Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #3

Bab 3 Bagai disambar petir

"Bayarnya sudah pakai aplikasi ya," ujarku seraya melepas helm yang lumayan sempit.

Driver ojol itu mengangguk sambil tersenyum, "jangan lupa bintangnya ya Kak."

"Iya," sahutku.

Aku berhenti di depan gang dekat bengkel bang Wendi. Tempat Bastian bekerja dan motorku di perbaiki. Hanya beberapa langkah berjalan dan sudah sampai.

Bau oli dan bensin, menyeruak ke hidung. Aku menutupnya dengan jari telunjuk. Tampak, Bastian tengah bersimbah oli hingga ke kening.

"Selamat sore para pejuang mekanik," goda ku pada mereka berdua yang fokus pada pekerjaan masing-masing.

"Eh Jenna, duduk!"

"Lagi banyak kerjaan ya Bang?" Mataku sedikit melirik kearah Bastian yang belum bersuara.

"Lumayan," jawab bang Wendi.

"Aku mau ambil motorku Bang, biaya perbaikan nya berapa?" tanyaku mengeluarkan dompet kuit sintetik yang aku beli di toko online.

Mimik wajah bang Wendi terlihat bingung, ia menoleh kearah Bastian yang juga menghentikan pekerjaannya. Perasaanku mulai tak enak, apakah motorku tidak bisa di perbaiki sama sekali?

"Emh ... ke dalam dulu yuk," ajak Bastian, ia mencuci tangannya terlebih dahulu di kran air.

Ruangan yang mirip kamar itu begitu berantakan. Ada banyak botol-botol minuman memabukkan yang terpampang di lantai. Kuntum rokok di dalam sebuah mangkuk kaca kecil yang tumpah. Bau apek dan pengap terasa. Juga banyak berserakan bungkus rokok berbagai merek, mulai dari yang paling mahal hingga murah.

Ada sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu. Hanya kayu yang ditumpuk rapi berjejer, tiada alas ataupun jok kursi di atas nya.

Bulu kudukku merinding sejenak, memperhatikan sesuatu yang menggeliat dari lantai yang retak. Tetapi, aku mencoba mengalihkan pandanganku darinya.

Lihat selengkapnya