Jemariku menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di layar laptop, belasan tab peramban terbuka bersamaan: lima lembar kerja Excel berisikan data Purchase Order barang impor, dua berkas PDF dokumen bea cukai dalam bahasa Korea formal, serta jendela obrolan KakaoTalk Work yang terhubung dengan tim logistik di Incheon. Tidak ada rasa kantuk yang tersisa di kelopak mataku. Otakku terasa berjalan sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.
Aku mencocokkan nomor resi kontainer dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan manifestasi barang di Pelabuhan Incheon tanpa perlu melihat catatan penjelas. Garis-garis angka yang rumit di lembar kerja Excel yang biasanya membuat kepalaku pening kini terpapar begitu jernih dan mudah untuk kutata ulang. Dalam waktu kurang dari dua jam, tiga draf laporan koordinasi bulanan yang sempat terbengkalai di meja Mbak Ririn berhasil kuselesaikan sepenuhnya.
Aku menyapu pelipisku yang bersih dari peluh, menyunggingkan senyum puas yang meledak-ledak di dalam dada.
Inilah kekuatan sejati dari kesembuhanku yang utuh. Aku membatin mantap, merasakan sensasi bugar yang meluap tanpa batas di seluruh jaringan saraf tubuhku. Padahal, semalam aku baru bisa memejamkan mata pada pukul tiga pagi—setelah menghabiskan waktu berjam-jam mengobrolkan urusan berkas kantor bersama Mbak Ririn melalui sambungan panggilan suara WhatsApp. Hanya dua jam tidur, namun rasanya otak ini telah diremajakan secara ajaib. Duka kelam dan kelelahan mental yang dulu melumpuhkan seluruh energiku di Solo kini telah musnah sepenuhnya. Jiwaku telah kembali menemukan pijakan kekuatannya yang paling sempurna.
Aku memutuskan untuk memegang seluruh laporan pekerjaan kantor secara remote dari officetel Hapjeong ini. Ada rasa tidak nyaman yang mendesak di dalam hatiku jika harus terus menerima gaji bulanan sementara aku hanya bersantai menikmati keindahan kota Seoul. Lagipula, PT Hanseong Global Indonesia telah begitu memanusiakanku—memberikan ruang bernapas yang teramat lapang semenjak tragedi berdarah yang menimpa almarhum Papa. Dan inilah saat terbaik bagiku untuk membalas kebaikan mereka.
Aku melirik angka jam digital di sudut kanan bawah layar laptop. Angka baru saja menunjukkan pukul 08.45 KST.
Pukul enam pagi tadi, Seojun sempat pamit pulang sebentar menuju apartemennya di Mapo Hangang Prugio untuk meletakkan koper dan mengganti pakaiannya. Pria itu berjanji akan menjemput Yeon di Stasiun Hongik University pada pukul sembilan pagi, lalu membawa adik bungsu berkulit halus itu kembali ke officetel-ku.
Mengingat bahwa aku akan segera bertemu dengan Yeon membuat jemariku makin cepat menyelesaikan baris-baris laporan di layar kaca. Aku merindukan bocah bau susu itu. Setelah beberapa hari Yeon berada di rumah Nenek Sun-ja, ruang apartemenku terasa sedikit terlalu tenang tanpa kehadiran celotehan manjanya. Aku ingin seluruh beban pekerjaanku tuntas sebelum Seojun dan Yeon menginjakkan kaki di ambang pintu, agar aku bisa mencurahkan seluruh waktuku untuk bersenda gurau bersama mereka.
Aku menggeser kursor perambanku, membuka aplikasi panggil kabel internet, lalu mengarahkan jemariku mengetik nomor kontak telepon manajer operasional vendor pengemasan impor yang bertempat di kawasan Mapo-gu.
Hanya butuh tiga kali gema nada panggil sebelum sambungan telepon terhubung jernih.
"Yeoboseyo, Mapo Packaging Logistics operasional tim-ieyo," sapa sebuah suara pria paruh baya di seberang telepon dengan nada formal.
Aku membetulkan letak dudukku, berdeham halus, lalu menyusun artikulasi bahasa Korea bisnis formal dengan kelancaran yang teramat presisi, tajam, dan tanpa jeda sedikit pun.
"Annyeonghaseyo, Hanseong Global Indonesia-ui Business Coordinator Viona Mamahit-imnida," sapaku lurus. "Jinanju chulhaedwen Solo saengsan pummok o-baek-gae box-ui raebel stiker bulilchi munje-ro yeollakdeureosseoyeo. Incheon gwanse-ejeong seoryu-rang silmul box-ui bar-code-ga matchji anha tonggwan-i jiyeondego iss-seumnida."
Di seberang panggilan, manajer operasional vendor tersebut terdengar tertegun sejenak—terkejut oleh ketajaman data dan kefasihan tata bahasa Korea formal yang meluncur mulus dari bibir seorang koordinator asing.
"A, Hanseong Global Indonesia-ui Viona-ssi!" jawab manajer vendor tersebut dengan suara yang mendadak berubah menjadi teramat segan dan sigap. "Jongsan-eun eojetbam-e dae-eung seoryu-reul sujeong-haess-seumnida. Stiker re-labeling jageob-eun oneul ohu du-si-kkaji Incheon mullyu cheng-go-eseo wanryo-doel yejeong-imnida."
Aku menatap lembar kerja Excel di layar laptopku, memadukan kode barang dengan catatan vendor di Incheon. "Ne, hwag-in gamsahapnida. Re-labeling wanryo-doe-myeon sujeong-dwen packing list seoryu-reul je-ege imeil-ro jikjeob bonae-juseyo. Incheon tonggwan-seam-e jikjeob jeondal-hagesseumnida."
"Ne, Viona-ssi. Chul-ha jiyeon-eun eobs-dok choidaehan pppalli cheori-hagesseumnida," janji manajer itu penuh rasa hormat.
"Gamsahapnida. Sugohaseyo," tutupku sopan sebelum mengakhiri panggilan bisnis pertama tersebut.
Sebuah helaan napas lega yang panjang mengalir dari dadaku. Masalah ketidaksesuaian stiker label pada lima ratus kardus produk ekspor Solo—hal vital yang sempat membuat tim Mbak Ririn panik setengah mati dua hari lalu—berhasil kutuntaskan hanya dalam kurun waktu lima menit obrolan telepon.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku beralih mengetik nomor kontak internal Business Development Team cabang Korea. Aku mengarahkan panggilan langsung kepada Choi Yu-jin—rekan kerja sebayaku di Seoul yang mengurus jalur komunikasi antara kantor pusat Solo dan jaringan distributor Korea.
Sambungan telepon terhubung pada dering kedua.
"Viona! Naneun neoga eojetbam-e bonaen e-mail hwag-inhaess-eo. Il cheori jinjja bbal-ra!" seru Yu-jin dari balik speaker ponsel. Suaranya mengalun ceria dan penuh kehangatan khas perempuan muda kota Seoul.
Aku terkekeh renyah, menyandarkan punggungku di kepala kasur. "Gomawo, Yu-jin-ah. Sujeong-dwen gwanse seoryu-rang Mapo vendor-ui PO seoryu-reul da jeongri-haess-eo. Nae-il achim-e bujang-nim-kke draf bogoseo-reul jeondal-hae juseyo."
"Arasseo, naega jikjeob jeondal-halge," jawab Yu-jin mantap. Namun, sebelum panggilan bisnis itu diakhiri, Yu-jin menghentikan sejenak ketukan jemarinya di meja kantornya. Suaranya berubah menjadi teramat penasaran. "Geunde Viona, jinan-dal-e eodi iss-eosseo? Wae Ririn-i neos-eseo yeollak-haeseo bogoseo-reul yo-cheong-haess-eo? Samusil georup-eseo yeollak-i jeon-hyeo an dwaess-eojana."
Tawa kecil yang lepas dan santai lolos dari celah bibirku. Meskipun aku dan Choi Yu-jin belum pernah bertatap muka secara langsung di dunia nyata—kami hanya sering bertatap muka secara virtual melintasi layar kaca meeting Zoom atau saling memberikan tanggapan di unggahan cerita Instagram—kami memiliki hubungan pertemanan yang teramat dekat.
"Naneun, jeongsin geongang-e keun munje-ga iss-eosseo, Yu-jin-ah," akuku jujur dalam tata bahasa Korea tanpa ada beban trauma yang menghambat. "Jinan-dal sib-i-wol-e abeoji-ga sesang-eul tteona-syeoseo gi-n depresseu-reul gyeong-heom-haess-eodeun. Geuraeseo Mister Park-irang Mbak Ririn-i gi-n cuti-reul gwangyo-haess-eo."
Aku menguraikan ikatan rambut kepanganku sejenak, lalu menyambung kalimat berikutnya dengan nada bahasa Korea yang begitu ceria. "Geurigo a-ra? Naneun sa-sil sa-wol il-il-bu-teo eami Seoul-e iss-eosseo!"
Di seberang telepon, Yu-jin menjerit kaget yang luar biasa murni. "Jinjja? Jangnan-i-ji? Neoga jinan-dal-bu-teo Korea-e iss-eosseo-neunde chigeum-eoya nae-ge mal-haess-eo?"
Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan reaksi hebohnya. "Jinjja-ya! Naneun chigeum Hapjeong-dong-eseo sal-go iss-eo."
"Hapjeong-dong?" seru Yu-jin dengan nada tak percaya. "Hapjeong-dong eonde geonmul-e sal-go iss-eo? Ju-so-reul exact-ha-ge mal-hae jwa!"
"Naneun Mapo-gu Hapjeong-dong Dongmak-ro pal-gil-e iss-neun World Officetel-e iss-eo," balasku santai.
"Omo, Viona!" pekik Yu-jin antusias. "Uri ji-sa ju-so-rang nae jip-i Hapjeong-dong-eseo jinjja gakka-wo! Ji-ha-cheol du gae yeok chae-i-ya! Kapan-kapan nae-ga ne officetel-e deulleo-ya-gess-eo! Korea-e eolmana ore-e iss-eul geoyeyo?"
Aku mengendikkan bahuku di atas tempat tidur, meskipun aku sangat tahu Yu-jin tidak sanggup melihat gestur tubuhku di balik layar telepon.
"Geul-sse," bisikku pelan, menyunggingkan senyum paling terang yang pernah kumiliki. "Hajimang bunmyeong-han geon jinjja ore-e iss-eul geoyeyo."
Yu-jin terkekeh hangat di seberang sana. "Geurae! Geureom na-jung-e Hongdae-eseo jeomsim meog-eureo ga-ja! Sugo-haess-eo, Viona. Annyeong!"
"Ne, Yu-jin-ah. Annyeonghi gyeseyo," pamitku sopan sebelum menghentikan aliran panggilan suara tersebut.
Begitu layar ponsel kembali redup, aku menarik napas panjang, mengembuskannya penuh kemenangan. Jemariku langsung beralih memetik panel aplikasi WhatsApp, membuka grup percakapan internal Divisi Business Coordinator kantor Solo, lalu menyusun baris pesan singkat dengan kecepatan tinggi.