Pukul tujuh malam di pedesaan Yangpyeong-eup menyapa dalam balutan hening yang karismatik. Udara dingin musim semi pertengahan April merayap perlahan menembus celah-celah papan kayu di teras rumah tradisional hanok milik Nenek Sun-ja. Aku duduk bersila di atas bilah kayu teras yang dihaluskan, membiarkan jemariku tenggelam di antara bulu lebat hitam putih milik seekor anjing ras Border Collie. Hewan itu merebahkan moncong dan kepalanya dengan begitu pasrah di atas pangkuanku, mengembuskan napas teratur yang menyalurkan rasa hangat ke kain celanaku.
Di depan mataku, bentangan pekarangan rumah kayu ini tampak begitu bersahaja namun kaya akan jejak kehidupan.
Sekitar lima puluh meter di sebelah kiri bangunan utama, berdiri sebuah area peternakan kecil bertiang kayu kokoh. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat siluet lima ekor sapi berbadan tegap dan lima ekor domba berbulu tebal yang bergerak santai di dalam kandang beratap jerami. Beberapa ekor bebek dan ayam petelur berkeliaran pelan di sekitar pagar pembatas.
Yang membuat dadaku berdesir halus adalah bagaimana rumah tradisional di pinggiran Yangpyeong-gun ini menyimpan denyut Indonesia yang teramat kental. Di sudut teras tempatku berteduh, sebuah lentera kayu bergaya Jawa dipasang menyatu dengan tiang penyangga hanok. Dari celah pintu tengah yang agak terbuka, mataku menangkap lembaran kain batik bergelombang melingkari meja tamu utama, dipadu dengan beberapa kerajinan ukiran kayu jati khas Semarang yang tertata rapi di atas rak pajangan.
Nenek Sun-ja benar-benar menjaga akar sejarah keluarganya. Garis keturunan Semarang yang mengalir di tubuhnya tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, melainkan ruh yang dihidupkan di dalam setiap sudut rumah kayu ini.
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan dedaunan segar yang terbawa angin malam.
Meninggalkan Seoul dan menginjakkan kaki di Yangpyeong-gun terasa bagai menemukan penawar racun temporary. Tempat ini adalah obat penenang sementara—sebuah ruang jeda dari teror memori yang selalu mengintai kepalaku. Namun jauh di dasar batin, ada kecemasan tipis yang mulai merayap. Aku tahu ketenangan di teras ini tidak akan bertahan selamanya. Beberapa jam lagi, aku harus kembali ke Seoul, melangkah masuk ke dalam officetel Hapjeong yang sempit, dan berbaur kembali dengan kesendirian yang melapukkan jiwaku.
Suara gesekan langkah kaki dari arah koridor dalam rumah membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke belakang. Di ambang pintu dapur kayu, Seojun melangkah keluar. Langkah kakinya yang tenang mendadak terhenti saat menyadari mataku tertuju padanya. Pria berpostur tinggi tegap itu berdiri kikuk, menatapku dari balik lensa kacamata tipisnya.
Yang membuat dadaku bergetar kaget—lalu meledak dalam kekehan pelan—adalah selembar celemek kain yang melingkar di leher dan pinggang Seojun. Celemek itu berwarna kuning muda dengan kain katun yang dihiasi cetakan pola bunga-bunga kecil berwarna merah muda. Postur tegap seorang kapten penerbangan berotot presisi berusia tiga puluh lima tahun itu tampak teramat kontras dan menggelikan saat dibalut oleh celemek manis milik neneknya.
Aku menutupi mulutku dengan telapak tangan, namun tawa kecil tetap lolos berderai dari celah jemariku.
Melihat rona merah yang terbit di pipiku dan tawa murni yang memancar dari mataku, Seojun terpaku sejenak. Ada binar kehangatan yang mendalam memancar dari sepasang mata sipitnya. Hatinya berdesir hebat—sebuah sensasi lega dan bahagia yang tak terkira saat menyaksikan tawa lepas pertamaku semenjak ia merenggutku dari ambang besi Jembatan Mapo. Bagi Seojun, terlihat konyol dan mengundang tawa di depanku adalah harga yang teramat murah untuk dibayar.
"Aku sama Nenek udah selesai masak," ujar Seojun, berpura-pura merapikan simpul celemek di belakang pinggangnya demi menutupi rasa canggung. Suaranya mengalun rendah dan hangat. "Ayo masuk dan makan, pasti kamu bakalan suka."
Aku mengangguk pelan, mengusap kepala anjing Border Collie di pangkuanku sebelum berdiri dari bilah kayu teras. Aku melangkah menyusul Seojun masuk ke dalam area ruang makan rumah utama.
Atmosfer meja makan tradisional di rumah kayu Nenek Sun-ja menghadirkan lanskap visual yang begitu memikat hati.
Di atas meja kayu jati berpelitur cokelat tua yang rendah, berjejer rapi jajaran hidangan khas Korea yang disajikan dengan kehangatan rumahan. Semangkuk nasi putih hangat mengepul lembut di dalam gonggi—mangkuk logam tahan panas berbahan stainless steel dengan tutup bundar mengilap. Di sebelahnya, kuah cokelat pekat doenjang-guk menguarkan aroma gurih khas pasta kedelai fermentasi yang beradu dengan potongan tahu halus dan daun bawang.
Sepiring penuh bulgogi sapi bertengger tepat di tengah meja, memancarkan kilau kecokelatan berkat balutan minyak wijen dan wijen sangrai yang harum. Di sekelilingnya, mangkuk-mangkuk keramik kecil menampung variasi namul musim semi yang segar, irisan hobak-jeon berbentuk lingkar keemasan, potongan tahu goreng lembut, serta lembaran kimchi sawi putih berwarna merah membara yang jelas diproduksi dari fermentasi buatan tangan Nenek sendiri.
Tidak ada satu pun masakan berpenampilan mewah ala restoran bintang lima di atas meja ini. Namun, kombinasi uap hangat dan aroma rempah gurih yang membumbung tinggi membuat kerongkonganku bergetar. Meja makan ini menyajikan sesuatu yang sudah empat bulan lamanya hilang dari duniaku: sebuah kehangatan meja makan keluarga.
Di sudut meja, Nenek Sun-ja tampak sibuk menata sendok berkaki panjang dan sumpit logam di atas tatakan keramik. Sementara itu, Seojun melangkah kembali dari arah dapur setelah melepaskan celemek bunganya, membawa sebuah nampan kayu berisikan tiga gelas bening.
Cairan di dalam gelas bening itu memancarkan warna merah keunguan yang teramat cantik dan jernih. Uap dingin membasahi dinding luar gelas, menandakan kesegaran racikan minuman bernama Omija-cha—teh tradisional dari ekstrak buah omija yang terkenal akan lima cita rasanya.
Aku mematung menatap pendar merah di dalam gelas saat Seojun meletakkannya dengan pelan di depan pijakan dudukku.
Nenek Sun-ja menghentikan gerak tangannya, menengadah menatapku dengan sudut mata yang menyipit lembut di balik kacamata tipisnya. "Viona sudah pernah minum omija?" tanya Nenek Sun-ja dengan nada suara yang teramat halus.
Aku menundukkan kepala sedikit, memberikan penghormatan sopan. "Belum, Nenek. Viona baru pertama kali ke Korea, jadi Viona belum banyak merasakan makanan Korea kecuali makanan instan di apartemen."
Nenek Sun-ja tertawa kecil—sebuah tawa hangat bergetar yang membuat garis-garis usia di sekitar pipinya tampak teramat manis. "Seojun harus sering mengajak kamu ke sini. Tidak baik makan makanan instan terus."
Nenek Sun-ja lalu mengibaskan telapak tangannya pelan, menyilakanku untuk segera duduk. "Ayo duduk dan makanlah yang banyak."
Aku melipat kakiku di atas bantal duduk kain, meraih sumpit logam, dan mulai menyuapkan kepingan hidangan satu demi satu ke dalam mulutku.
Pada suapan pertama—saat gurihnya Daging bulgogi yang empuk berpadu dengan manisnya kecap dan legitnya nasi putih di dalam gonggi menyapa lidahku—mataku melebar pelan. Rasa masakan ini teramat bersahabat di indra pengecapku. Ada kehangatan luar biasa yang meresap turun melintasi kerongkonganku, memacu selera makan yang selama empat bulan terakhir terkunci rapat.
Aku menyantap hidangan itu dengan sangat lahap. Aku menjejalkan kepingan hobak-jeon dan suapan nasi berikutnya tanpa jeda, menikmati setiap sensasi rasa segar yang ditawarkan oleh namul dan kuah doenjang-guk. Aku tidak tahu secara pasti pemicu di balik kerapuhan selera makanku malam ini—apakah karena lambungku yang memang telah keroncong parah, ataukah karena jiwaku sedang menemukan jeda dari gempuran memori kelam di bawah naungan rumah Nenek Sun-ja.
Melihat gelombang semangat di wajahku dan kedua pipiku yang membengkak penuh oleh makanan yang dikunyah, Seojun yang duduk di sebelah kananku menyunggingkan senyum tipis.
"Gimana masakan Nenek sama masakanku? Enak?" tanya Seojun pelan, menyandarkan sikunya di tepi meja.
Aku mengangguk cepat bertubi-tubi tanpa sanggup bersuara. Bibirku mengatup rapat menahan makanan yang tertahan di dalam rongga mulut, membuat penampilanku tampak seperti seekor tupai yang sedang menimbun makanan di pipi.