Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #13

Bab 12. Tokyo, Untuk Sementara

Sentuhan lembut roda-roda pesawat menapak permukaan landasan pacu Bandara Internasional Tokyo Narita dalam gesekan yang teramat halus. Hampir tidak ada guncangan hebat atau derit rem pneumatik yang menghentak kabin saat burung besi raksasa berlogo Korean Air ini memelankan laju kecepatannya. Dari balik jendela kaca lingkaran di sebelah kiriku, bentangan vegetasi hijau kawasan Narita dan struktur terminal bandara meluncur tenang di bawah naungan langit pagi musim semi yang jernih. Hawa sejuk yang membayang di luar sana seakan-akan menyapa dari balik lapisan kaca tebal.

Aku mengangkat lengan kiriku, menatap angka digital di permukaan jam tangan pintar. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 10.30 JST.

Sebuah helaan napas lega yang panjang meluncur dari dadaku. Penerbangan durasi hampir dua jam melintasi perairan Laut Jepang dari Incheon telah tuntas sepenuhnya. Pesawat bergerak perlahan menepi menyusuri jalur taxiway, bergerak presisi mengikuti petunjuk isyarat tangan dari petugas ground marshaller berkostum oranye terang di pelataran parkir Terminal 1.

Di tengah deru halus mesin turbin yang mulai dimatikan, alunan nada pengingat pengeras suara kabin berbunyi halus.

Detik berikutnya, intonasi suara pria yang teramat kukenal bergema memenuhi seluruh penjuru kabin penumpang. Seojun menyampaikan pengumuman kedatangan dalam artikulasi Bahasa Inggris yang luar biasa fasih, jernih, dan teramat maskulin.

"Ladies and gentlemen, welcome to Tokyo Narita International Airport. The local time is now 10.47 PM. For your safety and comfort, please remain seated with your seat belt securely fastened until the aircraft has come to a complete stop and the seat belt sign has been switched off. On behalf of Korean Air and the entire crew, thank you for flying with us today."

Mendengar getaran suara Seojun melintasi pengeras suara kabin menghadirkan desiran hangat yang membakar dadaku. Sebuah senyum manis terulas utuh di bibirku.

Ada lonjakan energi yang begitu melimpah dan membuncah di dalam pembuluh darahku. Rasa lelah pascaterbang sama sekali tidak mampu menyentuh ketahanan fisiku. Di dalam tempurung kepalaku, sebuah keyakinan mantap berembus teguh: aku telah benar-benar sembuh dari seluruh cengkeraman duka masa lalu. Keputusasaan di Solo dan teror memori yang dulu melumpuhkan jiwaku telah musnah sepenuhnya, digantikan oleh gelombang gairah hidup yang teramat cerah di bawah naungan langit Jepang.

Transisi pergerakan pesawat melambat hingga burung besi tersebut berhenti sempurna di samping garbarata kedatangan. Lampu penanda seatbelt sign seketika padam. Deret penumpang di sekelilingku mulai sibuk berdiri dan menjangkau kompartemen kabin atas, namun aku memilih untuk tidak segera beranjak. Aku bahkan belum melepaskan kaitan sabuk pengaman yang melingkari pinggangku.

Aku merogoh saku, mengaktifkan kembali koneksi jaringan telepon, lalu membuka aplikasi KakaoTalk.

Orang pertama yang kuhubungi di negara Jepang ini adalah sang kapten penerbangan di ruang kokpit. Jemariku menari lincah mengetik sebuah baris pesan singkat.

 

Viona Mamahit: Kita ketemu di luar ya, karena aku harus ke imigrasi dan ambil bagasi dulu.

 

Tidak ada tulisan ‘Dibaca’—menandakan bahwa Seojun belum sempat membukanya. Aku membatin paham. Di dalam bilik kokpit, seorang kapten pilot tentu memiliki rangkaian prosedur pasca-penerbangan yang teramat padat bersama kru utama.

Aku menekan tuas pengunci sabuk pengaman, menyangkutkan tali tas ke bahu.

Namun, baru saja sepasang kakiku menjejakkan lorong kabin Business Class, sesosok pria berpostur tegap melangkah keluar dari balik tirai pembatas area penerbang. Seojun berjalan menghampiri tempat dudukku. Pira itu tampak begitu mengagumkan—seragam resmi penerbangannya masih melekat rapi dan presisi di tubuhnya, sementara tatanan rambut tebalnya masih berada dalam tingkat kesempurnaan yang on point.

Melihat kehadirannya yang mendadak melangkah mendekatiku, aku menyunggingkan senyum kecil.

"Aku baru aja chat kamu," ujarku ceria, nada suaraku meluncur dalam intonasi yang begitu riang dan bersemangat.

Seojun menghentikan pijakan kakinya tepat di hadapanku. Pria berkacamata itu menatapku dengan sudut mata yang menyipit hangat.

"HP-ku ada di dalam tas," sahut Seojun santai, suara beratnya mengalun lembut. "Kamu tunggu di luar aja, ya. Di kedai atau di Starbucks Terminal 1, karena aku harus ikutin prosedur kru dulu."

Aku mendongakkan kepala sedikit, mengangguk-angguk ringan menyerap petunjuknya. "Oke, Seojun."

Dari sudut mataku, aku tersadar bahwa kedekatan interaksi di antara kami sedang diamati oleh beberapa staf pramugari kabin yang berdiri di ambang pintu pesawat. Perempuan-perempuan berpenampilan necis itu menyunggingkan senyum manis yang teramat ramah dan sarat akan kehangatan peka saat memberikan salam perpisahan bagi para penumpang yang melintas.

Transisi alur perjalananku di Bandara Narita berlangsung dalam ritme yang teramat lancar dan efisien.

Aku melangkah menyusuri lorong karpet tebal kedatangan, melewati bilik pemeriksaan dokumen imigrasi Jepang, mengambil koper beroda berwarna perak milikku di area ban berjalan bagasi, hingga menembus pemeriksaan bea cukai lalu kakiku menuju area Arrival Lobby.

Begitu melangkah keluar menembus pintu kaca otomatis International Arrivals, hiruk-pikuk suasana Bandara Narita menyapa indra penciumanku. Lautan pejalan kaki dari berbagai belahan dunia bergerak dinamis. Beberapa staf penjemput berdiri membungkuk sembari mengangkat papan nama penumpang, sementara rombongan wisatawan sibuk berkumpul mengitari pemandu tur mereka.

Aku memilih untuk tidak berdiri membeku di depan Pintu Kedatangan.

Mataku menyisir area publik North Wing Lantai 1, lalu menangkap keberadaan sebuah kedai kopi bergaya minimalis bernama Caffe LAT25 yang bertengger di area terbuka sebelum bilik pemeriksaan sekuriti. Aku melangkah masuk menyusul aroma sangrai biji kopi segar yang menguap di udara, memesan segelas caffe latte hangat di meja kasir, lalu membawa pesanan tersebut menuju sebuah meja kayu di sudut jendela kaca raksasa.

Aku mendudukkan diri di atas kursi, meletakkan gelas kopi dan ponsel digital di atas meja, lalu melemparkan pandanganku menatap Pintu Kedatangan.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit berganti. Namun sosok kapten pilot berkacamata itu belum kunjung menyembulkan bayangannya dari balik pintu kedatangan.

Aku mengembuskan napas panjang, mengulas senyum pasrah. Tenang. Kesabaranku hari ini terhampar begitu luas dan bertumpuk-tumpuk. Aku merogoh ponsel digital di atas meja, menggeser panel layar terkunci yang selama beberapa jam penerbangan sengaja kuabaikan.

Layar ponselku terpapar penuh oleh ratusan notifikasi pesan yang membumbung tinggi. Ada puluhan gelembung obrolan pribadi keluarga Mamahit, grup keluarga besar, hingga deretan pesan pekerjaan dari Mbak Ririn yang meminta bantuanku untuk mencocokkan draf izin impor. Aku membaca baris-baris pesan itu melintasi panel terkunci tanpa membukanya secara penuh.

Namun, saat jemariku terus menggulir layar ke bawah, sebuah pemberitahuan aplikasi perbankan menyita perhatianku secara utuh.

Itu adalah notifikasi transfer gaji bulanan untuk bulan 2025. Pasca koordinasi bisnis intensif yang kutuntaskan bersama Yu-jin—sebuah penanganan darurat yang berhasil meluaskan kemacetan berkas lima ratus kardus produk ekspor Solo—pihak manajemen perusahaan merespons kontribusiku dengan penghargaan yang teramat tinggi.

Di balik layar, nominal gaji yang masuk mengalami penyesuaian angka yang luar biasa drastis. Gaji pokokku bertambah melimpah, dipadu dengan alokasi bonus kinerja yang berada di luar batas nalarku. Jumlah nominal bonus itu bahkan sanggup membiayai seluruh kebutuhan hidupku di kota Seoul selama satu bulan penuh tanpa sisa.

Sebuah senyum puas dan binar kebahagiaan murni merekah lebar di wajahku. Dada rasanya membumbung tinggi oleh kebanggaan atas produktivitas tubuhku sendiri.

Namun, tepat saat jemariku terfokus mengagumi deretan angka digital di balik layar ponsel terkunci, sesosok manusia mendadak membungkuk dari balik punggungku.

Sentuhan hangat dan halus dari permukaan bibir mendarat tepat di atas kulit pipi kananku.

Aku berjingkat kaget, refleks memutar tubuhku sembilan puluh derajat ke belakang sembari memegang pipiku.

Suara kekehan rendah yang berat seketika meledak di udara. Sosok yang baru saja mendaratkan ciuman kaget itu adalah Seojun. Pria itu tersenyum tengil, memutar langkahnya lalu mendudukkan diri di atas kursi kosong tepat di hadapanku.

Lihat selengkapnya