Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #15

Bab 14. Visualisasi Kepedihan

Rasa kenyang pasca menyantap potongan daging sapi Gyukatsu Motomura di kawasan Shibuya dua jam lalu masih menyisakan kehangatan yang nyaman di dasar lambungku.

Pergerakan alur perjalanan kami membias begitu cepat dan dipenuhi oleh luapan gairah yang berpacu kencang di dalam pembuluh darahku. Setelah melangkah keluar dari pertokoan mewah HOUSEKIHIROBA dan menuntaskan makan malam di Shibuya, langkah kaki kami bergeser menyusuri kawasan berarsitektur kontemporer di Daikanyama.

Di bawah pendar lampu-lampu butik bergaya charming dan deretan pepohonan rindang Daikanyama, gairah di dalam diriku meluap tanpa batas.

Aku melangkah masuk dari satu butik busana ke butik lainnya dengan derap kaki yang teramat lincah, ringan, dan tanpa mengenal rasa lelah. Tanpa berpikir panjang atau menimbang nominal angka di tag kertas, jemariku menarik tiga potong coat wool tebal berpotongan anggun, beberapa barang perhiasan artistik, hingga memesan dua cangkir kopi hangat di kedai terbuka Caffe Michelangelo. Ada sensasi kebebasan nan megah yang meledak-ledak di dalam dadaku setiap kali aku mengulurkan kartu debit untuk membayarnya. Duniaku terasa begitu terang, bugar, dan penuh daya dorong, sebuah perasaan membumbung tinggi yang kuyakini sebagai bukti nyata dari kesembuhan utuh yang telah lama kudanai dari duka masa lalu.

Perjalanan kami berlanjut saat Seojun menghentikan sebuah taksi berwarna hitam di tepi jalan Daikanyama.

Hanya butuh waktu sekitar lima menit berkendara menyusuri lintasan aspal yang membelah pemukiman tenang di malam hari sebelum laju kendaraan taksi itu memelankan kecepatannya. Sopir taksi tidak menghentikan kendaraannya tepat di ambang pintu tempat tujuan kami, melainkan mengambil posisi menepi yang teramat rapi di tepi Jalan Raya Kamimeguro, sebuah sudut jalan yang menjadi pintu masuk menuju koridor belanja pejalan kaki.

Seojun melangkah keluar lebih dulu dari pintu sebelah kanan. Ia berjalan cepat mengitari bagian belakang taksi, lalu mengulurkan tangannya membukakan pintu penumpang di sebelah kiriku dengan gestur teramat sigap dan bersahaja.

Aku mendongakkan kepala, menatap paras tegap Seojun dengan binar mata yang berbinar terang.

"Kita sudah sampai?" tanyaku ceria, nada suaraku meluncur melengking halus.

Seojun yang berdiri memegangi ambang pintu mobil mengangguk-angguk kecil. Sepasang matanya di balik lensa kacamata tipis menyipit hangat, menyunggingkan senyum paling tampan yang perlahan kudekap dalam ingatan.

"Iya, kita sudah sampai, my princess," sahut Seojun dengan intonasi suaranya yang berat, rendah, dan sarat akan panggilan manja yang membuat dadaku berdesir halus.

Sebuah senyum manis merekah utuh di bibirku. Aku mengulurkan tanganku meraih jemari Seojun, menyandarkan tumpuan tubuhku saat melangkah keluar menjejakkan permukaan trotoar Kamimeguro.

Di hadapan kami, bentangan jalanan pejalan kaki bertajuk Meguro Ginza Shopping Street memanjang anggun dipenuhi pendar cahaya lampu gantung pertokoan kecil yang berderet rapi. Komposisi fasad bangunan bergaya retro bersanding harmonis dengan kedai-kedai kopi kontemporer di balik naungan langit malam kota Nakameguro yang sejuk.

Seojun menunjuk ke arah lorong pertokoan di depan kami sembari merapatkan genggaman tangannya di jemariku. "Tapi kita jalan sedikit, ya."

Aku mengangguk antusias. Langkah kaki kami bergerak bersisihan menyusuri ubin bata Meguro Ginza Shopping Street. Kantong-kantong kertas berisi coat baru dan barang belanjaanku di Daikanyama bertengger aman di dalam cengkeraman tangan kiri Seojun, ia menolak keras membiarkanku membawanya sendiri.

Langkah kami memelan saat Seojun menghentikan pijakannya di depan sebuah bangunan bertingkat bergaya bata gelap dengan nomor alamat 2-16-14 Kamimeguro.

Sepasang mataku menyapu fasad bangunan tersebut, lalu menangkap papan nama kayu mungil bertuliskan aksara serifan anggun SWAN & LION. Namun, tidak ada ambang pintu masuk utama yang sejajar dengan permukaan trotoar jalan raya.

Aku baru menyadari bahwa akses pintu masuk kedai tersebut bertengger di kedalaman lantai B1F. Sebuah tangga batu berukir pagar besi menghampar melandai menuju ke bawah.

"Di bawah sini?" tanyaku memastikan, memiringkan kepalaku menatap Seojun.

Seojun menuruni dua anak tangga batu terlebih dahulu, lalu memutar tubuhnya mendongak menatap posisiku di atas.

"Iya, ayo," ajak Seojun lembut, mengulurkan tangannya untuk menuntun pijakan kakiku.

Ia lalu menambahkan sebuah kalimat tegas dengan intonasi yang begitu pasti. "Tapi aku enggak mau minum alkohol. Dan aku enggak akan pernah mau minum alkohol."

Sentuhan kata-kata Seojun mendarat bagai usapan tenang di dalam dadaku. Sebuah senyum pemakluman dan rasa syukur yang mendalam merekah di bibirku saat aku menuruni anak tangga batu di sampingnya.

Di dalam kepalaku, aku sangat paham mengapa seorang seperti Han Seojun mengharamkan tegukan alkohol di dalam hidupnya. Regulasi keselamatan penerbangan internasional menetapkan batasan yang teramat ketat bagi seorang pengemudi burung besi raksasa. Dan komitmen lurus Seojun untuk menjaga kesadaran tubuhnya menghadirkan kontras visual yang luar biasa jauh jika dibandingkan dengan sosok Marcus di masa laluku.

Dulu, setiap kali terbentur masalah pekerjaan atau pertengkaran bersama atasannya di kantor, Marcus selalu melarikan diri dengan membeli berbotol-botol minuman keras murah, lalu mengurung diri membakar emosinya di dalam kamar indekos hingga mabuk terpuruk. Marcus menjadikan alkohol sebagai tempat pelarian yang pengecut. Namun malam ini, di belahan bumi negeri Jepang, Han Seojun berdiri sebagai sosok pria dewasa yang teramat bertanggung jawab atas kehormatan dan keselamatan jiwanya sendiri.

Atmosfer di dalam kedai gastropub bergaya Inggris kuno itu menyapa seluruh indra tubuhku dalam kehangatan yang teramat bersahaja, intim, dan eksklusif. Dinding-dinding bata merah tua dipadukan dengan panel kayu mahoni berwarna cokelat gelap, dipadu dengan pendar remang lampu gantung bernuansa keemasan yang menenangkan. Aroma harum mentega panggang, rempah herba, dan seduhan teh botanikal menguap lembut di udara.

Seojun menuntun langkahku menuju sebuah meja kayu persegi di sudut ruangan yang sedikit terisolasi dari hilir mudik pengunjung lain.

Kami mendudukkan diri di atas kursi kayu berukir yang nyaman. Karena perut kami masih berada dalam kondisi kenyang sempurna pasca menyantap hidangan daging sapi di Shibuya, kami sepakat untuk tidak memesan menu makanan berat.

Seojun mengulurkan tangan memanggil staf pelayan kedai, lalu memesankan dua varian minuman ringan non-alkohol untuk kami berdua.

Aku memesan segelas Elderflower Soda. Ketika cangkir kaca tinggi itu disajikan di atas meja enam menit kemudian, visualisasinya terpapar begitu cantik dan menyegarkan: cairan transparan berbuih halus yang memancarkan pendar keemasan lembut, dihiasi irisan buah lemon segar dan tangkai daun mi yang mengapung anggun di antara bongkahan es batu. Aroma harum semerbak bunga elderflower menguap manis saat kualirkan mendekati bibirku.

Sementara itu, Seojun memesan sebotol Fentimans Botanically Brewed Tea. Staf kedai menyajikan botol kaca bening berwajah vintage berisikan ramuan teh botanikal pekat berwarna cokelat kemerahan, dipadukan dengan gelas berisi es batu jernih.

Lihat selengkapnya