Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #5

Bab 5 Terlambat masuk kerja

Suara gaduh dari luar membuatku terperanjat. Kepala masih terasa nyut-nyutan, mata ku sepet. Tetapi, ku paksakan melek. Aku sontak kaget melihat jam dinding, dan cahaya matahari yang mulai menerobos masuk melalui gorden.

Jantungku berdetak cepat, setengah sadar segera beranjak dari tempat tidur. Aku masih mengenakan seragam kerja, yang telah kusut karena di pakai tidur. Wajahku masih ber poles makeup tipis, ada noda eyeliner hitam yang memenuhi kantung mataku. Ponsel ku mati, aku lupa mengisi daya. Segera ku sambungkan dengan kabel pengisinya, lumayan jika hanya sekitar sepuluh atau lima belas persen selama aku mandi.

Terlambaaat!

Pekik ku dalam hati, ingin menangis rasanya. Aku terbiasa bangun pukul setengah lima pagi, di bantu suara alarm yang akan terus berbunyi jika aku belum bangun. Di banding mengandalkan mama yang kelihatannya sudah tidak peduli denganku. Pasti sudah banyak pesan dan telepon masuk, buru-buru ku raih handuk yang menggantung di dinding. Tak peduli apa yang ku injak, seberapa lama aku mandi. Yang terpenting pagi itu, aku kembali segar.

Di barengi dengan suara air kran yang keras, aku menyabuni seluruh badanku sambil menyikat gigi dan cuci muka. Meskipun terlambat,nafasku harus wangi.

"Argh ... Sial!" gerutu ku lagi. Tak perlu waktu lama, segera aku keluar dan mengenakan lagi seragamku yang kedua.

Pintu lemari tiba-tiba macet, ku putar-putar kunci tipis itu dengan kesal. Sesekali menggebrak pintunya, lalu menendang. Ada bagian kayu yang terjatuh copot, aku tidak peduli. Pintu lemari ku akhirnya terbuka, ku ambil seragam polo hitam di bagian atas sekali tarik. Baju yang lain bergeser berantakan, ku biarkan saja.

Kepala ku menengok lagi jam di dinding, sudah pukul setengah delapan. Lebih terlambat dari terlambat. Toko buka pukul tujuh, prepare dari pukul setengah tujuh. Hari sial memang tidak ada di kalender, coba saja jika ponsel ku tidak mati. Ku lihat lagi kearah ponsel yang baru lima persen, makin geram rasanya. Aku mencabut nya penuh amarah dan membanting begitu saja ke dalam tas ku.

Aroma masakan terasa lezat saat aku membuka pintu kamar. Perutku berbunyi, keroncongan. Tetapi, aku sudah tidak punya waktu untuk itu. Keadaan rumah sepi, biasanya papa pagi-pagi sudah berada di depan televisi menonton acara siraman rohani dari pukul lima pagi. Namun, pagi itu aku tidak melihatnya. Televisi masih dalam keadaan mati. Aroma minyak wangi nya pun tak tercium di sofa.

"Pa ! Ma! Dilla!" teriakku seraya bergegas keluar menuju rak sepatu. Tak ada tanda-tanda nafas dari mereka.

Matahari hangat mulai menyoroti teras rumah. Aku melirik lagi ke jan tangan, pukul tujuh lewat tiga puluh sembilan menit. Astaga!

"Loh ... Kamu baru mau berangkat?" tanya mama yang muncul dari arah luar, di ikuti Fadilla dan papa yang kompak mengenakan pakaian serba hitam.

"Kalian habis dari mana? Kok gak bangunin aku?" gerutu ku seraya memakai sepatu.

"Habis melayat, ibunya bu RT meninggal tadi subuh," jelas Mama.

"Terus kenapa gak bangunin aku!" kata ku sedikit membentak.

"Biasanya kamu bangun sendiri," ujar papa mengelus punggungku.

"Hp Jenna mati," jelasku berdiri setelah selesai mengenakan sepatu, "Jenna berangkat ya, Assalamualaikum."

"Eh .. Jenn! Kak Kinan minta kamu transfer uang ke rekening sekolahnya Fadilla, nanti Mama kasih rekeningnya," jelas mama menyusul ku yang sudah ada di luar gerbang.

Lihat selengkapnya