Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #22

Bab 21. Berdiri di Atas Reruntuhanku Sendiri.

Di dalam ruang tunggu Mirae Mental Health Clinic yang terletak di kawasan Gangnam, Seoul, suasana terasa begitu berwarna. Klinik kesehatan jiwa milik Dokter Kim itu jauh dari kesan kaku rumah sakit pada umumnya. Desain interiornya memancarkan estetika modern yang hangat; dominasi warna hijau muda yang segar berpadu selaras dengan meja-meja administrasi berbalut warna putih bersih. Di beberapa sudut ruangan, tersedia fasilitas air minum steril, mesin penjual otomatis yang menjajakan jus segar, serta stasiun pengisian daya ponsel bagi para pengunjung.

Meskipun ada beberapa anak kecil hiperaktif yang berlarian kecil di dekat sudut bermain, disusul tangisan rewel sesaat yang segera ditenangkan oleh orangtua mereka, suasana itu sama sekali tidak memecah konsentrasi batinku.

Jemari kakiku tanpa sadar bergerak mengetuk-ngetuk lantai ubin klinik. Aku memegang selembar tiket antrean bernomor sepuluh di dalam genggaman tangan kananku. Papan digital di atas meja administrasi baru saja berkedip, menunjukkan bahwa antrean kini telah bergeser ke nomor delapan.

Semakin dekat angka itu bergerak menuju nomor sepuluh, semakin kencang pula debar jantungku menghantam dinding rongga dadaku. Napasku mulai memburu pendek-pendek.

Bagaimana kalau aku harus minum obat seumur hidup?

Seojun, yang duduk bersisihan di kursi tunggu berbalut kain abu-abu terang, menangkap gelagat gelisah di tubuhku. Ia memiringkan tubuhnya, menyentuh pelan paha kananku dengan telapak tangannya yang hangat.

"Kenapa?" tanya Seojun lirih, suaranya bariton dan menenangkan.

Aku menatap manik mata Seojun yang menelisik wajah tegangku, lalu mengangkat secarik kertas antrean di tanganku. "Nomor delapan, Seojun. Sebentar lagi giliran kita. Gimana kalau aku harus minum obat psikiatri seumur hidup?"

Seojun tersenyum kecil. Garis wajah pria itu tampak begitu tenang, memancarkan kedewasaan mutlak yang meredakan badai di kepalaku.

"Masalahnya di mana, Vio?" tanya Seojun lembut. "Kalau obat-obatan itu bisa bikin kamu hidup lebih lama, kenapa Enggak? Minum obat psikiatri enggak menakutkan, kok. Percaya sama aku."

Aku menundukkan pandanganku sejenak, menggigit bibir bawahku. "Aku cuma takut sama stigma orang-orang."

"Orang-orang siapa yang kamu maksud?" kejar Seojun, nadanya berubah sedikit tegas namun tetap melindungi. "Bilang ke aku, aku akan bikin mereka diam dan berhenti menghakimi kamu."

Pikiranku seketika melayang melintasi ribuan kilometer garis khatulistiwa, mendarat di tanah kelahiranku di Solo. Aku teringat pada tetangga-tetangga yang mulutnya lamis, yang hobi mengadu nasib atau menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan gosip sore hari. Bukan cuma mereka, sih. Aku teringat pada beberapa anggota keluarga besar Mamahit yang kerap menghakimiku setiap kali mendengar riwayat kunjunganku ke psikiater, mereka menyuruhku untuk sekadar mendekatkan diri pada Tuhan seolah-olah gangguan mental adalah akibat dari kurangnya keimanan.

Padahal, di tengah kesibukan kantorku, aku selalu berusaha menunaikan ibadahku. Namun kepergian Papa membuat benteng pertahananku runtuh, dan aku memilih membuang seluruh resep obat dari Dokter Krisna karena aku lebih memilih mendengarkan penghakiman keji dari orang-orang sekitar ketimbang menyelamatkan kewarasanku sendiri.

"Kamu enggak kenal mereka, Seojun," bisikku getir.

Seojun terkekeh kecil, menggelengkan kepala tipis. "Memang aku enggak kenal mereka, tapi aku bisa kenal mereka. Aku cuma belum ada waktu aja buat ke Indonesia."

Aku ikut terkekeh hampa mendengar jawaban percaya diri itu. "Terus kenapa kalau kamu udah punya waktu lalu ke Indonesia?"

"Ya aku bakalan koar-koar kalau kamu adalah perempuan hebat karena memilih Korea untuk healing," jawab Seojun tanpa keraguan sedikit pun. "Memangnya hiburan mereka apa waktu lagi penat atau kena masalah? Mereka memangnya bisa pergi ke luar negeri demi mencari pelarian? Kamu enggak membalas mereka dengan ucapan yang sama menyakitkan aja kamu udah menang, Vio."

Perkataan Seojun mendarat bagai siraman air sejuk di tengah padang pasir. Rona hangat menyembul di kedua belah pipiku. Tanpa kusadari, ketukan gelisah di kakiku berhenti sepenuhnya. Rasa cemas yang semula mencekik leherku meluruh berganti ketenangan yang manis.

Kalau dipikir-pikir, Seojun ada benarnya. Semua orang yang menghardikku tidak akan pernah memiliki ketangguhan mental sepertiku.

Aku mengembuskan napas pendek. Tatapanku beralih menatap papan nomor antrean yang kini berkedip menampilkan angka sembilan, menandakan seorang remaja laki-laki berusia belasan tahun baru saja dipanggil masuk ke dalam ruang periksa Dokter Kim.

Kecemasanku menguap. Aku telah sampai di titik penerimaan bahwa tidak apa-apa jika aku memang membutuhkan bantuan medis.

Seojun, yang menangkap perubahan drastis pada ketenangan di wajahku, mencondongkan tubuhnya mendekat. "Setelah ini mau makan apa?"

Aku menatap kosong ke arah pintu ruang periksa berbalut dengan warna terang yang bertuliskan nama lengkap Dokter Kim di atas papan plat kuningan. Di luar dugaan, pikiranku melayang kembali pada hari-hari kuliner kami di Jepang beberapa pekan lalu.

Aku menelengkan kepalaku menatap Seojun. "Aku pengin makan ramen."

Senyum Seojun seketika terkembang lebar. "Kamu cewek langka, Vio."

Aku memundurkan kepalaku sedikit dengan alis terangkat sebelah, bingung. "Langka gimana maksudnya?"

"Iya, langka," jawab Seojun dengan mata berbinar jenaka. "Kamu enggak ngomong terserah setiap kali aku tanya mau makan apa. Kamu selalu punya jawaban yang paten, itulah kenapa aku enggak pernah ngerasa bingung ketika melimpahkan semua keputusan di tangan kamu."

Aku tertawa renyah. Rupanya pria di hadapanku ini lupa bahwa aku pernah mengalami fase ragu yang parah. "Kamu lupa, ya, aku pernah ngerasa sulit buat pergi ke psikiater?”

Lihat selengkapnya