Pendar cahaya matahari memantul lembut di atas hamparan aspal kawasan Wongok-dong, Danwon-gu, Ansan. Suhu udara sore itu merambat dalam kehangatan yang pas, membawa embusan angin musim semi yang bergesekan dengan papan-papan nama toko multikultural di sepanjang jalur 4 Damunhwa-gil. Di dalam rongga dadaku, detak jantung berayun dalam ketukan yang stabil dan jinak.
Langkah kakiku membimbingku masuk melewati ambang pintu kaca Indonesian Mart.
Aroma pekat rempah nusantara langsung menyergap indra penciumanku tanpa ampun. Bau harum ketumbar sangrai, kemiri giling, bawang goreng yang renyah, dan deretan kemasan mi instan berjejer rapi di atas rak-rak, menciptakan sebuah lorong nostalgia yang mendadak menarik kesadaranku; meskipun jauh-jauh dari Indonesia, ternyata lidahku rindu juga dengan semua rempahnya.
Ruang perbelanjaan itu tampak begitu hidup dan berdenyut riuh. Tidak hanya para pekerja migran asal Indonesia yang memenuhi lorong-lorong toko untuk memborong stok logistik mingguan mereka, tetapi juga warga lokal Korea yang tampak antusias menjejalkan puluhan bungkus bumbu instan dan kemasan kerupuk ke dalam troli belanja mereka hingga membentuk tumpukan yang tinggi. Sesekali, staf toko menyahut sapaan pembeli menggunakan bahasa Korea yang sangat fasih, menciptakan harmoni kultural yang unik di sudut kota Ansan ini.
Aku merogoh saku mantelku, mengeluarkan ponsel, dan menatap layar yang menampilkan catatan memo belanjaan.
Aku menggenggam pegangan keranjang belanja, menyusuri rak demi rak dengan teliti tanpa tergesa-gesa. Aku menakar setiap pengeluaranku dengan cermat, mengingat bagaimana aku sempat menghamburkan uang di butik-butik mewah Tokyo beberapa waktu lalu. Otakku sedang tidak memberikan perintah liar untuk memborong hal-hal di luar kebutuhan; hari ini, aku memegang kendali penuh atas setiap lembar won yang keluar.
Barang demi barang mulai berpindah ke dalam keranjang: beberapa bungkus mi instan varian kuah, aneka bumbu dasar masakan, hingga camilan khas nusantara yang selama ini kurindukan.
Namun, tepat saat aku hendak menjangkau rak bumbu rendang di sudut lorong ketiga, ponsel di dalam genggamanku bergetar pendek.
Angka digital di sudut layar menunjukkan pukul lima belas lewat tiga puluh menit siang. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak bernama Kavian Mamahit terpampang nyata di panel layar terkunci.
Jemariku menggeser panel notifikasi untuk membaca isi pesannya:
Kavian Mamahit: So nda lama kita mo kaweng, jo. Ngana nda mo pulang cepat-cepat ka Solo?
Untuk sepersekian detik, kakiku mematung di atas lantai keramik toko.
Menikah? Kavian baru saja mengabarkan rencana pernikahan itu secara mendadak. Selama prosesi lamaran yang dilangsungkan minggu-minggu kemarin, sepupu laki-lakiku itu belum pernah menyinggung tanggal pasti perhelatannya. Kabar itu datang bagai gelombang kejut yang menghempas permukaan ketenanganku.
Jemariku bergerak lincah menyusun balasan di atas papan ketik virtual:
Viona Mamahit: Masih bulan Mei, jo. Cuti kita sampe bulan November. Tapi sebenarnya, kita so mulai kerasan di Korea. Kapan ngana mo kaweng? Oom Nico deng Tante Laras so oke?
Tidak butuh waktu lama bagi Kavian untuk membalas pesannya:
Kavian Mamahit: Oke. Rencananya akhir bulan Juni. Beneran nda bisa pulang ke Solo biar cuma sebentar?
Aku mendengus pelan, menggelengkan kepala tipis sembari mengetik balasan berikutnya:
Viona Mamahit: Ya nda lah. Sayang kita pe cuti. Kalo kita pulang ke Solo cepat-cepat, yang ada Mister Park deng anak-anak kantor so ba pikir kalo kita so sembuh, padahal belum. Dalam waktu dekat, abis Seojun pulang dari Amsterdam, kita mo pigi ke psikiater. Lanjut terapi di sini.
Tangan kananku mulai merasakan kebas akibat terlalu lama mencengkeram pegangan keranjang belanjaan yang kian berat. Aku memindahkan alih genggaman keranjang ke tangan kiri, sementara ponsel yang semula kupegang kini berpindah ke tangan kanan.
Memo di layar ponselku menunjukkan masih ada lima barang terakhir yang belum masuk ke dalam keranjang: kerupuk rengginang, bumbu rendang, kopi Good Day, Janjoss kentang pedas, dan BonCabe level lima puluh. Dengan langkah yang lebih ringan, aku menyusuri lorong bagian dalam. Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh sisa barang tersebut berhasil kutemukan di rak yang saling berdekatan.
Aku melirik tumpukan barang di dalam keranjang, lalu mencentang seluruh daftar di memo ponselku. Sempurna. Semua kebutuhan logistik untuk beberapa pekan ke depan telah aman.
Aku melangkah menuju area kasir. Antrean di depan meja kasir tampak cukup lengang, hanya menyisakan lima orang pembeli. Sambil menunggu giliran, aku kembali menunduk menatap layar ponsel. Kavian ternyata sedang mengetik balasan baru.
Kavian Mamahit: Lanjut terapi ulang? Ada masalah kah selama di Korea? Pulang jo. Semua keluarga di sini so cemas. Ngana sendirian di sana, deng Seojun itu orang yang baru ngana kenal. Jadi, jangan percaya orang asing sampe sepenuhnya. Kalo memang ngana mo berhenti kerja, berhenti jo, terus mulai terapi lagi di Solo.
Dadaku berdesir membaca rentetan peringatan dari sepupuku itu. Kavian tidak tahu apa-apa tentang bagaimana Seojun menyelamatkanku dari Jembatan Mapo, atau bagaimana kehangatan keluarga Han merawat kewarasanku di tanah asing ini. Bagi keluarga di Solo, setiap orang asing adalah ancaman potensial yang harus diwaspadai. Namun, aku bisa apa selain memaklumi? Mau bagaimanapun juga, mereka yang aku punya saat ini.