Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #9

Bab 8. Tawa yang Menyembuhkan

Mangkuk-mangkuk keramik yang tertata rapi di atas meja depan layar televisi membumbungkan uap hangat yang sarat akan aroma rempah. Malam baru saja merayap melewati angka pukul 19.30 waktu Korea Selatan pada tanggal 5 Mei 2025. Di dalam ruang officetel Hapjeong berukuran kecil ini, uap gurih dari kuah soto daging sapi beradu manis dengan kesegaran irisan daun jeruk, ketumbar, memar serai, dan taburan bawang merah goreng yang renyah. Di piring-piring pendamping, terhampar potongan emping melinjo keemasan, irisan jeruk nipis segar, mangkuk sambal cabai rawit merah yang membakar, serta kepingan tahu goreng yang masih panas.

Aku berdiri di batas area dapur, menatap hasil olahan tanganku dengan senyum puas yang mengembang lebar di bibir.

Aroma soto daging ini lahir dari sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Seojun beberapa jam lalu sebelum ponselnya dimatikan di Bandara Minneapolis. Pria itu sempat berbisik mengeluh bahwa ia sangat merindukan masakan berkuah gurih khas Indonesia—kuliner yang terakhir kali ia cicipi sewaktu bertandang ke Semarang pada bulan Januari lalu. Dan dengan gelombang energi yang meluap-luap di dalam dadaku sejak tadi malam, aku menyanggupi permintaan itu tanpa ragu.

Sejak pukul delapan pagi hingga jarum jam menyentuh pukul tiga sore, aku menjelajahi beberapa pertokoan bahan pangan Asia di kawasan Itaewon dan minimarket impor di Mapo-gu. Kakiku melangkah lincah melintasi lorong-lorong kota tanpa merasakan kelelahan sedikit pun. Otot-otot tubuhku terasa begitu ringan, lentur, dan dipenuhi oleh daya dorong yang luar biasa kuat.

Inilah bukti nyata dari kesembuhanku.

Aku membatin mantap, menyapu pandanganku pada jajaran rempah yang kini menjelma menjadi hidangan lezat di atas meja. Rasa lesu dan kelelahan mental yang dulu melumpuhkan tubuhku semasa di Solo telah musnah sepenuhnya. Jiwaku telah kembali menemukan kekuatan utuhnya untuk bergerak, mencipta, dan memanjakan orang-orang yang kuhargai.

Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhku dari jelaga aroma dapur.

Air hangat meluncur deras dari kepala shower, membasahi helai-helai rambut cokelat gelapku dan menyapu permukaan kulit bahuku. Aku memejamkan mata, membiarkan uap air yang hangat meluruhkan sisa-sisa bau minyak wijen dan memar serai yang sempat melekat di pori-pori kulitku. Aku meraih botol pembersih rambut merek Ryoe beraroma herbal lembut, mengusapkannya ke kulit kepala hingga busa putih tebal melingkupi rambutku, lalu membilasnya hingga bersih. Untuk tubuh, aku mengaplikasikan sabun cair Illiyoon beraroma bunga melati yang menyebarkan keharuman manis dan menyegarkan di dalam bilik mandi.

Namun, tepat saat jemariku memutar katup keran shower hingga aliran air terhenti sepenuhnya, telingaku menangkap nada digital dari tombol smart door lock di pintu utama yang ditekan dari luar.

Aku menyapu embun tipis di pelipisku, meraih handuk bersih, lalu membungkus rapat tubuhku menggunakan bathrobe katun berwarna hitam tebal hingga batas lutut. Semula, aku mengira Yeon yang baru saja mendarat dari rumah Nenek Sun-ja di Yangpyeong-gun. Namun, begitu aku mendorong engsel pintu kamar mandi dan melangkah keluar, pandanganku seketika terkunci pada sosok yang berdiri di area vestibula.

Itu adalah Seojun.

Visualisasi pria berpostur tegap itu terpapar begitu karismatik dan gagah di bawah pendar lampu keemasan ruangan. Seojun berdiri dalam balutan seragam resmi kapten penerbangan Korean Air berwarna navy gelap yang masih melekat utuh dan presisi di tubuhnya. Jas double-breasted berpotongan tegas itu membingkai kemeja putih bersih dan dasi formal berwarna putih di balik kerahnya. Di kedua belah tangannya, bertengger dua bilah epaulet melingkar berhiaskan empat garis pita emas yang berkilau menimpa cahaya, dipadu dengan lencana sayap penerbang berbahan logam keemasan yang tersemat kokoh di dada kirinya.

Celana kain berwarna navy yang senada jatuh sempurna melingkupi kakinya, bertengger elegan di atas sepasang sepatu kulit hitam yang mengilap. Topi penerbang beremblem resmi tidak lagi dikenakannya di kepala; benda itu diapit rapi pada lengan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat gagang koper beroda yang telah menemaninya melintasi separuh belahan bumi dari Minneapolis.

Aku menyunggingkan senyum paling cerah dan hangat untuk menyambut kepulangannya. "Kamu baru sampai?"

Melihat senyum lebar yang merekah murni di wajahku, Seojun yang semula tampak sangat lelah refleks berbalik mengulas sebuah senyum manis. Sepasang matanya di balik kacamata tipis menyipit hangat, memancarkan binar lega yang tak terkira. Pria tiga puluh lima tahun itu sengaja menyunggingkan senyum terbaiknya demi menghargai usaha dan penantianku seharian ini.

Seojun meletakkan topi penerbangnya di atas baki keramik, lalu melepaskan pegangan koper berodanya di dekat dinding vestibula. Dengan langkah kaki yang sedikit berat akibat kelelahan fisik, Seojun berjalan melewati posisiku di ambang kamar mandi, melangkah mendekati ranjang tunggalku, dan menjatuhkan tubuh tegapnya di atas kasur busa. Pria itu berbaring terlentang dengan posisi kedua kakinya masih tergantung santai di tepi ranjang.

Aku melangkah mendekati tepi kasur, menatap raut wajahnya yang memejamkan mata. "Capek banget?"

Seojun mengembuskan napas panjang melalui hidungnya, mengangguk kecil tanpa membuka kelopak matanya. "Lumayan. Penerbangan dari Minneapolis tadi sempat ketemu cuaca buruk di atas pasifik."

Aku tersenyum halus, memutar tubuhku mendekati lemari pakaian di sudut ruangan untuk mengambil baju ganti. Dengan gerakan hati-hati dan cermat, aku menarik selembar tanktop kain katun bergaris warna hijau dengan tali tipis serta selembar celana jogger tebal berwarna hitam. Aku menyembunyikan pakaian dalam di balik impitan kain jogger agar tidak terlihat oleh Seojun.

Namun, saat aku berbalik berniat kembali ke kamar mandi, Seojun rupanya telah membuka kedua matanya. Pria itu duduk tegak di tepi kasur, menatapku lurus dalam hening yang pekat tanpa berkedip sedikit pun.

Melihat tatapannya yang begitu dalam terfokus padaku, aku menghentikan langkah. "Kenapa, Seojun?"

Seojun menengadah sedikit, menatap wajahku dari bawah. "Pesan kamu di KakaoTalk kemarin, kamu bilang aku harus langsung ke sini begitu mendarat karena kamu mau cerita banyak hal. Kamu mau cerita apa aja, Vio?"

Aku memukul dahiku pelan dengan telapak tangan kanan, terkekeh kaget. "Oh, iya! Ada, aku mau cerita satu hal penting. Tapi nanti ya, sambil kita makan malam. Aku ganti baju dulu sebentar."

Seojun mengangguk paham, kembali menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu, dan dengan lincah mengganti bathrobe hitamku dengan tanktop hijau bergaris dan celana jogger hitam. Hanya butuh waktu enam menit bagiku untuk menyelesaikan pakaian, menyapu pelembab wajah, dan menyemprotkan sedikit minyak wangi beraroma bunga melati di pergelangan tanganku.

Saat aku membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar, pemandangan di area pantry dapur mungilku seketika mencuri perhatianku.

Seojun tidak lagi mengenakan seragam pilot mewahnya. Pria itu telah berganti pakaian menggunakan kaos polos berwarna hitam berbahan katun lembut dan celana santai panjang tebal berwarna putih bersih yang ia ambil dari dalam kopernya. Rambut tebalnya yang semula tertata rapi kini sedikit berantakan secara alami, memberikan impresi kasual yang teramat tampan dan hangat.

Pria berkacamata itu sedang berdiri bersandar di tepi meja dapur, memegang sebuah sendok bebek keramik di tangan kanannya. Rupanya, Seojun tidak sanggup menahan diri dan telah lebih dulu mencicipi kuah soto daging dari dalam panci aluminium.

Mendengar derap langkah kakiku yang mendekat dengan rambut masih terbungkus handuk katun, Seojun menoleh. Sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa puas terulas di bibirnya.

"Aku curi start duluan," tutur Seojun dengan nada suara yang rendah dan hangat. "Soto daging bikinan kamu enak banget, Vio. Rasa kuahnya gurih dan rempahnya meresap sempurna. Kalau kamu tetap tinggal di sini terus, kayaknya aku enggak perlu terbang ke Indonesia setiap kali pengin kulineran."

Pujian lurus yang meluncur dari bibir Seojun menghadirkan gelembung hangat yang meletup-letup di dalam dadaku. Rona merah tipis menyembul manis di kedua belah pipiku. Sudah teramat lama aku tidak mendengar pujian atas masakan olahan tanganku sendiri. Dulu ketika di Solo, hanya almarhum Papa yang selalu memberikan pujian paling tulus setiap kali melihatku menghabiskan waktu di dapur untuk meracik berbagai hidangan.

"Serius enak?" tanyaku memastikan, mengaitkan tali tanktop hijauku.

"Serius, seratus persen enak," balasan Seojun mantap, meletakkan sendok bebeknya ke dalam mangkuk.

Seojun lalu meraih sebuah mangkuk logam tahan panas yang belum terisi nasi, melangkah mendekati meja kayu rendah di depan layar televisi tempatku telah menyajikan nasi putih hangat di dalam cooker. Kami berdua melipat kaki, mendudukkan diri bersisihan di atas karpet tipis.

Seojun mengulurkan tangan tangannya menjangkau area tempat tidurku, meraba permukaan seprai selama tiga detik hingga jemarinya menemukan perangkat remote televisi hitam. Pria itu hafal di luar kepala letak barang-barang kecil milikku yang sering kutaruh serampangan di atas kasur.

Dengan beberapa pijatan tombol, Seojun menyalakan layar televisi digital di hadapan kami, membuka aplikasi Netflix, dan memilih serial komedi-drama terbaru berjudul The Four Seasons yang baru saja dirilis resmi pada tanggal 1 Mei lalu.

Alunan nada musik pembuka serial televisi itu ikut mengiringi prosesi makan malam kami. Suasana ruang apartemen yang semula sunyi kini berubah menjadi begitu hidup dan hangat. Denting halus sumpit logam dan sendok yang membentur permukaan mangkuk keramik beradu manis dengan gelak tawa halus kami saat menyaksikan adegan jenaka di layar kaca.

Di tengah-tengah kunyahan soto dagingnya yang ketiga, Seojun memutar posisinya sedikit, menatap profil samping wajahku.

"Selama aku pergi ke Minneapolis lima hari kemarin, gimana hari-hari kamu di sini?" tanya Seojun pelan.

Lihat selengkapnya