Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #4

Bab 4 Surat di atas meja

Langkahku gontai menyusuri jalanan aspal menuju komplek rumah. Tampak sepi, ketika menjelang maghrib tetangga sekitar akan langsung masuk dan menutup pintu serta jendela rumah. Begitupun, yang biasa mama lakukan.

Angin bersemilir menepis hidung, suara jangkrik bersahutan cempreng hingga memenuhi telingaku. Awan bergerak melambat, di iringi langit senja yang mulai jingga. Sayup-sayup dari speaker masjid, anak-anak kecil tengah bersholawat ria. Mereka begitu fasih melantunkan pujian terhadap Nabi terakhir itu. Lambat laun berhenti dan di sambung kumandang Adzan.

Kata orang, jangan kekuar saat Maghrib, nanti ada yang ikut. Namun, isi kepala ku saat itu adalah bagaimana memberikan alasan pada mama dan papa soal motorku. Aku terlanjur memberitahu mereka bahwa saat gajian akan ku ambil. Kepala ku sakit memikirkan itu sejak tadi.

Aku mengatur nafas dan meregangkan jari tangan yang terasa dingin. Gerbang mulai terbuka perlahan menghasilkan suara yang kadang membuat telingaku sakit. Ke pulangan ku di sambut tiga anak kucing persia yang beberapa bulan lalu datang dengan sendiri nya. Aku mengelus ketiganya bergantian.

Mereka bermanja pada betis ku, menggosokkan kepala, berputar mengitari pergelangan kaki. Bahkan, berguling ke kiri dan kanan. Saat aku membuka sepatu, ketiga anabul itu langsung mengendus aroma kaos kaki. Aku tertawa menyaksikan pemandangan menggemaskan itu.

Aku meletakkan sepatuku di rak dekat pintu. Bertumpukan dengan sepatu-sepatu lama semasa aku sekolah. Juga beberapa sepatu keponakan ku Fadilla yang masih SD.

"Assalamualaikum ...." Perlahan aku membuka pintu rumah. Tampak, papa yang tengah duduk mengenakan peci, di tangannya selalu tergantung tasbih yang terbuat dari kayu sintetik kelihatannya. Mulutnya tiada henti berdzikir, ia tersenyum saat aku menampakan seluruh badanku.

"Waalaikumsalam, baru pulang?" tanya nya dengan nada lembut.

"Tadi macet," jelasku seraya mencium tangan kanannya yang terasa lemas. Urat-uratnya timbul, kulitnya pucat. Telapak tangannya kasar, ada beberapa kulit yang menebal di buku jari.

"Tumben udah pulang Jenn, biasanya kalau berangkat pagi pulang tetap malam," sindir Mama yang baru keluar dari kamar sambil bercermin membetulkan mukena yang sedang ia pakai.

"Gak di jemput Bastian ya?" tambahnya.

"Naik Transjakarta," sahutku malas.

Ia membalikkan badan, kedua alisnya mengangkat, "Bagus deh, kalau di jemput Bastian suka kelayapan enggak ingat waktu."

"Mama sudah wudhu?" sela papa.

Lihat selengkapnya