“Kenapa bunda suka sekali melihat langit?” celetuk seorang gadis kecil, membuat yang lebih tua menoleh kearahnya dan tersenyum. Tangan yang sudah mulai keriput itu membelai surai si gadis dengan lembut, membuat gadis itu terkekeh kesenangan.
Wanita yang dipanggil bunda itu lantas kembali menatap langit cerah nan biru yang membentang luas, tak lupa hiasan awam berbagai bentuknya yang terlihat begitu mengagumkan. Ia tersenyum, lalu kembali menatap gadis yang kini tampaknya sudah mulai penasaran dengan jawabannya.
Yang lebih tua terkekeh, “langit itu tak lekang oleh waktu, Ana. Mereka menjadi saksi kamu hidup selama bertahun-tahun, begitu juga bunda. Bunda suka memandangnya karena ada banyak kenangan yang tidak bisa bunda lupakan,” tuturnya yang kian melirik di akhir.Wajah ayunya yang sudah sedikit termakan penuaan itu kini semakin tertunduk, bersamaan dengan beberapa tetes cairan bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
Ana mengerutkan keningnya, tangan mungilnya menepuk pundak sang bunda, menarik seluruh kesadaran sang wanita yang hilang entah kemana, membuat wanita itu tersentak sedikit karena terkejut.
“Bunda Utari? Bunda tidak apa-apa?” tanya Ana yang kebingungan. Utari sedikit gelagapan, dengan cepat ia hapus air mata yang masih tersisa, lalu kembali menunjukkan senyum manis yang menenangkan. Ana akhirnya bernapas lega, ia lantas duduk di sebelah sang bunda, ikut menatap langit yang cerah.