Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #12

Bab 11. Rasa Buah Ceri

"Seojun, gimana penampilanku?" Aku melempar pertanyaan itu dengan nada suara yang melengking ceria, diiringi pendar mataku yang berbinar terang memancarkan luapan energi melimpah.

Saat itu, jarum jam dinding baru saja bergeser melintasi angka tiga pagi. Seojun bahkan belum sepenuhnya beranjak meninggalkan gulungan selimut di atas tempat tidurku. Sementara aku—didorong oleh gelombang daya gerak luar biasa yang berpacu kencang di dalam pembuluh darahku sejak pukul empat pagi—telah menyelesaikan seluruh proses riasan wajah dan tatanan busanaku tanpa sisa tepat pada pukul 05.07.

Penampilan visualku pagi ini terpapar dalam paduan warna yang teramat lembut dan anggun. Aku mengenakan selembar sweater rajut berwarna ivory-beige dengan potongan sederhana dan garis leher V yang jatuh halus membingkai tulang selangkaku. Kain lengan panjangnya sengaja kugulung tipis hingga sedikit melewati pergelangan tangan, memberikan impresi yang kasual tanpa kehilangan sentuhan rapi. Untuk bawahan, aku memadukannya dengan celana panjang berwarna putih gading berpotongan wide-leg yang jatuh lurus membingkai sepasang kakiku dengan presisi tinggi.

Di sudut sofa depan layar televisi, dua buah koper berukuran sedang telah terlipat rapi dengan ritsleting terkunci rapat, bersanding dengan tas bahu kulitku yang sudah menampung seluruh kompartemen barang bawaan ke Jepang.

Seojun yang semula sedang terfokus menatap layar ponsel digital di atas kasur mendadak menghentikan usapan jemarinya. Pria berpostur tegap itu memindahkan ponselnya ke atas nakas kayu, lalu memutar sudut matanya menatap posisiku yang berdiri tegak memutar tubuh di depan cermin berbingkai.

Seojun menyibak kain selimut tebal ke samping, menyunggingkan senyum kaku yang penuh canda.

"Harus banget aku jawab?" tutur Seojun dengan intonasi suaranya yang serak khas bangun tidur.

Aku menganggukkan kepalaku cepat dengan binar gairah yang meluap-luap di raut wajahku. "Harus banget! Kamu kan orang pertama yang lihat aku pakai baju dan cantik begini."

Mendengar desakan polos yang meluncur dari celah bibirku, sebuah kekehan rendah yang hangat berderai dari dada Seojun. Ia bangkit berdiri dari tepi tempat tidur. Kakinya sama sekali belum menyentuh basuhan air dingin wastafel, sementara aku sudah berada dalam tingkat kesiapan seratus persen.

Seojun mengulurkan tangan kanannya, menyibak rambut tebalnya yang sedikit berantakan ke belakang, lalu melangkah satu pijakan mendekati posisiku.

"Berapa kali, sih, aku bilang kalau kamu itu cantik ketika pakai baju apa saja?" bisik Seojun lembut, sepasang matanya di balik kelopak mata yang berat menatapku penuh kehangatan murni.

Seojun meraih ponsel digitalnya sejenak dari atas nakas, melirik deretan angka jam yang tertera di balik layarnya, lalu meletakkannya kembali. Angka digital menunjukkan pukul 05.25. Pria berjabatan kapten penerbangan utama itu menyadari bahwa ia harus tiba di area operasional bandara jauh sebelum pukul delapan pagi.

"Aku cuci muka sama ganti baju dulu," pamit Seojun sebelum memutar langkahnya menyusup masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu engsel pintu kamar mandi tergeser rapat dan gema halus aliran air keran terdengar membasahi bilik mandi, aku bergerak cepat tanpa berdiam diri.

Aku merogoh kompartemen tas bahuku, memeriksanya sekali lagi dengan ketelitian ekstra: dokumen paspor Republik Indonesia, dompet kulit, perangkat pengisi daya baterai ponsel, wadah bedak padat, botol parfum beraroma bunga melati, serta kamera saku digital mungil telah bertengger presisi di dalam ruang kainnya. Aku melompat ringan mendekati koper milikku dan koper milik Seojun, memutar pengunci kodenya demi memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal.

Pandanganku lalu bergulir menatap tatanan seragam resmi kapten pilot milik Seojun yang telah kusetrika licin sejak semalam, bertengger anggun di atas gantungan kayu bersama seluruh atribut logamnya.

Merasa seluruh persiapan logistik telah tuntas sepenuhnya, aku melangkah menuju kasur busaku. Sembari menarik setiap sudut seprai abu-abu muda hingga tegang dan melipat selimut kain menjadi lipatan presisi, celah bibirku secara alami menyanyikan bait-bait lagu Main Hati milik Andra and The Backbone dengan nada vokal yang renyah, nyaring, dan penuh gairah. Bagiku, apartemen Hapjeong ini harus kutinggalkan dalam kondisi yang steril, bersih, dan sempurna sebelum kakiku menjejakkan lantai penerbangan ke negeri Jepang.

Setelah memastikan seluruh ruangan berada dalam kondisi seperti yang kuharapkan, aku mendudukkan diri di atas sofa empuk depan televisi. Dalam keheningan yang membungkus ruangan, jemari tangan kananku tanpa sadar memainkan belitan gelang logam perak dari Walker Art Center Minneapolis yang melingkar indah di pergelangan tanganku.

Aku melihat Seojun keluar dari kamar mandi—yang masih mengenakan handuk putih untuk menutup tubuh bagian bawah lalu ia melewatiku, mengambil seragam yang tergantung dengan printilan lainnya untuk dibawa kembali masuk ke dalam kamar mandi

Hanya butuh waktu beberapa menit, Seojun dari bilik kamar mandi, menghadirkan transformasi visual yang teramat mengagumkan dan karismatik. Seojun telah sepenuhnya terbalut dalam balutan seragam resmi kapten penerbangan Korean Air.

Jas formal berwarna biru tua membungkus tubuhnya dengan potongan yang tegas, dikenakan di atas kemeja putih bersih dengan dasi berwarna putih. Di dada kirinya tersemat lencana identitas, sementara lambang Korean Air menjadi aksen yang mudah dikenali pada seragamnya. Empat garis emas melingkar di bagian pergelangan tangan menandai kedudukannya sebagai kapten. Di bawah cahaya terminal, benang emas itu tampak samar berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya tertata lebih rapi. Tidak ada satu pun bagian dari seragam itu yang terlihat berlebihan. Semuanya sederhana, simetris, dan teratur—tetapi justru itulah yang membuat sosok Seojun tampak berbeda.

Namun, tatanan rambut hitam tebalnya masih membutuhkan polesan akhir. Seojun memegang sebuah wadah pomade. Tanpa perlu diminta olehnya, aku melompat bangkit dari sofa, melangkah mendekatinya dengan binar mata antusias. Aku mengambil wadah pomade dari genggaman Seojun, mengusapkan krimnya tipis-tipis di telapak tanganku, lalu berjinjit halus menata helai demi helai rambut Seojun hingga berdiri rapi dan presisi.

Setelah tatanan rambutnya sempurna, aku meraih kacamata berbingkai hitam milik Seojun yang telah lama didiamkan di atas nakas samping tempat tidur, lalu memasangkannya secara perlahan di atas batang hidung mancungnya.

Melihat ketebalan lensa kaca di balik bingkai hitam tersebut, dorongan rasa penasaran membuatku bertanya, "Kamu minus berapa?"

Seojun menundukkan wajahnya sedikit, menatap manik mataku dari balik lensa tebalnya. "Masing-masing minus dua."

Aku manggut-manggut paham. Posisi berdiriku saat ini masih terpaku tepat di depan paras tegap Seojun, dengan jarak antara wajah kami yang hanya terpisah beberapa sentimeter.

Namun, tepat saat aku berniat menggeser kakiku untuk mundur dan menjauh dari hadapannya, jemari tangan tegap Seojun bergerak secepat kilat. Kedua telapak tangannya mencekal lingkar pinggang rampingku dengan cengkeraman yang erat dan protektif, menahan pergerakan tubuhku agar tetap membeku di tempatnya.

"Viona," panggil Seojun pelan, intonasi suaranya yang rendah mengalun bagai getaran hangat yang menggetarkan seluruh saraf tubuhku.

Seojun menatap lurus ke dalam manik mataku dengan kedalaman sorot mata yang sarat akan rasa sayang dan ketulusan murni.

"Kalau bisa tetap seperti ini, ya?" bisik Seojun dengan nada suara yang bergetar haru. "Rasanya sudah lama sekali aku enggak ngerasain perasaan ini. Sudah lama sekali aku pengin ngajak perempuan buat ikut terbang sama aku, dan pilihanku yang membawa kamu ke Jepang enggak salah, kan?"

Mendengar pengakuan jujur yang menembus dada itu, tanganku terangkat perlahan. Jemariku membetulkan letak dasi putih Seojun yang sedikit miring, menyesuaikan posisinya agar sejajar sempurna dengan garis tengah kerah kemeja putih bersihnya.

Aku menggelengkan kepalaku pelan, menyunggingkan senyum paling cerah dan merekah murni di wajahku.

"Enggak, kamu enggak salah pilih," balasku mantap, suaraku mengalun penuh keyakinan murni. "Dan aku enggak salah pilih memutuskan percaya sama kamu. Tahu enggak, Seojun? Setiap malam, sebelum aku ketemu kamu dan setelah Papa meninggal lalu putus dengan Marcus, aku selalu bertanya ke diri aku sendiri: 'Bagaimana rasanya menemukan seseorang yang akhirnya membuatmu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian?' Dan pertanyaan itu terjawab tanggal 4 Mei 2025 kemarin. Kamu hadir tanpa aku harus meminta pada Tuhan."

Keheningan yang teramat peka dan dalam seketika mengendap di antara kami.

Kata-kata jujur yang meluncur murni dari celah bibirku seakan-akan membuat Seojun membisu total. Perasaan bahagia yang meluap-luap membuncah hebat di dalam dadanya—terlebih saat sepasang matanya terkunci rapat pada paras wajahku yang berdiri sedikit berjinjit di hadapannya.

Lihat selengkapnya