Sinar matahari pagi menembus celah tirai officetel Hapjeong dengan pendar keemasan yang lembut. Aku membuka kelopak mataku perlahan pada pukul 06.30 KST. Hawa dingin musim semi di awal Mei masih tersisa tipis di udara, menyentuh permukaan pipiku yang menyembul dari balik selimut. Seperti pagi-pagi sebelumnya semenjak tragedi 15 Desember itu, bentangan bayang-bayang kelam tentang Papa tidak pernah benar-benar lenyap dari dasar benakku. Mimpi buruk tentang derit roda besi kereta api dan sirine perlintasan masih sempat bertandang singkat sebelum aku terbangun.
Namun, ada sesuatu yang telah bergeser di dalam dadaku.
Aku tidak lagi terbangun dengan napas yang memburu histeris. Aku tidak lagi dipaksa mencengkeram pelipisku sendiri demi mengusir bayangan hancur yang membakar ingatan. Dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir—sejak jemari tegap Seojun merenggutku di Jembatan Mapo dan kehangatan rumah kayu Nenek Sun-ja menyapa jiwaku di Yangpyeong-gun—tubuhku perlahan menemukan ritme pertahanannya sendiri. Aku mulai menerima bahwa ingatan tentang Papa akan selalu ada sebagai cermin kasih sayang, bukan lagi sebagai racun yang harus membunuh jalanku.
Aku mulai makan tiga kali sehari dengan porsi yang wajar. Mangkuk-mangkuk nasi gonggi yang dulu terasa bagai bongkahan batu kini bisa meluncur mulus melewati kerongkonganku. Aku mulai menikmati ritme-ritme kecil yang semula terasa melumpuhkan: mengaduk kuah sup di atas kompor listrik, berjalan kaki dua ratus meter menuju bilik laundry koin di sudut Dongmak-ro, atau sekadar berdiri menghirup udara pagi di luar pintu utama officetel.
Aku belajar memaklumi mimpi sialan yang terus mengganggu tidurku, membiarkannya berlalu bagai embusan angin tanpa harus meruntuhkan seluruh hariku.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di atas bantal. Layar digitalnya menyala tipis, menampilkan angka nol enam lewat tiga puluh sembilan menit. Sembilan menit telah mengalir begitu saja sementara aku masih bergeming menikmati kehangatan selimut.
Sebuah helaan napas halus lolos dari bibirku. Aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk bermalas-malasan. Hari ini, tanggal 1 Mei dua 2025, aku memiliki janji perjalanan dengan Seojun dan Yeon. Sebelum Seojun berangkat bertugas memimpin penerbangan jarak jauh menuju Minneapolis malam nanti, kami bertiga telah sepakat untuk menghabiskan separuh hari bersama di kawasan Seongsu-dong. Dan aku harus bersiap sebelum kakak beradik keluarga Han itu mengetuk pintu apartemenku.
Aku menyibak selimut, menurunkan kedua kakiku ke atas lantai kayu yang dingin, lalu berdiri tegak di samping ranjang.
Pandanganku jatuh pada permukaan kasur busa tunggalku yang berantakan. Seprai kain berwarna abu-abu muda terlipat tidak beraturan, sementara bantal dan selimut tebal menumpuk di satu sisi. Aku menggelengkan kepala pelan. Tidak, aku tidak boleh membiarkan tempat ini terbengkalai begitu saja.
Satu hal yang kerap menyentil kesadaranku setiap kali berkunjung ke apartemen high-rise milik Seojun di Mapo Hangang Prugio adalah tingkat kedisiplinan pria itu. Hunian mewah tempat tinggal Seojun dan Yeon selalu menyajikan tata letak barang yang teratur presisi. Tidak ada kemeja yang tergantung serampangan, tidak ada cangkir kopi bekas yang dibiarkan menumpuk di atas meja, dan dinding-dinding ruangannya dihiasi pajangan lukisan kanvas buatan Yeon yang tertata rapi dalam kurasi yang sangat bersih.
Meskipun aku hanya menghuni sebuah officetel sewaan berukuran kurang dari tiga puluh meter persegi, aku menyimpan dorongan kuat untuk menata ruang hidupku dengan cara yang sama. Kerapian lingkungan luar perlahan memberi rasa kendali atas kerapian di dalam kepalaku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menata ulang seluruh isi lemari dan rak bukuku saat tidak ada jadwal keluar apartemen nanti.
Aku merapikan permukaan seprai, menarik setiap sudutnya hingga tegang tanpa lipatan, lalu menata posisi bantal di pangkal ranjang.
Sebelum melangkah pergi, aku meraih sebuah botol kaca bening dari atas nakas—L'Occitane Cocon de Sérénité Pillow Mist, semprotan kain beraroma minyak esensial lavender, bergamot, dan clary sage yang kerap membantuku mengendapkan kecemasan sebelum tidur. Aku menekan katupnya tiga kali di atas permukaan seprai dan bantal. Aroma herbal yang lembut dan menyegarkan seketika menguap di udara, membungkus kamar mungilku dalam keharuman yang menenangkan.
Setelah memastikan kamar tidurku dalam kondisi rapi, aku melangkah menuju kamar mandi dan menutup pintunya dari dalam.
Air hangat jatuh dari shower tepat ketika aku memejamkan mata.
Entah sudah berapa lama aku tidak menikmati mandi pagi seperti ini. Biasanya aku baru menyentuh kamar mandi ketika tubuhku sudah tidak sanggup menunda lagi—sebuah rutinitas berat yang kerap kurasakan sebagai beban menyiksa saat depresi mendalam melahap habis seluruh energiku. Bangun, berjalan beberapa langkah dengan kaki lemas, membuka keran, lalu kembali menjejalkan diri ke balik selimut. Bahkan membiarkan uap air mengenai kulit terkadang terasa seperti pekerjaan yang terlalu memeras tenaga.
Tapi pagi ini berbeda. Aku tidak tahu secara pasti pemicunya. Mungkin karena kehangatan lantai kayu Yangpyeong yang masih berbekas di hatiku, atau mungkin karena hari ini aku akan pergi bersama Seojun dan Yeon. Ada sesuatu yang kutebak sebagai rasa antusias kecil—sebuah penantian bersahaja yang telah lama absen dari kehidupanku.
Aku mengusap wajahku yang basah dengan kedua telapak tangan, lalu mendongak, membiarkan aliran air hangat kembali membasahi rambut cokelat gelapku yang tergerai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak terburu-buru keluar dari bilik pancuran. Sebuah senyum tipis yang tulus terbit di sudut bibirku saat melihat uap air memenuhi cermin. Mungkin hari ini memang akan menjadi hari yang menyenangkan.
Beberapa menit kemudian, aku mematikan keran pancuran, melilitkan handuk bersih di kepala, dan mengenakan bathrobe kain katun berwarna hitam tebal yang membungkus rapat tubuhku hingga batas lutut.
Aku melangkah keluar dari bilik mandi. Cermin berbingkai kayu di atas wastafel masih tertutup embun putih yang tebal. Aku mengulurkan tangan kanan, menyapu permukaan kaca tersebut dengan telapak tanganku hingga siluet wajahku terpapar jelas. Aku mengambil botol pelembab, mengusapkan krim tipis ke permukaan kulit wajahku, lalu memoleskan lip tint berwarna soft rose yang memberikan rona segar alami pada bibirku tanpa terkesan mencolok.
Aku mengeringkan rambutku menggunakan alat pengering hingga helaian cokelatnya benar-benar kering dan halus. Aku ingin tampil sebaik mungkin hari ini, memberikan kesan segar sebelum mengantar Seojun berangkat menuju bandara untuk tugas penerbangan jarak jauhnya.
Namun, tepat saat jemariku memegang gagang pintu kamar mandi untuk melangkah ke area utama, telingaku menangkap nada digital dari tombol smart door lock di pintu depan yang ditekan dari luar.
Tidak ada insting bahaya atau ketakutan yang muncul di dalam dadaku. Aku tahu persis siapa yang memegang kombinasi angka sandi apartemenku. Kalau bukan Yeon yang meminjam tempat tidur, sudah pasti Seojun yang datang memastikan keberadaanku.
Dan tebakanku terbukti sepenuhnya.
Begitu engsel pintu kayu terdorong terbuka, dua sosok bertubuh tinggi melangkah masuk ke dalam area vestibula. Seojun dan Yeon berdiri rapat di depan pintuku, membawa empat kantong plastik belanjaan besar berwarna putih yang mengelembung penuh di kedua belah tangan mereka.
Aku mematung di ambang pintu kamar mandi dengan tubuh masih terbalut bathrobe hitam. "Kalian beli apa aja?" tanyaku polos, menatap tumpukan kantong plastik itu dengan mata membola.
Seojun yang berdiri di sisi kanan hanya meringis pelan, menyunggingkan senyum kaku di balik lensa kacamata tipisnya demi menutupi rasa canggung. Pria itu menundukkan kepala sedikit, lalu melangkah melewatiku untuk meletakkan seluruh kantong belanjaan berat itu di atas meja kayu mungil depan layar televisi.
Sementara itu, Yeon menyengir lebar, menampilkan garis sepasang mata sipitnya yang menyipit manis.
"Kata Oppa, kulkas Eonnie kosong melompong," jawab Yeon santai, melepaskan sepatu ketsnya di batas pintu. "Jadi pas kelar jogging subuh tadi, aku sama Oppa mampir ke supermarket besar di kawasan Hapjeong buat belanja keperluan Eonnie. Soalnya rencananya, aku mau menginap di rumah Nenek Sun-ja selama Oppa terbang ke Minneapolis."
Penjelasan polos dari gadis itu membuatku tertegun bisu di tempatku berdiri.
Pandanganku bergulir menatap Seojun yang sedang mengeluarkan kotak-kotak susu segar, kemasan daging sapi potong, sayuran musim semi, telur, hingga beberapa pak buah stroberi segar dari dalam kantong plastik. Bahkan aku sendiri sama sekali belum memikirkan rencana untuk mengisi ulang bahan makanan di kulkas dalam waktu dekat. Mengapa justru Seojun dan Yeon yang bergerak jauh lebih cepat dan memikirkan kelangsungan hidupku melebihi diriku sendiri?
Melihatku mematung tanpa bersuara, Yeon memiringkan kepalanya sedikit. "Eonnie enggak apa-apa, kan?"
Aku tersentak tipis dari lamunanku. Aku memaksakan sebuah senyum tipis di bibir, mengangguk pelan sembari merapatkan belahan bathrobe di dadaku. "Enggak apa-apa, Yeon. Tapi ini semua terlalu merepotkan kalian."
Namun, ucapan rendah diriku itu rupanya tidak bisa diterima begitu saja oleh Seojun.
Pria itu menghentikan aktivitas menata kotak susu di atas meja. Seojun memutar tubuhnya, melangkah mendekatiku dengan ritme tenang. Tanpa ragu, kedua telapak tangannya yang besar dan hangat mendarat tepat di atas kedua bahuku yang terbalut kain bathrobe hitam tebal.
"Kamu sama sekali enggak merepotkan, Viona," tutur Seojun dengan nada suara yang teramat rendah, lurus, dan hangat. Sepasang matanya menatap langsung ke dalam manik mataku. "Aku bakalan lama perginya, dan Yeon juga bakalan beberapa hari di rumah Nenek. Jadi aku harus pastikan kebutuhan kamu di kulkas cukup sampai aku pulang. Baru hari Minggu nanti aku sampai kembali di Korea. Jujur, aku enggak tega ninggalin kamu sendirian di sini. Dengan kondisi kamu yang seperti ini, aku harap aku bisa selalu ada di samping kamu. Tapi aku enggak bisa ninggalin tanggung jawab pekerjaanku."
Kata-kata Seojun mendarat bagai tamparan halus yang menusuk pusat kesadaranku.
Rona hangat di wajahku mendadak surut. Ada gelombang rasa bersalah yang merayap cepat, membakar batin emosionalku. Aku menyadari betapa besarnya beban tanggung jawab penerbangan yang dipikul oleh pria berusia tiga puluh lima tahun ini sebagai seorang kapten pilot. Sebelum ia tidak sengaja menarikku dari besi Jembatan Mapo, kehidupan Seojun pasti berjalan sangat tenang dan bebas. Pria itu tidak harus membagi fokusnya untuk mengkhawatirkan seorang perempuan asing yang mengidap gangguan jiwa, perempuan rapuh yang saban hari hanya bergulat dengan pikiran tentang cara mengakhiri hidupnya sendiri.
Mengapa pria sebaik Seojun harus terbeban oleh keberadaanku?
Perubahan mendadak pada raut wajah dan sorot mataku yang melayu tidak lolos dari pengamatan Seojun. Tanpa menjawab patah kata pun, aku menggeser bahuku pelan, melepaskan cengkeraman tangannya, lalu berjalan melewati tubuh tegapnya. Aku mendaratkan tubuhku di pinggiran ranjang, menundukkan kepala dalam-dalam sembari meremas kain bathrobe di atas pangkuanku. Keinginan untuk merias diri dan memilih pakaian bagus yang semula membakar semangatku kini meluap.