Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #16

Bab 15. Aku Tidak Sama dengan Masa Lalumu

Cangkir keramik berisi cairan matcha latte hangat di hadapanku menyisakan lingkaran buih kehijauan yang mulai mengering di tepiannya. Pukul enam sore di hari Minggu menyelimuti kawasan Narita dalam sapuan langit biru yang berangsur memudar menjadi kelabu pekat. Setelah menuntaskan agenda perjalanan panjang selama tiga hari penuh, mengejar pendar mentari di Asakusa dan pelataran Tokyo Skytree, menyusuri butik-butik megah di Ginza pada hari kedua, hingga melintasi lorong-lorong padat di Harajuku, Cat Street, pertokoan adibusana di Omotesando, serta sudut-sudut artistik Aoyama pada siang tadi, kami akhirnya kembali menjejakkan kaki di kawasan Narita sesudah meletakkan semua barang-barang yang kubeli ke hotel.

Sebuah helaan napas lega meluncur dari celah bibirku. Aku meraih garpu kecil, memotong sudut kue red velvet berlapis krim keju di atas piring kecilku, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang berpadu dengan gurihnya keju meresap nyaman di indra pengecapku.

Duniaku terasa begitu bugar, hidup, dan meluap oleh daya dorong yang tak terbendung.

Namun, tepat saat aku hendak menyeruput sisa matcha latte-ku, sebuah pertanyaan meluncur dari seberang meja.

"Viona, kamu memang sering seperti ini, ya?"

Aku menghentikan gerak tanganku di udara, mengerjapkan mata beberapa kali sebelum meletakkan cangkir keramikku kembali ke atas tatakan. Aku menatap paras Seojun yang duduk tepat di hadapanku.

"Maksudnya gimana?" tanyaku heran, menelengkan kepala sedikit.

Seojun tidak langsung menjawab. Pria itu melipat kedua belah tangannya di atas meja, mengunci pandangan matanya lurus ke dalam manik mataku dengan ketelitian yang teramat tenang dan tertata.

"Aku perhatikan dari hari kedua kita di Asakusa, Tokyo Skytree, Ginza, dan hari ketiga kita di Harajuku, Cat Street, Omotesando, Aoyama, sampai kita kembali ke Narita sore ini, belanjaan kamu di luar nalar," tutur Seojun dengan artikulasi suara yang teramat terukur. "Bahkan kamu sampai beli koper baru. Dan barang-barang yang kamu beli modelnya hampir semuanya sama. Tiga potong coat berpotongan panjang dengan warna yang hanya beda tipis, syal wol tebal dengan bahan serupa, dan aksesoris yang fungsinya bertumpuk."

Mendengar uraian detail yang meluncur dari bibir pria berkacamata itu, senyum santai seketika merekah di wajahku. Aku terkekeh kecil.

Aku memotong kembali suapan kecil kue red velvet-ku, menelannya, lalu menanggapi dengan intonasi riang. "Oh... iya, aku memang sering kayak gitu," akuku enteng, mengibaskan jemari tanganku di udara. "Kayaknya sudah jadi kebiasaanku dari dulu, Seojun. Setiap kali aku berhasil melewati masa-masa terpuruk, dan begitu aku bangkit merasa bahagia, aku punya dorongan kuat buat beli apa pun yang menarik perhatianku. Bahkan almarhum Papa enggak pernah mempermasalahkannya sama sekali. Karena bagiku, benda-benda yang kubeli itu adalah wujud dari self-reward setelah melewati fase sedih yang panjang."

Seojun menyimak penjelasanku tanpa menyela satu kata pun.

Perlahan, jemarinya bergerak ke atas hidung mancungnya. Seojun melepaskan kacamata berbingkai tipis yang selama ini menjadi ciri khas ketenangannya, lalu meletakkannya di atas permukaan meja kayu, tepat di samping cangkir berisi kopi hitam miliknya yang baru diteguk separuh.

Tanpa penghalang lensa kaca, sepasang mata sipit Seojun tampak begitu tajam, fokus, dan menelisik setiap lekuk ekspresi di wajahku.

"Sejak kapan kamu seperti itu?" tanya Seojun dengan nada suara yang kian rendah dan berat.

Aku mengerutkan dahiku tipis. "Fase up and down maksud kamu?"

Seojun mengangguk kecil sebagai konfirmasi.

Bibirku sedikit maju ke depan saat benakku memutar kembali riwayat hidupku ke belakang. "Sudah lama banget."

Alis Seojun terangkat tipis. Tatapannya tidak bergeser satu milimeter pun dari wajahku. "Berapa lama?"

Aku mendesis pelan, memainkan gagang garpuku di atas piring. "Fase bahagia dan bersemangat itu biasanya bisa berlangsung setahun sampai dua tahun penuh."

Seojun mengetukkan ujung telunjuk kanannya secara perlahan di permukaan meja. "Terus, ketika kamu lagi happy dan merasa up seperti itu apa saja yang kamu lakukan selain shopping secara impulsif?"

Mendengar rentetan pertanyaan yang mengalir lancar itu, binar antusias di dalam diriku justru makin membuncah. Aku menyandarkan sikuku di atas meja, tersenyum lebar dengan mata yang berbinar terang memancarkan gairah yang meluap.

"Aku bisa jadi orang yang luar biasa produktif!" seruku bangga, nada bicaraku meluncur dengan kecepatan tinggi tanpa jeda. "Aku bisa kerja gila-gilaan dari subuh sampai larut malam tanpa perlu tidur berjam-jam. Otakku rasanya encer banget, semua berkas rumit kantor bisa kuselesaikan dalam hitungan jam tanpa rasa lelah. Jadinya kerjaan beres sempurna, dan bonus kinerjaku bertambah melimpah ruah di rekening. Menyenangkan banget, kan? Definisi bahagia yang sebenarnya enggak, sih?"

Namun, antusiasme bicaraku yang menggebu-gebu itu tidak memancing senyuman sedikit pun di paras Seojun.

Pria itu bergeming kaku. Wajahnya mendadak berubah menjadi teramat datar. Sorot matanya meredup dingin, membeku dalam kehampaan ekspresi yang membuat dadaku mendadak berdesir aneh.

"Lalu ketika fase down," sambung Seojun dengan intonasi datar yang menusuk, "Berlangsung berapa lama?"

Aku menyendok potongan terakhir kue red velvet, mengunyahnya cepat, lalu memberikan jawaban seringkas mungkin. "Enggak lama, mungkin cuma empat sampai delapan bulan."

Aku hendak mengangkat garpuku kembali, namun gerakanku terhenti seketika.

Suasana di meja kayu kami mendadak berubah menjadi begitu membeku dan sunyi. Pendar lampu kafe menyorot wajah Seojun yang menatapku tanpa kedipan. Selama hampir satu bulan mengenalnya semenjak ia merenggutku di Jembatan Mapo, baru kali ini aku merasakan kecanggungan yang begitu dingin saat bertatapan dengannya.

Seojun mengembuskan napas panjang melalui hidungnya. "Something wrong with you, Vio," bisik Seojun pelan.

Dada rasanya tersentak tipis. Aku memiringkan kepalaku, menatap Seojun dengan dahi yang bertaut kaku. "Maksudnya gimana?"

"Cara kamu mengeluarkan uang, dari mulai belanja barang-barang receh sampai pakaian-pakaian mahal dengan model yang serupa, menurut aku itu enggak wajar, Viona," tutur Seojun landai, setiap suku katanya terdengar teramat terukur dan logis.

Mendengar penilaian itu, kehangatan yang semula membakar dadaku mendadak surut, berganti dengan percikan panas yang menyengat saraf emosionalku.

Aku melipat kedua belah tanganku di depan dada. Bibirku terkatup rapat sejenak sebelum aku membalas ucapannya dengan nada suara yang berubah menjadi teramat dingin. "Semua orang pasti pernah berada di posisi up and down, Seojun. Jadi menurutku, itu semua bukan hal yang aneh atau salah."

Aku mencoba menahan gejolak amarah yang mendadak meluap di balik lingkar rusukku. Napasku mengembus pendek-pendek dan tidak beraturan.

Ada rasa tersinggung yang luar biasa tajam merayap di benakku. Entah mengapa, kalimat Seojun terdengar bagai sebuah vonis merendahkan, seolah-olah pria ini sedang menganggapku sebagai perempuan labil yang gemar membuang-buang uang demi membeli barang-barang tak berguna. Aku merasa menyesal telah menceritakan riwayat hidupku dengan begitu terbuka. Seharusnya aku membisu rapat. Seharusnya aku tidak perlu menjawab rentetan pertanyaannya dengan semangat yang meluap-luap.

Di seberang meja, Seojun kembali meraih kacamata berbingkai tipisnya, mengenakannya secara perlahan di atas hidungnya, lalu menarik kursinya beberapa sentimeter lebih maju mendekati tepi meja.

Telunjuk tangan kanannya mulai bergerak, menyusuri lingkar bibir cangkir kopi hitamnya dengan tatapan mata yang menerawang jauh ke dasar cairan pekat tersebut; sebuah gestur khas dari seseorang yang sedang ditarik paksa kembali ke lorong ingatan masa lalu yang kelam.

"Kamu tahu, Vio," gumam Seojun lirih tanpa mengangkat wajahnya. "Kamu mengingatkanku pada seseorang."

Lihat selengkapnya