Hawa sejuk musim semi kota Tokyo merayap pelan menembus lorong-lorong batu Stasiun Shibuya. Langkah kaki kami membentur ubin stasiun dalam ritme yang teratur, beradu manis dengan gema derap ribuan pasang sepatu pejalan kaki yang bergerak cepat di sekeliling kami. Begitu kami melangkah keluar menembus bukaan pintu kaca bertuliskan aksara Hachikō-guchi, seluruh persendian di kedua kaki mendadak terkunci kaku. Aku menghentikan pijakanku sepenuhnya di atas pelataran batu.
Di tengah riuh rendah lautan manusia yang memadati area terbuka sebelum persimpangan, berdiri sebuah monumen kecil berbahan perunggu di atas fondasi batu hitam.
Patung anjing Hachiko.
Bentuk fisiknya terpapar begitu nyata di bawah pendar lampu stasiun dan bias keemasan papan reklame neon yang mulai menyala di sekeliling langit Shibuya. Anjing ras Akita itu duduk tegak dengan telinga kiri yang sedikit melengkung melipat ke bawah, memalingkan wajahnya lurus ke arah bukaan pintu stasiun—seolah-olah sedang setia menantikan kepulangan Profesor Hidesaburō Ueno yang tak kunjung kembali dari ruang kuliah Universitas Tokyo sejak tahun 1925.
Dada rasanya berdesir hebat oleh gumpalan haru yang meletup-letup di balik lingkar rusukku.
Selama belasan tahun tumbuh besar di kota Solo, bayangan tentang ketulusan anjing Hachiko hanya mengendap di dalam tempurung kepalaku melalui lembaran novel terjemahan yang kubaca di perpustakaan sekolah, atau kepingan adegan film layar lebar yang kerap membuat mataku sembap di depan televisi rumah. Dan malam ini, di bawah naungan langit negeri Jepang, aku berdiri hanya berjarak tiga meter dari wujud aslinya.
Sebuah senyum lembut terkembang utuh di celah bibirku.
Di balik benakku, siluet patung perunggu itu mendadak memanggil sebuah kenangan lama dari kampung halamanku. Ingatanku terlempar pada sosok Dobber—anjing jantan bertubuh tegap hasil persilangan ras Akita dan Doberman yang dipelihara oleh Kavian sejak sepupu laki-lakiku itu duduk di bangku kelas sembilan Sekolah Menengah Pertama. Dobber telah tumbuh bersama kami, menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat masa muda keluarga besar Mamahit di Solo.
Namun, yang paling menggetarkan batin emosionalku adalah ikatan tak kasat mata antara Dobber dan almarhum Papa.
Meskipun status kepemilikan Dobber berada di tangan Kavian, anjing itu memiliki kepekaan batin yang luar biasa dalam meletakkan kesetiaannya pada Papa. Setiap kali mobil sedan hitam milik Papa berbelok memasuki halaman rumah, Dobber selalu menjadi makhluk pertama yang berdiri menanti di depan pintu teras. Anjing itu akan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Papa saat Papa melepas lelah di sore hari, membiarkan jemari Papa mengusap lembut bulu lebatnya.
Dan ketika tragedi naas tanggal 15 Desember 2024 itu merenggut nyawa Papa di perlintasan kereta api, Dobber mendadak berhenti menyentuh makanan di mangkuknya. Anjing itu hanya meringkuk kaku di bawah kursi kayu favorit Papa. Tepat pada hari keenam pasca tubuh Papa dibaringkan di dalam liat tanah, Dobber mengembuskan napas terakhirnya secara tenang dalam keheningan malam, seolah-olah anjing itu secara sukarela merelakan nyawanya dicabut demi mendampingi tuannya di alam yang lain.
Melihat wujud perunggu Hachiko di depanku, aku seakan-akan menyaksikan ketulusan jiwa Dobber yang terpantul kembali ke atas bumi.
Panggilan suara berat bernada lembut menyentak lamunanku dari belakang.
"Viona?" panggil Seojun pelan.
Aku tersentak tipis, memutar tubuhku sembilan puluh derajat menghadap posisinya. Pria itu berdiri di sebelah kiriku, menatap raut wajahku dengan sepasang mata di balik kacamata yang menyipit khawatir. Seojun memperhatikan kebisuan kaku dan pendar mata berkaca-kaca yang sempat membayang di pelipisku.
Dengan cepat, aku menyapukan senyum paling cerah yang kumiliki ke atas bibirku, memadukannya dengan raut muka antusias demi menutupi haru yang baru saja melingkupi dada.
"Fotoin aku di Patung Hachiko dong, Seojun!" seruku riang, menyodorkan ponsel yang sejak keluar dari kereta api bawah tanah berada di genggaman tangan kananku.
Seojun yang melihat transformasi ekspresiku seketika menyunggingkan tawa rendah yang teramat hangat. Pria berjaket parasut bomber hitam itu menerima ponsel digital dariku, memundurkan langkah kakinya dua pijakan ke belakang, lalu mengarahkan lensa kamera ponsel ke posisiku yang berdiri merapat di samping patung perunggu Hachiko.
Beberapa kali ketukan jemari Seojun di atas layar kaca ponsel menangkap pose berdiriku dari berbagai sudut. Aku menyipitkan mata manis, meletakkan telapak tanganku di atas alas batu tempat Hachiko bertengger, hingga menyunggingkan senyum merekah murni.
Setelah menyelesaikan sesi pemotretan, Seojun melangkah mendekat, menyerahkan kembali ponsel itu ke genggaman tanganku. Aku menggeser galeri foto dengan antusias. Setiap sudut pencahayaan, tingkat fokus, dan komposisi bayangan yang dihasilkan oleh jepretan tangan Seojun terpapar begitu sempurna tanpa cacat.
"Bagus banget!" pujiku jujur, mendongak menatap paras tegap Seojun.
Namun, detik berikutnya, sebuah dorongan kuat yang mendesak melompat keluar di dalam kepalaku. Aku menatap layar ponselku, lalu beralih menatap wajah Seojun yang berdiri dua puluh tujuh sentimeter lebih tinggi dariku.
"Kita harus foto selfie," usulku penuh semangat, mengaitkan jemariku di tali tas bahu. "Selama ini kita belum pernah foto bareng, kan?"
Seojun menghentikan usapan tangannya di dalam saku jaket, menatapku dengan dahi yang bertaut tipis namun menyunggingkan senyum kaku yang menggoda. "Harus banget?"
"Harus banget!" balasku pasti, menggeser mode kamera ponsel menjadi kamera depan.
Aku merapatkan posisi berdiriku di sebelah kanan Seojun. Jarak antara bahuku dan dada bidang Seojun terhapus sepenuhnya. Aku mengulurkan lengan kananku ke udara, mengarahkan sudut kamera ke atas paras kami berdua.
Pada jepretan pertama, kami berdua menyunggingkan senyum manis yang tenang ke arah lensa kaca, menghasilkan potret visual yang teramat rapi dan bersahaja.
Pada jepretan kedua, aku berlagak menggigit ujung kuku jari telunjukku dengan kerlingan mata centil dan kepala yang dimiringkan manis. Sementara di balik layar, Seojun tidak memandang ke arah kamera; pria berkacamata itu justru memutar sudut matanya ke bawah, menatap raut mukaku yang sedang bertingkah konyol di samping kanannya dengan binar kasih sayang yang tak terbatas.
Dan pada jepretan ketiga, peristiwa di luar kendali batinku mendadak terjadi.
Tepat saat jemari tangan kananku menekan tombol pemotretan di layar kaca, Seojun mendadak menundukkan wajah tegapnya secepat kilat. Sentuhan hangat dan halus dari belahan bibirnya mendarat tepat di atas kulit pipi kiri wajahku.
Sensasi hangat bibirnya yang menekan pipiku menyalurkan sengatan manis yang membuat kedua kelopak mataku terpejam halus secara spontan.
Lensa kamera ponsel mengabadikan momen ajaib itu secara presisi sempurna: sebuah potret alami di mana Seojun sedang mendaratkan ciuman hangat di pipi kiriku dengan mata terpejam anggun dengan rona merah yang membakar paras wajahnya di bawah naungan langit kota Shibuya.
Aku membelalakkan mataku kaget, menarik ponselku kembali mendekati dada. Jemariku membuka galeri, mengamati foto ketiga tersebut dengan jantung yang berpacu liar di balik lingkar rusuk.
Gambar itu terasa begitu indah, jujur, dan sarat akan daya pikat intimasi yang melumpuhkan.
Aku membasahi bibirku yang kering, mendongak menatap profil samping wajah Seojun yang sedang membenarkan letak kacamata hitamnya dengan raut muka tengil yang teramat santai.
"Aku boleh enggak upload foto ini di Instagram?" tanyaku pelan, menunjuk tampilan foto ketiga di layar digital.
Seojun yang mendengar pertanyaan itu menoleh, menyunggingkan senyum paling manis yang dimilikinya. "Boleh. Tag akun Instagram-ku juga enggak apa-apa."
Seketika itu pula, sepasang mataku membola lebar. Binar tak percaya merekah utuh di wajahku. Jawaban santai yang meluncur dari celah bibir Seojun menghadirkan rentetan pertanyaan yang berputar kencang di dalam tempurung kepalaku.
"Kamu enggak mikirin cewek-cewek yang lagi dekat sama kamu kalau aku tag akunmu?" tanyaku menelisik, memiringkan kepalaku dengan sudut mata yang menyipit penuh kecurigaan manis.
Sebuah kekehan rendah yang berat seketika meledak dari dada Seojun. Pria berkacamata itu tertawa renyah, memperlihatkan jajaran giginya yang putih dan rapi di antara hiruk pikuk Shibuya.
"Cewek-cewek yang lagi dekat sama aku?" ulang Seojun menggelengkan kepala geli. "Cuma kamu, Viona."
Aku melengos kaku, membuang pandanganku ke arah lain sembari mendesis canggung demi menutupi rona membara di kedua belah pipiku. "Memangnya aku percaya? Kamu itu pilot, Seojun, pasti kamu dekat sama banyak pramugari, kan?"