"Americano satu, gak pake gula." Aku menyodorkan roti beef panini pada Gendis untuk dihangatkan, yang saat itu menggantikan aku di mesin kasir.
Istirahat di jam dua belas siang, membuatku betul-betul kelaparan dan menggila. Perut berbunyi sejak pagi, rasa perih dan lesu menganggu. Ingin pingsan tapi malu. Aku cukup tau diri karena terlambat datang, masa harus istirahat duluan.
"Jangan langsung minum kopi, nanti tremor," tutur Gendis seraya menghangatkan roti milikku di microwave.
"Iya," sahutku, sambil memandangi Kak Eza yang tengah membuat kopi membantu kak Imam. Sejak dari pagi dia tidak menegurku, bahkan tak terlihat senyum di bibirnya. Padahal, dengan yang lain biasa saja tertawa dan berbicara.
Memang salahku, tak ada kabar dan terlambat. Tetapi, memang siapa yang mau begitu?
"Dia ngambek sama Lu, lagian dari semalam gak bisa dihubungi," bisik Gendis memergokiku memandangi punggung Kak Eza yang kekar seperti anggota PASKIBRAKA.
"Kenapa harus ngambek?" tanyaku kesal dan kaget.
"Tau tuh, tanya Kak Yura, ujarnya. Gendis memberikan struk belanjaan padaku, ada nomor antrian kopi di bawahnya.
"Gak jelas," gerutuku beralih.
Aku tiada henti menatap layar antrian, tiga nomor lagi. Harus sabar, penggemar kopi di tempatku bekerja memang membludak. Mereka rela mengantri panjang bagai kereta demi menyeruput kopi susu gula aren yang jadi best seller. Sudah harganya murah,rasa enak bikin ketagihan. Tergantung yang membuatnya.
"F lima puluh satu!" teriak Kak Eza lantang, matanya menghadap ke depan dengan cup ukuran 14oz di tangan kanannya.
"Aku ...," sahutku mengangkat tangan.
Raut wajahnya masih sama, datar penuh amarah. Aku menunduk, tak berani menggoda ataupun mengucapkan satu kata. Ia meletakkan begitu saja di meja dekat Kak Yura. Hal yang sebenarnya tidak diperbolehkan dalam SOP. Produk harus diberikan langsung pada customer. Sangat tidak profesional!
Kak Yura menatapku nanar sambil memberikan kode, aku menggeleng ia memberikan Sandwich panini yang telah di hangatkan.
"Widih ... Sandwich makan Sandwich Jenn!" godanya mencairkan susana.
"Nyobain, kayak enak," ujarku sedikit grogi.
"Sono lu istirahat, udah kayak zombi pucet," celetuk Bang Imam dengan nada Betawi nya yang khas.
"Siap Bang," ujarku.
Pengharum ruangan begitu pekat sepanjang ruangan gedung. Aroma apel kadang sereh, dengan suara semprotan otomatis yang selalu membuatku nyaris pingsan karena kaget. Apalagi jika baru datang pagi sekali belum ada karyawan berlalu lalang. Horor dan mistis, sebab lampu-lampu belum sepenuhnya di nyalakan.
Aku memilih istirahat di halaman lobi. Ada tempat duduk yang terbuat dari keramik, dikelilingi tumbuhan hias juga kolam ikan kecil di sampingnya. Cocok untuk menikmati makan siang sambil neneng wifi. Lumayan, hemat kuota.
"Tebak siapa!" Suara itu membuatku kaget, dengan pandangan hitam legam. Ada sedikit celah yang di hasilkan ruas jari yang menutup kedua mataku. Aku bisa menebaknya, dari gaya bernafas dan aroma minyak wangi om om.
"Mas Bayu gak usah bercanda deh," gerutuku.
"Yah ketahuan," keluhnya lalu membuka kembali pandanganku, ia duduk di samping.
Ia menyalakan korek gas, menyundut rokok kesukaannya yang setara harga beras tiga kilo. Asap menyembul keluar dari mulutnya, bau apel dan mint yang menyatu.
"Lagian bersuara," cibir ku mengunyah roti.
"Makan apa sih enak banget kayaknya." Mas Bayu merebut roti yang baru saja ku gigit, kebiasaan memang.
"Ih ... Laper tau," keluhku merebut roti itu.
"Nanti aku ganti," sahutnya tak mau kalah menguatkan otot tangannya. Aku kewalahan, ku relakan roti isi itu yang tinggal setengah potong.