Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #23

Bab 22. Aku Sudah Selesai dengan Diriku Sendiri

Kelopak mataku bergetar perlahan, terbuka selebar celah tipis di bawah naungan cahaya yang merayap malas melalui celah tirai jendela.

Aku menggeliat pelan di atas permukaan ranjang. Punggungku terasa begitu berat, seolah-olah seluruh persendian di dalam tubuhku baru saja ditarik dan direkatkan kembali dalam tingkat relaksasi yang paling maksimal.

Aku meraih ponsel di atas nakas, menyalakan layar kacanya, lalu mengerjap beberapa kali saat membaca deretan angka digital yang tertera di sana: pukul tiga sore.

Kepalaku tidak langsung berhitung. Namun, ketika kesadaranku mulai tersusun utuh, sebuah fakta telak menohok benakku: aku telah tertidur selama tujuh belas jam nonstop.

Dosis awal obat penstabil suasana hati dan pengantar tidur yang diresepkan oleh Dokter Kim kemarin benar-benar bekerja menghantam sistem sarafku tanpa ampun. Seojun tidak berusaha membangunkanku sepanjang malam hingga siang berganti.

Sensasi asing yang menyergap batinku saat ini bukanlah kecemasan yang berpacu kencang atau desiran yang membakar pembuluh darah. Melainkan sebuah keheningan yang teramat pekat dan menenangkan.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, ruang di dalam kepalaku terasa begitu lowong dan senyap. Tidak ada suara-suara bising yang saling bersahutan. Tidak ada bayang-bayang mimpi buruk tentang perlintasan kereta api atau teriakan di ruang tamu Solo. Yang tersisa hanyalah jejak kantuk yang masih bergelayut malas di kelopak mataku, serta sensasi lemas di sekujur tubuh, sebuah tanda bahwa raga ini akhirnya diizinkan untuk beristirahat total dari beban yang bertengger di atas dua bahuku selama bertahun-tahun.

Aku membuang pandangan ke sekeliling ruangan.

Apartemen mungilku tampak jauh lebih bersih dan tertata rapi dibandingkan semalam. Tumpukan kertas di meja kerja tersusun lurus, cangkir-cangkir kotor telah lenyap dari wastafel, dan kantong-kantong belanjaan terlipat rapi di sudut ruangan. Aku sangat tahu siapa satu-satunya orang yang dengan telaten merapikan kekacauan kecil itu tanpa mengeluh sedikit pun.

Seojun memahami betul efek samping dari rangkaian pengobatan awal tersebut. Ia sempat menceritakan bagaimana mendiang Bo-ra di masa lalu sempat mengalami kelelahan ekstrem dan kebas fisik ketika tubuhnya beradaptasi dengan dosis penstabil suasana hati, bahkan Bo-ra sempat melakukan kesalahan fatal dengan menghentikannya secara sepihak, yang berujung pada ledakan emosi tak terkendali. Namun Seojun memastikan hal itu tidak akan terjadi padaku. Ia memberikan kebebasan mutlak bagiku untuk tidur selama belasan jam tanpa perlu memikirkan tugas domestik apa pun.

Aku menghela napas panjang, meresapi kehangatan yang mengalir di dasar dadaku.

Aku mengangkat tangan kananku, mengikat rambut panjangku menggunakan karet rambut elastis yang melingkar di pergelangan tangan. Meskipun rasa kantuk masih menggelayut berat di balik pelipisku, kebutuhan lain mendesakku untuk segera bangkit, minimal untuk buang air kecil, mencuci muka, dan menyikat gigi.

Langkah kakiku yang gontai membimbingku melewati area dapur menuju pintu kamar mandi di ujung koridor.

Namun, tepat saat aku melewati ambang pintu utama apartemen, bayangan kenangan dua hari lalu melintas begitu saja di dalam kepalaku. Aku teringat pada malam ketika aku dan Seojun baru saja pulang dari kafe dan mampir ke minimarket. Ia sempat berdiri linglung di depan pintu karena tidak tahu kombinasi angka sandi smart door yang telah kuubah.

"Apa kata sandinya?" tanya Seojun polos waktu itu.

Dan dengan senyum meledek, aku menjawab, "Hari pertama kita ketemu di Jembatan Mapo."

Seojun sempat mengerutkan dahi, mondar-mandir mencoba menebak berbagai kemungkinan tanggal, mulai dari hari ulang tahunku, hari kematian almarhum Papa, hingga hari kematian anjing kesayanganku, sebelum akhirnya ia berhasil merangkai tanggal perkenalan kami di atas jembatan beton tersebut. Sebuah kenangan sederhana yang membuktikan bahwa Seojun mencatat setiap jengkal memori penting tentang keberadaanku.

Aku tersenyum tipis meresapi kenangan itu, lalu melanjutkan langkahku masuk ke dalam bilik kamar mandi.

Aku membasuh wajahku dengan air mengalir, menggosok gigiku hingga bersih, lalu mengaplikasikan sedikit toner penyegar ke atas kulit pipiku. Sesegar apa pun basuhan air di wajahku, gravitasi rasa kantuk itu terlampau besar untuk dilawan.

Aku mengambil selembar tisu wajah, menyeka butiran air, lalu berjalan kembali melintasi dapur mungil menuju tempat tidur.

Sebelum merebahkan diri, aku menyambar ponsel digital di atas nakas yang sejak kemarin malam sengaja masuk ke dalam mode senyap. Layar kaca itu langsung menyala terang, memunculkan deretan notifikasi pesan yang masuk secara bertubi-tubi. Di antara tumpukan pesan kantor, sebuah gelembung obrolan dari kontak bernama Han Seojun terpampang nyata di bagian teratas.  

Han Seojun: Aku lagi jogging, terus mau balik ke apartemen buat ngecek Yeon dan anterin dia ke bandara karena malam ini dia harus ke Jeju. Aku bakalan balik ke apartemen kamu jam delapan malam. Aku udah pesenin kamu makanan, dan mungkin pas kamu bangun makanannya udah ada di depan pintu.  

Membaca rangkaian kalimat penuh perhatian itu, langkah kakiku secara otomatis bergeser mendekati pintu utama.

Aku membuka daun pintu apartemen selebar celah tubuhku. Dan benar saja, sebuah kantong belanjaan tebal berbalut bahan penahan panas bertengger rapi di atas lantai koridor. Aku mengangkat kantong tersebut, membawanya masuk ke dalam ruangan, lalu menutup dan mengunci pintu kembali.

Lihat selengkapnya