Sandaran Hati

Inggrida Tyas
Chapter #24

Bab 23. Abu-Abu

Dua hari berlalu sejak deru mesin pesawat yang membawa Seojun bertolak meninggalkan landasan Incheon menuju belahan bumi bagian utara. Selama empat puluh delapan jam itu pula, apartemen mungilku membungkusku dalam keheningan yang terasa jauh lebih jinak dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.

Tidak ada suara-suara bising di dalam tempurung kepalaku. Tidak ada pula gejolak euforia meluap-luap yang mendorongku melakukan hal-hal di luar nalar.

Sesuai dengan jadwal harian yang mulai tersusun rapi di bawah pengawasan klinis Mirae Mental Health Clinic, hari-hariku diisi oleh ritme yang terukur. Yeon sempat mengirim beberapa pesan singkat melalui KakaoTalk di sela-sela jam istirahat, mengabarkan bahwa gadis itu sedang tenggelam dalam konsentrasi tingkat tinggi di studio lukis kampus demi merampungkan draf pameran seni bertema psikologis yang persiapannya dikebut jauh-jauh hari.

Sore itu, ketika butir-butir cahaya matahari musim semi merosot turun di balik garis cakrawala jalanan Dongmak-ro, aku memutuskan untuk melangkah keluar dari keheningan apartemen.

Aku mengenakan mantel tipis berwarna krem di atas pakaian santaiku, lalu menyusuri trotoar jalanan Hapjeong selama tujuh menit hingga tiba di depan pintu kaca Silhouette Coffee.

Aroma harum biji kopi panggang yang disangrai segar langsung menyambut indra penciumanku begitu aku mendorong pintu kafe. Suasana di dalam ruangan bernuansa putih itu tampak cukup lengang; hanya ada beberapa pengunjung yang duduk tenang di sudut ruangan sembari menyelami halaman buku atau menatap layar laptop mereka.

Aku melangkah mendekati meja bar kasir, memesan secangkir cappuccino hangat berselimut taburan bubuk kakao tipis dan sepotong kue matcha terrine bertekstur padat lembut, lalu memilih sebuah meja bundar di area indoor yang menghadap langsung ke arah jendela kaca besar.

Sebelum pelayan mengantar pesananku, aku merogoh tas tangan kulitku dan menarik keluar sebuah buku catatan bergaris dengan sampul kulit berwarna cokelat muda, itu adalah jurnal emosi harian yang diwajibkan oleh Dokter Kim.

Aku membuka lembaran kertas putih bersih tersebut, meraih sebatang pulpen hitam, lalu mulai menuliskan butir-butir perasaan yang bersemayam di dalam dadaku hari ini.

Sekarang pukul enam malam. Suasana kepala terasa landai. Tidak ada rasa cemas yang mencengkeram dada saat berjalan sendirian di trotoar tadi. Ada rasa tenang yang lama aku inginkan, seolah-olah seluruh badai di masa lalu telah menemukan tempat peristirahatan yang sah.  

Jemariku berhenti menari di atas kertas tepat ketika seorang pelayan kafe datang membawa nampan berisi pesananku, menata secangkir cappuccino beruap tipis dan piring kecil berisi matcha terrine di atas meja.

Aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Korea yang fasih. Sembari menyesap secangkir kopi hangat yang menyalurkan kenyamanan di tenggorokan, aku melanjutkan aktivitas menulis jurnal tersebut hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam.

Tepat pada detik itu, denting pintu kaca kafe bergeser terbuka.

Dua sosok tubuh yang teramat kukenal melangkah masuk menyusuri ubin ruangan: Yeon dengan ransel kain besar di punggungnya, berjalan berdampingan dengan Rifky yang mengenakan kaus santai dengan senyum ramah tersungging di bibirnya.

Begitu menangkap keberadaanku di sudut dekat jendela, Yeon melambaikan tangan kecilnya, lalu menarik Rifky untuk melangkah menghampiri meja bundarku.

"Eonnie!" sapa Yeon riang, langsung menarik kursi di hadapanku dan mendudukkan diri, disusul oleh Rifky yang mengambil posisi duduk di sampingnya.

"Kalian baru selesai dari kampus?" tanyaku lembut, merapikan buku jurnal emosi ke dalam tas.

"Iya, Eonnie. Tadi sempat rapat sebentar sama dosen pembimbing buat pameran," jawab Yeon, melepaskan jaket rajutnya dan menyampirkannya di sandaran kursi.

Rifky yang duduk di sebelah Yeon tersenyum sopan. Ia meletakkan tas ranselnya di lantai, lalu merogoh kompartemen dalam tasnya dengan gerakan sigap.

"Oh iya, Mbak Viona," ucap Rifky membuka percakapan, meletakkan sebuah bungkusan kotak kertas berwarna kuning terang di atas meja kayu. "Getuk pisang dari Kediri, Mbak."

Aku mengerjap kaget, menatap bungkusan makanan tradisional itu dengan dahi yang bertaut tipis. "Getuk pisang?"

Rifky tersenyum maklum, membaca raut kebingungan di wajahku. "Iya, Mbak. Saya baru dapat kiriman paket dari Bunda. Kan Bunda orang asli sana, jadi setiap ada kesempatan pulang kampung, pasti beliau selalu kirim oleh-oleh."

Mendengar penjelasan itu, ingatan batinku seketika ditarik mundur melintasi ribuan kilometer menuju masa lalu.

Pikiranku melayang ke masa ketika aku masih duduk di bangku kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama. Pada liburan semester pertengahan tahun, Papa pernah mengajakku berkendara jauh dari Solo menuju Kediri semata-mata untuk menyaksikan keindahan kawah Gunung Kelud secara langsung. Di sepanjang perjalanan mendaki area perbukitan yang sejuk, Papa sempat membeli dua bungkus getuk pisang berbungkus daun pisang hijau sebagai bekal tenaga.

Kala itu, bentuk makanan berwarna merah muda kecokelatan itu tampak begitu asing dan aneh di mataku. Namun, begitu aku memberanikan diri menggigit teksturnya yang padat legit dan manis alami, lidahku langsung jatuh cinta pada rasanya.

Kini, menatap kotak kuning berisi getuk pisang di hadapanku, sensasi manis itu mendadak menguap di dalam rongga mulutku. Dan yang paling mengejutkan, bayangan tentang Papa yang melintas di kepalaku tidak lagi memicu rasa sesak atau hantaman duka yang membekukan; kenangan itu hadir menjelma sebagai sebuah memori manis yang utuh, bersih, dan terbebas dari segala ikatan ketakutan masa lalu.

Tanpa ragu, jemariku terulur merobek plastik pembungkus getuk pisang tersebut, memotong seiris kecil menggunakan pisau kue, lalu menyuapkannya ke dalam mulutku.

Aku mengabaikan piring berisi matcha terrine manis di atas meja, lalu menatap Rifky dengan binar mata yang berbinar hangat.

Lihat selengkapnya