Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #19

Bab 18. Ikhlas Adalah Pelajaran Seumur Hidup

Pendar cahaya matahari pagi memantul tajam di atas pelataran beton Terminal 2 Bandara Internasional Incheon. Aku melangkah keluar dari balik pintu geser area kedatangan, menarik gagang koper beroda perakku dengan ritme yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Empat hari menyendiri di pesisir Pulau Jeju telah meredakan badai kognitif di dalam kepalaku, menyisakan ruang batin yang lapang untuk menerima kenyataan tanpa harus merasa terburu-buru.

Di tengah lautan penjemput yang berdiri berbaris di balik pagar pembatas, sepasang mata Yeon menangkap sosokku.

Ia melambaikan selembar kertas buffalo berukuran besar ke udara. Di atas kertas putih tersebut, tertulis deretan huruf tebal menggunakan spidol hitam: Viona Mamahit.

Seketika itu pula, sudut bibirku terbit dalam senyuman tulus yang paling ringan. Aku mempercepat langkahku, membiarkan koper berodaku menggelinding mulus di atas ubin lantai terminal hingga jarak di antara kami terkikis habis. Begitu aku tiba di hadapannya, kertas buffalo itu melayang jatuh ke lantai, disusul oleh tubuh Yeon yang menerjang maju dan mendekapku erat-erat.

Pelukan itu begitu hangat, tulus, dan menenangkan. Di dalam dekapannya, sebuah kesadaran batin berbisik lembut di dalam dadaku: aku benar-benar telah pulang. Seluruh benteng pertahanan untuk berpura-pura baik-baik saja di hadapan orang lain runtuh seketika di pelukan dalam pelukan Yeon; seseorang yang selama ini diam-diam memperhatikan kerapuhanku tanpa pernah menuntut penjelasan berlebihan.

Begitu kami melonggarkan pelukan, aku menatap paras ayunya dengan binar mata yang jernih. "Di mana Oppa-mu?" tanyaku tanpa basa-basi.

Yeon tersenyum tipis, mengusap bahuku perlahan dengan kehangatan yang menenangkan. "Oppa sedang on duty, Eonnie. Semalam Oppa berangkat ke Amsterdam."

Ada keheningan singkat yang menyelinap di antara kami. Yeon menatapku dari jarak dekat, memperhatikan setiap inci raut wajahku dengan tatapan penuh kehati-hatian. "Eonnie... Eonnie oke?" tanyanya lembut, memastikan apakah pelarianku ke Jeju benar-benar membuahkan hasil pemulihan.

Aku mengangguk mantap, menggenggam telapak tangan Yeon dengan kehangatan yang meyakinkan. "Oke, kok," jawabku ringan.

Kami berdua lantas melangkah berdampingan meninggalkan area lobi menuju lantai dasar tempat kendaraan terparkir. Setibanya di dekat SUV hitam milik Seojun, Yeon membantu membukakan pintu bagasi, mengangkat koper perakku, dan meletakkannya dengan presisi di dalam ruang penyimpanan belakang. Setelah itu, kami memutar langkah menuju pintu kabin. Yeon mengambil alih kursi pengemudi, sementara aku mendudukkan diri di kursi penumpang depan.

Mesin SUV mewah itu menderu halus, meluncur meninggalkan pelataran Bandara Incheon menuju jalur bebas hambatan menuju kawasan Hapjeong.

Di dalam kabin, alunan musik pop dari Alec Benjamin mengalir lembut memenuhi ruangan melalui pengeras suara mobil. Yeon mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas lingkar kemudi mengikuti ketukan ritme lagu, bersenandung pelan karena ia menghafal di luar kepala setiap lirik dari tembang penyanyi tersebut.

Aku memandang ke luar jendela, mengamati bentangan lanskap jalan raya Korea di pagi hari. Rute perjalanan dari bandara menuju Hapjeong membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit dalam arus lalu lintas yang tertib. Di tengah alunan musik yang menenangkan itu, sebuah pertanyaan yang telah lama mengendap di dalam relung memoriku mendadak mendesak untuk dikeluarkan.

"Yeon, boleh aku tahu di mana orangtua kalian?" tanyaku memecah sunyi.

Bukan maksudku untuk bersikap lancang atau membuka kembali bilur luka masa lalu. Namun, semenjak aku mengenal Seojun lebih dekat, pria itu kerap menceritakan banyak hal tentang hidupnya—termasuk kisah mantan kekasihnya—tetapi ia tidak pernah sekalipun menyinggung figur ayah dan ibunya.

Yeon yang semula bersenandung langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas menatapku, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada jalan raya di depan. "Oh, Oppa belum pernah ngasih tahu, ya, Eonnie?" Suara gadis itu tidak menyiratkan ketersinggungan sama sekali; justru seulas senyum tipis tersimpul di bibirnya.

Aku menggeleng pelan. "Belum. Aku juga enggak enak mau nanya-nanya soal keluarga kalian. Takut Oppa-mu enggak nyaman."

"Tanya aja, Eonnie. Enggak apa-apa," jawab Yeon santai. "Oppa sudah berdamai dengan semuanya, kok."

Lihat selengkapnya