Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #10

Bab 9. Angin di Atas Mapo Daegyo

Pukul lima pagi waktu Korea Selatan menyapa melalui celah tirai officetel Hapjeong dalam pendar keemasan yang teramat jernih. Aku menyibak kain tirai tipis di samping jendela, menatap lanskap kota Seoul yang baru saja terbangun dari lelapnya. Di luar sana, hawa dingin musim semi berembus pelan, membungkus jalanan bata Dongmak-ro yang masih lengang. Tidak ada jejak kelelahan yang tersisa di kelopak mataku. Padahal, aku dan Seojun baru saja mematikan layar televisi dan merebahkan tubuh pada pukul dua subuh tadi, setelah menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan serial drama dan saling bertukar cerita hingga larut.

Hanya tiga jam tidur, namun rasanya seluruh sel di dalam tubuhku telah dibakar oleh gelombang daya dorong yang luar biasa melimpah.

Pembuluh darah di sepanjang leher dan lenganku bergetar halus oleh sensasi hangat yang tak membendung. Aku memutar tubuhku, melangkah dengan derap kaki yang teramat ringan dan penuh semangat menuju kamar mandi. Di depan kaca wastafel, aku menggosok gigi dan membasuh wajahku dengan basuhan air dingin yang menyegarkan. Sembari menepuk-nepuk pipiku, celah bibirku secara alami menyanyikan bait-bait lagu Young and Beautiful milik Lana Del Rey dengan nada vokal yang renyah dan riang.

Saat aku mendorong pintu kamar mandi dan melangkah keluar, sosok Seojun yang sedang menggeliat di atas ranjang seketika menangkap pandanganku.

Pria berpostur tegap itu baru saja mengumpulkan kesadarannya. Seojun duduk melipat kakinya di atas kasur busaku, sementara selimut kain tebal masih menangkup separuh paha dan kakinya. Rambut tebalnya yang sedikit berantakan pascatidur memberikan impresi kasual yang teramat tampan di bawah pendar lampu pagi.

Aku menyunggingkan senyum paling lebar dan cerah ke arahnya. "Selamat pagi!" seruku hangat, nada suaraku meluncur melengking riang.

Seojun mengerjapkan matanya beberapa kali di balik kelopak matanya yang masih berat. Pria itu menatapku dengan sudut mata yang menyipit kaku, tampak sedikit terkejut menyaksikan luapan energiku yang sudah membumbung tinggi di jam lima pagi.

Aku berjalan cepat mendekati nakas di samping ranjang, meraih selembar tisu kering untuk mengelap sisa-sisa bulir air di permukaan wajahku. Dengan gerakan jemari yang teramat cepat dan lincah, aku meraih ponsel digital di atas meja, membuka aplikasi WhatsApp, lalu mencari kontak nama Mbak Ririn.

Jemariku menari di atas papan ketik virtual dengan kecepatan tinggi, menyusun baris kalimat tanpa ragu:


Viona Mamahit: Mbak, kalau butuh apa-apa terkait komunikasi sama tim dari Korea, langsung kabari aku. Aku bakalan monitor langsung ke tim dari sini.


Aku menekan tombol kirim. Dua garis centang berwarna abu-abu seketika bertengger di sudut gelembung pesan tersebut. Aku terkekeh kecil membayangkan reaksi Mbak Ririn. Di Solo, jarum jam baru saja menyentuh pukul tiga pagi—perbedaan waktu dua jam lebih lambat dari kota Seoul—dan aku sangat yakin Mbak Ririn masih terlelap lelah di balik selimut rumahnya.

Aku meletakkan ponsel kembali ke atas nakas, lalu melangkah mantap menuju lemari pakaian. Aku membuka pintunya lebar-lebar, menarik selembar celana legging compression tebal berwarna abu-abu gelap yang membingkai kaki dengan presisi, dipadu dengan kaos katun fitted berwarna putih bersih sebagai inner. Untuk luaran, aku menarik jaket windbreaker tebal berpotongan ringkas bernuansa lavender lembut yang sangat pas untuk menahan embusan angin pagi.

Aku memutar tubuhku menatap Seojun yang masih bergeming di atas ranjang. Pria itu tampak berusaha keras mengusir rasa kantuknya, kembali membenamkan separuh tubuhnya di bawah gulungan selimut.

melihat tingkahnya, tawa kecil yang geli meluncur dari bibirku. "Kamu mau ikut aku jogging atau enggak?"

Mendengar pertanyaan itu, Seojun merenggangkan kedua lengannya ke atas, lalu kembali meringkuk kaku di atas kasur sembari menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh dadanya.

"Ikut," gumam Seojun dengan suara serak khas bangun tidur. "Tapi aku butuh lima menit lagi."

Aku terkekeh keras, menyenggol pelan kaki Seojun yang terbalut selimut. "Dasar pelor!"

Aku bergegas membawa tumpukan pakaian jogging-ku melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dengan gerakan yang teramat lincah, aku mengganti tanktop hijau bergaris dan celana jogger hitam tebal yang kupakai semalam dengan pakaian olah raga baruku. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagiku untuk menyelesaikannya. Aku menyapu pelembab wajah tipis-tipis di permukaan kulitku, lalu memoleskan sedikit lip tint berwarna merah muda segar di bibir.

Saat aku memutar engsel pintu kamar mandi dan melangkah keluar, pemandangan di area pantry dapur mungilku seketika menyita perhatian.

Seojun rupanya sudah bangkit dari kasur. Pria berpostur tegap itu sedang berdiri bersandar di tepi kompartemen pantry dapur, meneguk air dingin dari dalam botol bening yang ia ambil dari dalam kulkas. Kaos polos hitam dan celana santai putih tebal yang dikenakannya semalam masih melekat utuh di tubuhnya.

Aku melangkah mendekatinya dengan binar mata antusias. "Kamu lagi jet lag, ya, Seojun?"

Seojun yang baru saja menelan air dinginnya mendadak tersedak pelan. Sebuah kekehan rendah yang berat meluncur dari celah bibirnya. Pria berkacamata itu menggelengkan kepala, meletakkan botol air ke dalam rak kulkas lalu menatapku dengan sudut mata yang menyipit manis.

"Aku jadi pilot udah dua belas tahun, Viona," tutur Seojun santai, nada suaranya mengalun hangat dan sabar. "Ya masa aku jet lag cuma gara-gara terbang dari Minneapolis? Tunggu sebentar, aku mau cuci muka sama gosok gigi dulu."

Seojun melangkah menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama, gema halus aliran air dari keran wastafel terdengar membasahi bilik mandi.

Sementara Seojun berada di dalam kamar mandi, pandanganku menyapu sekeliling ruang apartemenku.

Koper beroda milik Seojun bertengger sedikit terbuka di dekat vestibula. Beberapa helai pakaian dan tas peralatan mandi milik pria itu mencuat tipis dari balik ritsleting pasca ia mencari perlengkapan kurasi kulitnya semalam. Di sudut lain, seprai kasurku sedikit berantakan oleh gulungan selimut.

Melihat ketidakrapian itu, sebuah dorongan kuat yang mendesak seketika meledak di dalam kepalaku. Tanpa merasa lelah atau terbebani sedikit pun, aku berlutut di samping koper Seojun. Jemariku bergerak cepat dan presisi—melipat rapi kemeja kain Seojun, menyusun botol-botol perawatannya ke dalam kompartemen kain, lalu menutup ritsleting koper itu hingga bertengger sempurna di dekat dinding.

Tidak berhenti di situ, aku melompat mendekati ranjang. Aku menarik setiap sudut seprai abu-abu mudaku hingga tegang tanpa lipatan, menata posisi bantal, lalu menyapu barang-barang kecil di atas meja kayu hingga seluruh ruangan tampak teramat bersih, steril, dan tertata presisi.

Tepat saat aku menyelesaikan sapuan terakhir di atas meja, pintu kamar mandi tergeser terbuka.

Seojun melangkah keluar sembari menyampirkan selembar handuk kecil di leher tegapnya. Pria itu menyapu sisa-sisa air di permukaan wajahnya dengan ujung kain handuk. Namun, saat kakinya melangkah menuju tempat kopernya bertengger dan mendapati koper serta seluruh isi ruangan telah berubah menjadi teramat rapi dan presisi, Seojun mendadak menghentikan gerak kakinya.

Seojun mematung kaku di tengah ruangan. Sepasang matanya di balik lensa kacamata tipis menatap koper, ranjang, dan mejaku secara bergantian.

Lihat selengkapnya