Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #21

Bab 20. Kita yang Belum Bernama

Aku berdiri di depan cermin kecil di area vestibula, merapikan letak kerah jaket windbreaker berwarna lavender lembut yang membalut tubuhku. Di dalam rongga dadaku, detak jantung berayun dalam irama yang tidak beraturan. Bukan karena terjebak dalam pusaran yang meluap-luap, melainkan akibat beban gengsi dan rasa bersalah yang sejak dua hari lalu menindih rongga rusukku. Dua hari telah berlalu semenjak Seojun menjejakkan kakinya kembali di Seoul usai menuntaskan tugas penerbangan jarak jauh dari Amsterdam. Selama empat puluh delapan jam itu, aku memilih berdiam diri di dalam apartemen, menakar setiap sisa ketakutanku, hingga akhirnya aku menyadari satu hal yang paling jujur: aku tidak punya alasan apa pun untuk terus bersembunyi di balik benteng pertahanan yang kubuat sendiri.

Gengsi untuk meminta maaf memang sempat merajai kepalaku. Namun, aku tidak bisa berkilah dan terus-menerus lari dari kenyataan. Aku tidak akan bersembunyi di balik topeng kebahagiaan semu yang digerakkan oleh dorongan energi tak terkendali. Aku harus mengakui segala kecerobohanku, terutama keputusan impulsifku meninggalkan Seojun begitu saja di kafe Narita beberapa pekan lalu.

Aku memutar kunci apartemen, melangkah keluar meninggalkan keheningan ruangan, lalu menuruni tangga dan menyusuri koridor jalanan Dongmak-ro 8-gil menuju Silhouette Coffee.

Jarak tempuh selama tujuh menit berjalan kaki di bawah naungan angin senja musim semi terasa begitu hidup. Suhu udara berkisar sembilan belas derajat Celsius, menyapa kulit wajahku dalam kehangatan yang pas. Para pejalan kaki lalu-lalang dalam ritme yang teratur, sementara pendar lampu dari kedai-kedai komersial mulai menyala satu persatu di sepanjang sisi jalan.

Setibanya di depan pintu kaca Silhouette Coffee, aku mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.

Aroma harum biji kopi panggang dan mentega segar langsung menyergap penciumanku. Di dalam ruangan itu, suasana tampak cukup padat oleh pengunjung sore hari. Pandanganku menyapu sudut-sudut ruangan, lalu menangkap Seojun yang sedang berdiri mengantre di depan meja kasir. Ia tampak begitu matang dan dewasa; ia mengenakan mantel panjang berwarna charcoal di atas kemeja rajut hitam berkerah tinggi, dengan rambut hitam tebalnya yang tertata rapi dengan kacamata berbingkai tipis, menampilkan sorot mata sipit yang tampak jauh lebih tajam dan menenangkan.

Seojun belum menyadari kehadiranku yang berdiri di belakangnya. Aku memilih bergeming sejenak, mengamati punggung bidangnya yang terbalut mantel rapi dalam riuh pengunjung kafe. Hingga antrean di depan kasir menyusut dan Seojun mulai menyelesaikan pembayaran pesanannya, aku mengangkat tangan kananku, menyentuh bahu kanan pria itu pelan.

"Udah ngantri lama?" tanyaku pelan.

Seojun sedikit terperanjat oleh kehadiran yang mendadak itu. Pria berpostur tegap tersebut memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke belakang. Sepasang matanya menatapku lekat-lekat, lalu seulas senyum tipis terbit di bibirnya.

"Oh, enggak," sahut Seojun, suara baritonnya mengalun rendah dan hangat. "Mungkin baru lima menitan. Kamu kapan sampai?"

"Barusan sampai," balasku canggung.

Pandanganku mengitari sekeliling meja-meja di dalam ruangan. Seluruh kursi di bagian depan meja bar dan sudut ruangan tampak terisi penuh oleh gelak tawa para pengunjung muda. Jelas kami tidak akan mendapatkan tempat di dalam. Namun, saat mataku melirik ke arah luar melalui dinding kaca transparan, aku melihat sebuah meja bundar kecil di area outdoor yang dilengkapi dua buah kursi saling berhadapan.

"Kita duduk di luar saja," usulku, memutar tubuh lebih dulu meninggalkan area kasir.

Sebelum menyusulku keluar, Seojun sempat berpesan kepada staf kasir agar pesanan mereka diantar ke meja luar. Pria itu kemudian melangkah menyusulku, menarik kursi outdoor yang berhadapan langsung denganku, lalu mendudukkan diri.

Kami duduk berhadap-hadapan dalam keheningan yang mendadak terasa pekat.

Atmosfer senja membungkus meja bundar kami dalam naungan angin yang berdesir halus. Baik aku maupun Seojun sama-sama terdiam, saling melempar tatapan dalam durasi yang cukup lama. Aku tahu persis apa yang seharusnya kuucapkan; sebuah sapaan formal tentang kabar penerbangannya ke Amsterdam atau ucapan selamat datang kembali di Seoul. Namun, kepingan kalimat itu tertahan di pangkal tenggorokanku, terhalang oleh rasa bersalah yang teramat pekat.

Seojun rupanya menyadari kecanggungan yang membelenggu di antara kami. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menautkan jemari tangannya di atas permukaan meja, sebuah gestur khas yang sangat kuhafal di luar kepala.

"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Seojun lembut, menatap lurus ke dalam manik mataku. "Harus ada jeda, ya, buat enggak ketemu aku langsung?"

Pertanyaan lurus itu meluncur tanpa nada menghakimi, namun justru karena itulah pertahanan batinku langsung goyah.

Aku menundukkan pandangannya sejenak, meresapi embusan angin senja yang menyentuh kulit lenganku. "Hampa," bisikku lirih. Aku mengangkat wajahku, menatap Seojun dengan pengulangan kata yang menegaskan seluruh isi batinku. "Perasaanku hampa, Seojun. Aku enggak sedih, juga enggak bahagia. Lebih ke mempertanyakan ini semua. Kenapa aku terlambat menyadari bahwa ada yang enggak beres dalam diri aku?"

Sebelum Seojun sempat memberikan tanggapan atas kalimatku, seorang pelayan kafe datang membawakan nampan pesanan. Pelayan itu menata secangkir hot americano hitam untuk Seojun, segelas iced vanilla latte dingin dengan pendar susu yang cantik untukku, serta sepotong kue tiramisu lembut berbalut taburan cokelat bubuk khusus untukku di atas meja bundar putih.

Begitu pelayan itu membungkuk sopan dan berlalu pergi, aku menatap hidangan manis di depanku, lalu mengalihkan pandanganku pada Seojun.

"Seojun," panggilku pelan seraya mengulum bibir bawah, membasahi bibirku yang kering. "Maaf kalau kapan hari aku pulang ke Korea sendiri tanpa kamu. Maaf juga kalau aku sempat marah ketika kamu bahas mantanmu yang menurut kamu punya gejala sama seperti aku. Aku baru sadar, aku enggak punya kuasa apa pun karena kita enggak punya hubungan apa-apa. Jadi aku enggak berhak marah ketika kamu bahas masa lalumu."

Mendengar pengakuan jujur dan telak yang meluncur dari bibirku itu, sepasang mata Seojun membelalak lebar. Pria itu menatapku tidak habis pikir. Dalam satu tarikan napas, aku telah menumpahkan seluruh uneg-uneg yang selama berhari-hari mengendap di dasar dadaku, termasuk menyenggol status hubungan kami yang abu-abu.

Seojun menyesap sedikit hot americano-nya yang pahit, lalu mengunci tatapannya pada kedua mataku.

"Apa yang kamu lakuin selama aku di Amsterdam dan selama kamu di Pulau Jeju?" tanya Seojun, nadanya sedikit menyengat tajam namun tetap terkontrol. "Kamu mencoba mencari tahu atau masih tidak melakukan apa-apa?"

Mendengar pertanyaan bernada interogasi itu, dadaku berdesir panas. Namun aku berusaha menahan diri untuk tidak meledak marah. Aku sangat menyadari bahwa tindakanku meninggalkan Seojun begitu saja di kafe Narita bukanlah hal yang patut dibenarkan, dan wajar jika pria di hadapanku ini menyimpan kekecewaan.

Lihat selengkapnya