Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #17

Bab 16. Di Balik Pintu Terkunci

Pukul tujuh pagi di hari Senin menyapa sudut officetel Hapjeong dalam keheningan yang teramat pekat. Pendar kebiruan dari layar televisi tipis di depan ranjang membiaskan cahaya redup di atas permukaan lantai kamarku. Sebuah serial drama Korea dari saluran Netflix sedang memutar deret episode terbarunya, mengalunkan dialog-dialog para pemeran yang meluncur begitu saja tanpa pernah benar-benar diserap oleh benakku.

Aku masih bergeming kaku di bawah gulungan selimut tebal, menatap lurus ke arah layar kaca dengan tangan kanan yang mencengkeram erat perangkat remote televisi yang dingin.

Tidak ada aroma masakan hangat yang menguar di udara. Tidak ada cangkir kopi mengepul di atas meja.

Di sudut ruangan depan televisi, dua buah koper berukuran sedang bertengger kaku dengan ritsleting yang terkunci rapat, koper perak milikku yang kubawa dari Seoul serta koper baru berwarna gelap yang kubeli di kawasan Ginza kemarin. Di sampingnya, beberapa perlengkapan kosmetik, pelembab wajah, dan kantong kain mencuat berhamburan dari mulut tas bahu kulitku yang tergeletak pasrah di atas karpet tipis.

Rongga perutku berdenyut perih oleh rasa lapar yang hampa. Terakhir kalinya sebutir makanan masuk ke dalam lambungku adalah ketika aku menyendok suapan kue red velvet di kedai kopi Narita pada pukul lima sore kemarin, sebelum badai pertengkaran itu memorak-porandakan duniaku.

Namun, rasa lapar itu kalah telak oleh rasa takut yang membakar dadaku. Aku enggan melangkahkan kakiku keluar pintu apartemen hanya untuk membeli sekeranjang roti atau air mineral di minimarket bawah.

Di dalam tempurung kepalaku, sebuah kecemasan mendesak terus berputar liar: Bagaimana jika Seojun atau Yeon mendadak muncul di lorong lantai gedung ini?

Aku tidak akan sanggup menatap wajah dua bersaudara keluarga Han itu saat ini.

Rasa malu yang luar biasa pekat membakar lingkar dadaku. Aku merasa kecewa, marah, dan terhina oleh kenyataan bahwa keberadaanku di mata Han Seojun seolah-olah diposisikan bagai sebuah parasit pengulang duka; seorang perempuan rapuh yang sedang menapaki jejak kehancuran yang sama persis dengan mendiang mantan kekasihnya lima tahun silam.

Perasaanku mengendap dalam kehampaan yang membeku. Aku bahkan tidak sanggup menguraikan dengan jernih apa yang sebenarnya sedang bergejolak di dalam hatiku.

Jauh di dasar lubuk sanubariku, aku menyadari bahwa uraian analisis yang dibeberkan Seojun di atas meja kafe kemarin sebenarnya menghantam tepat di pusat kelemahanku. Pola-pola keanehan itu nyata. Namun, harga diriku menolak mentah-mentah untuk disamakan dengan sosok perempuan yang riwayat hidupnya berakhir tragis di dasar lantai beton apartemen.

Jangan kira aku sanggup memejamkan mata dan tertidur lelap setelah mendarat di Bandara Incheon tengah malam tadi.

Sepanjang malam, kantuk adalah kemewahan yang mustahil kuraih. Otakku terus diburu oleh pusaran rasa bersalah yang mencabik-cabik ketenanganku. Mengapa aku begitu gegabah merogoh ponsel di kamar hotel, memesan tiket penerbangan malam Korean Air KE714, lalu melarikan diri melintasi angkasa seorang diri tanpa pamit? Mengapa aku membiarkan belasan panggilan telepon dan puluhan notifikasi pesan dari Seojun serta Yeon menumpuk membisu di balik layar?

Semua itu lahir murni dari benteng ego dan penolakan keras di dalam kepalaku. Aku menolak mengakui bahwa selama ini aku benar-benar buta terhadap batasan tubuh dan jiwaku sendiri.

Jika memang seluruh perkataan Seojun itu benar, bahwa ada sesuatu yang menyimpang dan bergerak di luar kendaliku sejak bertahun-tahun lalu di Solo, lantas langkah apa yang harus kuambil?

Untuk kembali melangkah ke ruang praktik psikiater, nyaliku telah menciut habis. Aku terlalu takut membayangkan jika suatu hari nanti dokter membeberkan diagnosis resmi atas kerusakan jiwaku, aku tidak akan pernah sanggup menanggung beban kenyataan tersebut.

Tepat saat pusaran ketakutan itu kian melambung tinggi di dalam kepalaku, sebuah suara ketukan beruntun tiba-tiba membentur permukaan daun pintu apartemenku dari arah koridor luar.

Gerak tanganku yang memegang remote televisi membeku seketika di udara.

Dada rasanya tersentak kencang saat telingaku menangkap nada suara seorang perempuan muda yang teramat kukenal dari balik pintu. "Eonnie," panggil Yeon dari luar.

Suara ketukan tangan Yeon kembali terdengar beberapa kali, disusul oleh suara desiran halus dari jemari gadis itu yang sedang berusaha menekan tombol-tombol panel smart door lock di samping gagang pintu.

Sebuah getaran penolakan digital yang halus terdengar membentur dinding koridor, menandakan bahwa kombinasi angka yang dimasukkan oleh Yeon tidak lagi cocok.

Semenjak sepasang kakiku menjejakkan lantai officetel ini pada pukul dua belas malam, didorong oleh gejolak rasa malu dan keinginan kuat untuk mengisolasi diriku dari dunia luar, hal pertama yang kulakukan adalah mereset dan mengganti seluruh kombinasi angka sandi pada smart door lock apartemenku.

Aku menarik selimut tebal hingga menutupi sebatas daguku, membisu rapat di atas kasur sembari mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir gadis di luar sana.

"Eonnie, aku tahu Eonnie kecewa sama Oppa," tutur Yeon dengan nada suara yang bergetar lembut dan sarat akan bujukan tulus. "Tapi kita bicarakan baik-baik, oke?"

Keheningan sempat mengendap selama lebih dari satu menit. Aku menahan helaan napasku di bawah selimut, bersikukuh mempertahankan pendirianku untuk tidak beranjak satu inci pun menuju pintu depan.

"Eonnie, kalau Eonnie lapar, Yeon sudah bawakan makanan, dan Yeon letakkan di depan pintu," sambung Yeon kembali, suaranya mengalun sangat tenang dan penuh pengertian. "Kalau Eonnie sudah lebih tenang, hubungi Yeon, ya? Enggak apa-apa kalau Eonnie masih merasa kecewa. Tapi Yeon yakin, Eonnie cuma butuh waktu untuk sendiri."

Derap langkah kaki berselubung sepatu kets di luar koridor perlahan memudar, bergerak kian menjauh menuju arah lift gedung.

Hanya berselang beberapa detik setelah keheningan kembali menyelimuti lorong, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalku bergetar pendek.

Aku menyibak selimut, meraih ponsel tersebut dan membuka panel layarnya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak Yeon di aplikasi KakaoTalk terpampang nyata.

Yeon mengirimkan selembar foto, sebuah kantong belanjaan kain berukuran besar yang bertengger rapi di atas lantai ubin persis di depan daun pintu kamarku, berisikan tumpukan bahan makanan segar, roti, dan kotak-kotak bekal.

Melihat foto kiriman gadis muda itu, kerongkonganku mendadak terasa tercekat haru.

Bahkan di tengah kekacauan dan kepanikannya mencari keberadaanku, ia menyempatkan diri mengkhawatirkan isi perutku. Di dalam benakku, aku sangat paham mengapa Yeon bertindak sejauh ini. Yeon takut jika aku kembali tenggelam dalam lubang depresi yang membekukan hariku seperti saat pertama kali kami saling mengenal.

Lihat selengkapnya