Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #2

Bab 2 Modus

hidup itu harus bersyukur sebelum akhirnya tersungkur.

~Jennaira cantik

Jalanan Ibukota mulai padat, kendaraan roda dua maupun empat hilir mudik tiada henti. Padahal, masih pukul tiga sore.

Aku menyusuri trotoar menuju halte Transjakarta yang berada di sepanjang jalan Gatsu. Lumayan lelah dan pegal, di tambah matahari yang masih hangat menyentuh kulit. Sudah hampir dua minggu, aku pulang pergi kerja menggunakan Transportasi umum. Sebab, motorku rusak pasca menabrak pagar milik sekolahan. Aku di rawat selama tiga hari, beruntung luka tidak parah. Mungkin, Tuhan tau jika aku begitu butuh uang. Jadi, tidak boleh sakit lama-lama.

Bagian depan hancur, rem patah, dan ada beberapa lagi yang harus di perbaiki. Kata Bastian membutuhkan waktu cukup lama.

"Jenna!" teriak seorang lelaki di belakangku. Aku menoleh, ternyata itu Kak Eza berlari kearahku ngos-ngosan.

"Ada apa Kak?" tanyaku heran menyipitkan mata karena silau.

"Kamu mau naik Transjakarta?" tanya Kak Eza dengan nafas masih terengah-engah.

"Iya," jawabku.

"Bareng ayo," ajak Kak Eza ia menarik tanganku.

"Lah, bukannya Kak Eza bawa motor?" tanyaku makin heran.

Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Tanganku masih di genggam hingga sampai di halte.

"Motornya kemana Kak?" tanyaku sekali lagi.

"Motor? Di basement mogok." Ia menempelkan kartu pada tap on gate.

"Terus besok gimana?"

"Nanti aku ajak teman buat ambil," jelasnya.

"Oh,"

Aku membuntuti lelaki dengan aroma parfume baccarat itu. Halte sudah di penuhi para pejuang nafkah yang hendak pulang. Ada yang sambil main laptop duduk di kursi besi, ada yang mendengarkan musik, ada juga yang celingukan ke kiri dan kanan tak sabar.

"Udah lama gak naik Transjakarta," celetuk Kak Eza seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

"Terakhir kapan?" tanya ku.

Lihat selengkapnya