Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #8

Bab 7. Aku Baik-Baik Saja

Kelopak mataku terbuka lebar tepat saat angka digital di layar ponselku berganti menjadi pukul 05.00. Tidak ada dering alarm yang melengking. Tidak ada pula kelelahan yang biasanya menggelayuti kelopak mataku saat tubuh dipaksa bangun di pagi hari. Aku membanting selimut tebal ke samping, melipat kedua kakiku, lalu duduk tegak di atas ranjang dengan lingkar dada yang membusung penuh oleh dorongan energi yang luar biasa kuat.

Semalam, aku baru merebahkan tubuhku pada pukul tiga pagi setelah menghabiskan waktu berjam-jam membaca ulang artikel-artikel seni rupa dan menata ulang susunan piring di rak dapurku. Dan sekarang, pada pukul lima pagi tanggal 3 Mei 2025, aku sudah terbangun sepenuhnya. Hanya dua jam tidur, namun rasanya seluruh sel di dalam tubuhku telah diremajakan secara ajaib.

Aku menyapu leher dan pelipisku dengan jemari tangan. Tidak ada peluh dingin. Tidak ada jantung yang berdegup histeris akibat kejaran lokomotif kereta api.

Sebuah senyum lebar merekah murni di wajahku.

Sudah lama sekali aku tidak terbangun dengan perasaan sebergairah ini. Rasa kantuk yang biasanya menjadi musuh bebuyutanku sewaktu tenggelam dalam depresi berat di Solo kini meluap habis tanpa sisa. Aku mengepalkan kedua tanganku di udara, merasakan getaran hangat yang mengalir di sepanjang pembuluh darahku.

Inilah yang dinamakan kesembuhan.

Aku membatin mantap, menyimpulkan kondisi fisikku dengan tingkat keyakinan yang bulat. Selama ini, ketakutanku akan luka trauma dan diagnosa PTSD hanyalah belenggu pikiran yang sengaja kubesar-besarkan. Hari ini, di bawah naungan langit musim semi Seoul, jiwaku telah menemukan kembali pijakan kekuatannya. Aku sudah benar-benar sembuh.

Aku melompat turun dari ranjang, melangkah cepat menuju kamar mandi untuk membasuh wajah.

Pukul 07.00 waktu Seoul, aku duduk di tepi kasur sembari memegang ponselku. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir—setelah berbulan-bulan mengurung diri dan mengabaikan ratusan notifikasi pesan yang menumpuk—jemariku bergerak lincah mengetik balasan pada gelembung obrolan yang terabaikan.

Aku membalas pesan Mbak Ririn, rekan kerjaku sesama Business Coordinator di kantor Solo, mengabarkan bahwa keadaanku di Korea sudah jauh lebih membaik. Aku juga menyusun kalimat-kalimat ramah untuk Oom Nico, Kavian, dan Tante Laras, mengucapkan terima kasih atas perhatian mereka dan memohon maaf atas kebisusanku selama ini. Ada secercah kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadaku saat melihat gelembung pesan balasan itu terkirim satu demi satu.

Aku menggeser layar, membuka aplikasi pemutar musik Spotify, dan menyambungkan koneksinya ke pengeras suara nirkabel mungil di atas nakas.

Detik berikutnya, alunan nada energetik dari lagu Believer milik Imagine Dragons menghentak memenuhi ruang apartemenku. Aku bersenandung keras mengikuti lengkingan vokal sang penyanyi, menggerakkan bahuku dalam irama yang penuh gairah. Lagu berganti ke Sugar milik Maroon 5, lalu melompat ke tembang pop berirama cepat milik Britney Spears. Musik-musik berenergi tinggi yang dulu sempat terasing dari duniaku kini kembali bergema, membakar semangatku untuk segera melangkah keluar menaklukkan kota Seoul.

Satu jam kemudian, aku telah berdiri rapi di samping meja dapur. Aku meraih kunci mobil Genesis GV80 milik Seojun yang bertengger di atas baki keramik, menyangkutkan tas bahu kulit cokelat tuaku, dan melangkah keluar dari apartemen Hapjeong dengan derap langkah yang mantap.

Deru mesin SUV mewah berwarna hitam itu mengalun halus saat aku membawanya keluar dari basement B2 menuju jalan raya Hapjeong.

Pagi itu, arus lalu lintas di sepanjang Jalur Tol Bebas Hambatan Gangbyunbuk-ro mengalir lancar. Di sebelah kanan kendaraanku, bentangan perairan Sungai Han berkilauan menimpa pendar matahari pagi yang cerah. Rute perjalanan dari Hapjeong menuju kawasan Seongsu-dong menempuh waktu sekitar dua puluh lima menit berkendara. Di sepanjang jalan, aku ikut bersenandung mengikuti alunan musik K-Pop berirama cepat yang mengudara dari panel head unit mobil Seojun.

Ada dorongan kuat yang meledak-ledak di dalam dadaku—sebuah keinginan mendesak untuk berbelanja, memanjakan diri, dan menghabiskan uang untuk barang-barang bagus di kawasan Seongsu-dong.

Dua puluh lima menit berlalu hingga Genesis GV80 memelankan lajunya, membelok masuk ke dalam slot area parkir umum di dekat kawasan Yeonmujang-gil—sebuah kawasan jalan utama di Seongsu-dong yang tersohor sebagai pusat konsentrasi ritel modern, butik perancang busana lokal, dan pop-up store paling trendi di kota Seoul.

Begitu aku melangkah keluar dari kabin mobil, embusan angin musim semi yang hangat menyapa wajahku. Aku mengaitkan tali tas bahu kulit cokelatku, lalu melangkah percaya diri menelusuri trotoar bata Yeonmujang-gil.

Destinasi pertamaku adalah butik busana LOW CLASSIC Seongsu yang bertempat di Jalan Yeonmujang 86.

Bangunan butik itu berdiri anggun dengan gaya arsitektur minimalis modern. Dinding-dindingnya didominasi warna putih bersih dan abu-abu semen bertekstur halus, dipadu dengan panel kaca besar transparan yang memperlihatkan kurasi pakaian bergaya clean, sophisticated, dan elegan di dalamnya.

Saat aku mendorong pintu kaca butik, dua orang staf karyawan perempuan menyambutku dengan senyuman hangat dan anggukan kepala yang sopan. Aku membalas salam mereka dengan senyuman cerah, melangkah menelusuri jajaran gantungan busana yang tertata presisi di atas rak besi minimalis.

Sepuluh menit berlalu hingga pandanganku bertengger pada selembar blazer oversized berwarna abu-abu muda yang tergantung anggun di sudut ruangan. Bahan kain wool buatannya terasa begitu lembut dan tebal saat disentuh oleh jemariku.

Aku menarik blazer itu dari gantungan, membawanya melangkah ke depan cermin tinggi di sudut fitting room.

Awalnya, ketika melapiskan blazer itu di atas kaos putihku, aku sedikit mengernyitkan dahi. "Terlalu kaku," gumamku lirih sembari meneliti siluet bahunya yang lebar. "Kebesaran banget."

Namun, dorongan dalam kepalaku menolak untuk menyerah begitu saja. Aku menyingsingkan kain lengan blazer abu-abu itu hingga melipat tepat di bawah siku tangan, lalu membetulkan letak kerahnya. Dan seketika itu pula, penampakan visual di balik kaca cermin berubah drastis. Potongan oversized-nya yang jatuh di bahuku mendadak memberikan impresi yang sangat tajam, modern, dan penuh gaya.

Sebuah senyum puas terbit di bibirku. "Oh, ternyata bagus banget, okay, I’ll take it," gumamku antusias.

Tanpa memikirkan harganya yang tertera cukup mahal di lembaran tag kertas, aku membawa blazer abu-abu itu melangkah menuju meja kasir di area depan.

Di balik meja kasir berwarna krem, seorang staf perempuan berambut bondol pendek berwarna cokelat terang menyambutku dengan ramah. Ia mengambil blazer abu-abu dariku, memindai kode batang barang tersebut, lalu menatapku saat aku mengeluarkan kartu debit dari dalam dompet.

Saat jemariku menyerahkan kartu debit, pandangan mata kasir perempuan itu tidak sengaja bertengger pada tas bahu kulit yang kulingkarkan di bahu.

Tas yang kubawa berwarna cokelat tua dengan bentuk kotak yang sederhana dan tegas. Bahannya terbuat dari kulit sapi asli yang bertekstur lembut. Di salah satu sisi tali pegangannya, tergantung sepotong kain batik tulis berukuran kecil yang kuikat rapi membentuk simpul sederhana. Motif parang berwarna cokelat keemasan pada kain batik itu menyembul tipis di antara pekatnya warna kulit tas. Gantungan batik itu sudah bertengger di sana sejak aku masih berkuliah di UGM, sebuah kenang-kenangan kecil yang hampir lupa pernah kupasang.

"Sillyemanida," panggil kasir perempuan itu pelan, menatapku dengan binar mata yang sarat akan rasa penasaran.

Aku mengerjapkan mata sejenak, tersadar bahwa ia sedang mengarahkan artikulasi bicaranya padaku. "Ne?" balasku dengan suara yang serak namun ramah.

Kasir berambut bondol itu menunjuk ke arah simpul kain batik di tali tas bahuku dengan ujung jemarinya. "Igeo, hoksi batik-ieyo?"

Bibirku sedikit menganga kaget, lalu sebuah senyum hangat yang jujur terulas di wajahku. "Ah, ne. Majayo."

Kasir itu menempelkan kartu debitku ke mesin transaksi digital. Nada konfirmasi transaksi pendek bergema halus di atas meja, menandakan bahwa pembayaran blazer mahal itu telah berhasil diproses sepenuhnya.

Sembari menyerahkan kembali kartu debit dan melipat blazer abu-abu itu ke dalam paper bag tebal, kasir perempuan itu kembali mendongak menatapku. "Indonesia-eseo geoyeyo?"

Aku mengangguk cepat dengan artikulasi yang jernih. "Ne, Indonesia saram-ieyo."

"Yeoksi!" seru kasir itu pelan sembari menyunggingkan senyum lebar yang sangat bersahabat.

Aku terkekeh kaget melihat ketepatan tebakannya, memasukkan kartu debit ke dalam dompet lalu bertanya santai. "Eotteoke asyeosseoyo?"

Kasir itu menundukkan kepala sedikit, merapikan tali paper bag di atas meja. "Maltuga jogeum dallaseoyo."

Tawa kecil yang malu-malu lolos dari celah bibirku. "Hangugo ajik jal motaeyo."

Dengan kedua mata yang membelalak lebar, kasir berambut bondol itu dengan cepat menggelengkan tangannya di udara—merasa khawatir bahwa kalimatnya baru saja menyinggung tingkat kefasihan bahasa Korea yang aku ucapkan. "Aniyo! Jalhasineundeyo!"

Melihat kepolosan dan ketakutan manis dari staf butik tersebut, tawa lepas yang hangat kembali mengalir dari dadaku. "Gomawoyo."

Lihat selengkapnya