Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #1

Bab 1 Payday

"Payday!" teriak Gendis dengan suara cemprengnya.

Ungkapan itu bukanlah hal istimewa lagi, aku mengira jika dengan bekerja setidaknya aku bisa melanjutkan kuliah lagi. Meskipun harus dari semester awal. Ternyata salah! Salah besar!

Gajian ketiga dalam hidupku, aku tidak memiliki sepeserpun tabungan di rekening ataupun celengan ayam. Uang-uang itu hanya mampir sekitar dua sampai satu minggu paling lama. Setelahnya, rekeningku akan kembali kosong melompong.

Ada tagihan listrik yang harus ku bayar, jadwal beli obat Papa yang menunggu, tagihan dari pinjaman online yang sebenarnya bukan milikku. Bahkan, utang-piutang Mama pun menjadi tanggunganku.

"Jenn!" teriak Gendis lagi, ia berada di belangku dengan aroma minyak wangi yang khas.

Aku terperanjat, betul-betul kaget.

"Kaget tau," gerutuku seraya membereskan hot showcase tempat roti croissant.

"Lagian lu bengong aja, kenapa?" tanya Gendis penasaran.

"Enggak kok,"

"Bohong banget, gajian lu bulan ini gak bersisa lagi?" tanya Gendis memelankan suaranya, matanya bergulir kanan kiri.

"Biasa," ujarku singkat.

"Sabar," hiburnya mengelus pundakku.

"Kalau sabar bisa dijual, gue udah kaya raya." Aku meninggalkan Gendis untuk mengambil beberapa roti yang sudah selesai dipanggang.

Aromanya harum menusuk hidung, membuat cillia ku bergoyang. Aku menata roti-roti yang masih panas itu, begitu menggoda. Andai aku bisa mencicipinya meskipun hanya sekali seumur hidup.

"Gila lu," cetus Gendis membantuku. Ia menata di bagian atas dengan cepat.

"Ciee ... romantis banget sih," cibir Kak Eza tiba-tiba.

Ia membawa beberapa lembar kertas ditangan kanannya. Perasaanku sudah tidak enak, kalau bukan diminta untuk mensortir rokok apalagi. Hal yang paling membuatku pusing disamping memikirkan pembagian gaji.

"Hari ini jadwal Jenna Kak, aku udah kemarin," ujar Gendis seraya meninggalkan area kasir. Wajahnya meledekku, ia menjulurkan lidah sambil menggoyangkan pinggulnya yang gemoy.

Lihat selengkapnya