktu seolah melambat, membiarkan alur kehidupan bergerak dalam ritme yang tenang.
Di depan kami, sebuah bangku kayu melintang bertekstur kasar bertengger di bawah naungan ranting-ranting pohon zelkova yang telah berdiri selama ratusan tahun. Kami melangkah mendekat, lalu mendaratkan tubuh bersisian di atas bilah kayu tersebut, menghadap lurus ke arah bentangan perairan luas yang terhampar tanpa batas.
Angin sore bertiup perlahan, mengalun lembut melintasi celah rajut jaketku, menyapu leher dan tengkukku yang dingin.
Untuk pertama kalinya sejak tanggal 15 Desember itu—sejak raungan sirine dan dentuman besi kereta api meremukkan duniaku di Solo—aku merasakan embusan angin yang terasa begitu bersahabat. Udara dingin musim semi yang meresap ke pori-pori kulitku tidak lagi membawa rasa tercekik. Perlahan, gumpalan sesak yang membatu di dasar dadaku mengendur. Beban berat dan rasa takut yang selama empat bulan terakhir mengintai di balik tempurung kepalaku seolah terkikis sedikit demi sedikit, terbawa oleh riak air yang bergerak tenang di hadapan kami.
Aku memejamkan mata sejenak, menyerap lanskap Dumulmeori yang begitu bersahaja.
Tempat ini adalah kepala dari dua aliran air, karena di sanalah Namhangang dan Bukhangang bertemu dan kemudian menjadi Hangang. Aliran Sungai Han Selatan yang membawa ketenangan dari pegunungan tengah berpadu mulus dengan aliran Sungai Han Utara yang jernih, melepaskan identitas masing-masing demi melahirkan satu tubuh perairan raksasa yang mengalir menyusuri jantung kota Seoul. Di seberang sana, barisan pegunungan hijau berdiri tegak, dibalut kabut tipis sore hari dan rona merah muda dari sisa-sisa kelopak bunga sakura yang bertahan di pucuk perbukitan.
Aku memilih Dumulmeori karena aku tahu di tempat inilah aku bisa merebahkan hatiku. Dan Seojun membiarkanku melakukannya. Pria berkacamata di sampingku ini sengaja memberiku ruang. Ia tidak terburu-buru melempar pertanyaan, tidak menuntutku untuk segera membuka luka, melainkan membiarkanku diam menikmati embusan angin yang menyegarkan jiwaku yang rapuh. Seojun memberiku kemewahan yang tidak pernah kudapatkan di Indonesia: sebuah hening yang aman.
Presensi Seojun di sisiku terasa begitu nyata, tegap, dan menenangkan.
Saat keheningan alam mulai melarutkan ketegangan di persendian tubuhku, dan aku merasa cukup tenang untuk beradaptasi dengan atmosfer Dumulmeori, aku mengembuskan napas panjang. Aku memutar posisiku sedikit, menatap profil samping wajah Seojun yang sedang memandang lurus ke arah riak air.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku di Jembatan Mapo," bisikku pelan.
Suaraku mengalun tipis, hampir menyatu dengan gesekan dedaunan zelkova di atas kepala kami.
Untuk sesaat, Seojun menelengkan tubuhnya. Sepasang matanya di balik bingkai kacamata tipis bergulir menatap wajahku. Pria itu menyimak raut mukaku selama beberapa detik dalam hening yang pekat, sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan. Sebuah senyum kecil yang teramat tipis dan hangat terulas di sudut bibirnya.
Seojun membetulkan letak duduknya, memiringkan bahu agar posisinya sejajar menghadapku.
"Aku yakin keluargamu enggak mau kamu melakukan itu, Viona," kata Seojun. Suaranya terdengar begitu berat, rendah, dan lurus. "Mungkin ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri hidup di negara lain, semua masalah selesai begitu saja. Tapi itu semua tidak berlaku untuk keluargamu, aku yakin selama ini kamu tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang mendukung dari segi apa pun, karena itulah, mereka akan merasa kehilangan jika kamu melompat ke Sungai Han, dan rasanya sama seperti kamu kehilangan ayahmu."
Kata-kata Seojun mendarat tepat di titik paling sensitif dalam benakku.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kerongkonganku mendadak terasa kesat dan menyempit. Selama empat bulan terakhir, aku begitu tenggelam dalam lautan duka dan rasa sakitku sendiri hingga aku enggan memikirkan dampak yang akan kutinggalkan bagi Oom Nico, Tante Laras, Kavian, atau sanak saudara Mamahit di Solo dan Manado. Aku terlalu buta oleh bayangan kematian Papa sampai-sampai hampir menorehkan luka yang sama mendalamnya di dada orang-orang yang mengasihiku.
Namun, dalam sekejap, fokus di benakku mendadak buyar.
Ingatan mengerikan itu kembali merayap keluar dari sudut gelap otak. Bayangan mimpi buruk yang selalu memburu tidurku, yang hampir menyita seluruh waktu istirahatku dan memotong jam tidurku menjadi kepingan belasan menit yang menyiksa, kini berputar ulang di balik kelopak mata. Gambar-gambar hancur itu menuntut untuk diakui.
Aku berpaling menatap Seojun kembali, memanggil namanya dengan suara serak. "Seojun."
Seojun menoleh seketika, menghentikan gerak tangannya dengan sebuah dehaman tipis di pangkal tenggorokan.
Aku menatap sepasang mata sipit Seojun yang tajam namun penuh kehangatan di balik lensa kacamatanya. Lidahku bergetar saat berusaha mengeja kalimat yang selama ini terisolasi rapat di dasar dadaku.
"Papaku meninggal secara tragis pada 15 Desember 2024," ucapku dengan nada bergetar, menahan napas yang tersendat. "Kecelakaan yang melibatkan mobilnya dan kereta api membuat tubuh Papa hancur. Mirip seperti daging giling dengan darah yang membasahi seluruh kabin mobil. Bahkan, relawan dan petugas kepolisian yang mencari sisa-sisa tubuh Papa tidak menemukan kepalanya. Dan hanya tangan serta kaki papa yang dikuburkan."
Aku menengadah seketika, mengalihkan pandanganku ke atas.
Di depan mataku, jajaran pegunungan Yangpyeong berdiri dengan begitu megah, indah, dan kokoh. Di bawahnya, permukaan air Dumulmeori membentang sangat tenang, memantulkan pendar keemasan dari matahari sore yang mulai bergeser ke barat. Nyanyian alam—gesekan dahan, kecipak air yang membentur celah bebatuan, dan kepakan sayap burung—terdengar begitu nyaring di telingaku saat aku berusaha mengingat setiap kepingan peristiwa naas itu.