Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #18

Bab 17. Angin Pesisir Aewol

Ternyata benar Seojun melakukan hal sama seperti Yeon. Mengetuk pintu, menekan nomor pin lama pada tombol smart door, dan memberikan beberapa makanan berat untukku yang ditinggalkan di depan pintu apartemen setelah gagal membuka pintu dengan kata sandi yang salah. Aku memang sedang memberi jeda pada diri sendiri, mencoba memahami diri sendiri dan mencoba untuk membenarkan bahwa ada sesuatu yang salah dari diriku. Namun, aku tidak bisa mendiamkan Seojun atau Yeon terlalu lama. Kemarin, pada pukul empat sore, setelah membeli tiket penerbangan menuju Pulau Jeju, aku memberi tahu Seojun dan Yeon bahwa aku ingin lebih memahami diri sendiri dengan kesendirian di Pulau Jeju dan aku akan berada di sana selama empat hari. Yeon menawarkan diri untuk menjemputku begitu aku kembali ke Seoul, dan aku hanya sanggup mengiakan karena ada sesuatu yang harus diluruskan.

Dan saat ini sudah pukul empat sore, hari kedua di Jeju. Aku sedang menikmati angin pantai yang berdesir di balkon kamar hotel di wilayah Aewolhaean-ro. Hotel ini tidak mewah, hanya diisi ranjang yang muat satu orang dan satu lemari serta satu meja makan. Aku juga tidak membawa banyak barang. Hanya satu koper kecil yang memuat beberapa baju untuk dua hari ke depan. Di atas balkon, terdapat satu meja bundar berbahan dasar kaca. Di atasnya ada laptop yang menyala, menampilkan sebuah website bertuliskan Halo Dokter! yang berisi percakapan antara aku dan nama Dokter: dr. Satrio Aji, Sp. KJ.

Di dalam percakapan itu, kurang lebih aku menceritakan segala hal tentang diriku, tentang pengamatan Seojun, tentang fase naik-turun dan semuanya yang diucapkan Seojun seperti pola yang sama, pola yang ditakuti oleh Seojun semenjak pacarnya meninggal, dan ketakutan Seojun yang selama ini menjadi mimpi buruk Seojun terhadap diriku.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan balkon yang hanya diisi oleh deru ombak kejauhan, layar laptop itu berkedip tipis menandakan balasan pesan baru telah masuk. Aku mendekatkan pandangan, membaca untaian kalimat yang diketik oleh Dokter Satrio Aji, Sp. KJ:

 

"Dari apa yang Anda ceritakan, saya melihat pola perubahan suasana hati yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Ada kemungkinan kondisi Anda berada dalam spektrum bipolar, tetapi saya belum bisa menetapkan diagnosis hanya dari satu konsultasi daring."

 

Membaca jawaban dari Dokter Satrio membuatku menghela napas panjang. Apa yang aku harapkan dari konsultasi daring itu? Keterbatasan dalam berkomunikasi dan tidak bisa membaca mimik wajah secara langsung membuatku berdecak tidak puas. Namun, secara garis besar, aku mulai memahami bahwa ada sesuatu dalam diriku yang selama ini tidak pernah benar-benar kupahami.

Lihat selengkapnya